Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 14


__ADS_3

Setelah mengantar Aida ke kampus, Pak Ilan segera pergi di karenakan ada urusan yang jauh lebih penting.


Setibanya di dalam kelas Aida mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras dari Melan.


"Astaga. Apa yang terjadi di sana" Teriak para mahasiswa yang lainnya


Dengan langkah panjang Melan dan teman-temannya langsung menutup pintu kelas dan menguncinya.


"Kenapa kau menampar ku?" Tanya Aida dengan memegang pipinya yang masih terasa sakit


"Kau masih bertanya kepada ku juga? Setelah apa yang kau perbuat itu sangatlah lancang" Jawab Melan dengan menarik rambut Aida yang masih terikat rapi


"Lepaskan, Mel" Teriak Aida memberontak


"Percuma. Tidak akan ada yang menolong mu" Jawab Melan tersenyum sinis


"Hahaha" Suara tertawa dari teman yang lainnya


"Kalian. Apa kalian hanya akan menertawakan ku dan tidak mau menolong ku?" Tanya Aida dengan memelototkan kedua bola mata miliknya


"Ck. Kau pikir, kau siapa" Ucap Mentari yang merupakan geng Melan


"Siapa pun yang ada di luar tolong aku" Teriak Aida sekencang mungkin


"Diam" Bentak Melan menarik rambut Aida dengan sekuat mungkin


"Sakit, Mel" Ucap Aida segera mengigit lengan Melan dan berlari. Namun sayang sekali teman-teman Melan terlebih dahulu meraih tangan Aida.


Suasana di luar pun semakin ricuh, para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin tahu apa yang sudah terjadi. Mereka lebih menonton dari luar jendela kelas. Tanpa ada yang melerainya atau melaporkan ke dosen.


Kini Melan memerintah Mentari dan Tika untuk memegang tangan Aida. Aida tidak bisa berkutik saat kedua tangan miliknya di cengkraman oleh mereka. Aida yang tidak berdaya memilih menangis.


"Aku peringatkan sekali lagi kepada dirimu. Jangan pernah kau dekati yang sudah menjadi milikku" Teriak Melan sedikit mencekik leher Aida


"Apa yang kau ucapkan? Aku tidak mengerti?" Tanya Aida dengan suara lirih


"Kau masih berani berbicara kepada ku" Bentak Melan segera menampar di kedua pipi Aida


"Melan hentikan semua ini" Ucap Aida dengan susah payah balik mencengkeram tangan mentari dan juga Tika


"A..." Pekiknya kesakitan


"Bodoh. Cepat pegang dia!" Perintah Melan dengan mata melotot


"Bos..." Ucapnya lirih


"Cepat" Bentaknya penuh emosi


"Kalau kau berani maju satu-satu jangan main keroyokan" Tantang Aida dengan berkacak pinggang di hadapan mereka bertiga

__ADS_1


"Dasar ingusan" Umpat Melan segera mengangkat tangan miliknya dan ingin menampar pipi Aida. Namun tangan Aida lebih dulu meraih tangan Melan dan menguncinya


"A..." Teriaknya kesakitan


"Apa kalian mau seperti ini juga? Aku akan patahkan tangan kalian satu persatu" Ucap Aida


"Jangan. Plis... Jangan-jangan" Jawab Mereka dengan memohon


"Hei... Cepat bantu aku!" Perintah Melan kesakitan


Aida segera melepaskan Melan, ketika Melan akan beraksi lagi. Aida dengan sigap membusungkan dadanya.


"Aish... Sial" Umpatnya


"Mari, kita bicara secara baik-baik! Sebenarnya ada apa kau bisa sampai seperti ini kepada ku?" Tanya Aida


"Kau... Kenapa kau mengambil Zikri dari ku" Jawab Melan menangis


"Zikri... Zikri siapa yang kau maksud?" Tanya Aida yang tidak mengerti


"Pak Zik... Ri..." Jawab Melan menjelaskannya


"Pak Zikri. Pak Zikri Maulana" Ucap Aida menebaknya


"Iya" Jawab Melan


"Apa kau berpacaran dengan Pak Zikri?" Tanya Aida yang ingin tahu


"Sebentar lagi" Jawab Melan asal


"Sebentar lagi. Apa maksud ucapan mu itu?" Tanya Aida yang semakin bingung


"Pokoknya sebentar lagi Pak Zikri akan menjadi milikku dan kau jangan ganggu Pak Zikri. Apalagi sampai ingin memilikinya" Jawab Melan


"Oh... Rupanya kalian belum berpacaran kan?" Tanya Aida


"Belum" Jawab Melan keceplosan


"Syukurlah kalau mereka belum pacaran dan aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Pak Zikri" Ucap batin Aida sedikit lega


"Oh.. Begitu, ya" Ucap Aida malah tertawa


"Bukan begitu maksud ku. Pak Zikri sudah menyatakan cinta kepada ku. Tapi... Tapi aku belum memberikan jawaban kepadanya" Jawab Melan berbohong


"Apa kau yakin seperti itu?" Tanya Aida kembali tertawa


"Apa kau tidak mempercayaiku? Apa kau sedang menertawakan ku?" Tanya Melan balik dan tidak terima


"Kau jangan terlalu berlebihan dan jika kau berlebih-lebihan maka tidak baik" Jawab Aida semakin tertawa terbahak-bahak di depan mereka

__ADS_1


"Dasar perempuan murahan! Berani sekali kau menertawakan ku, kau pikir aku tidak bisa mendapatkan Pak Zikri apa" Ucap Melan segera menjambak rambut Aida yang berwarna coklat dan mencakar pipi Aida


Dan terjadilah perkelahian di antara mereka. Mentari dan Tika hanya bisa menonton di antara keduanya. Perkelahian semakin sengit ketika Aida mampu membalas Melan dan mampu menjatuhkan Melan ke atas lantai.


Suara sorakan dari luar pun semakin menyemangati mereka. Hingga tanpa mereka sadari datanglah Pak Zikri yang akan mengajar di kelas Aida. Betapa terkejutnya Pak Zikri saat mengetahui Aida dan Melan sedang berkelahi di dalam kelas.


Dengan segera Pak Zikri memerintahkan para mahasiswanya untuk mendobrak pintu kelas tersebut. Setelah pintu terbuka Pak Zikri segera memeluk Aida yang sudah terkapar lemas di atas lantai.


Pak Zikri membawa Aida pergi ke rumah sakit terdekat. Melihat kondisi Aida saat ini Pak Zikri semakin mengkhawatirkannya.


"Apa dia sudah gila? Kenapa dia menolong perempuan murahan itu" Ucap Melan kesal


"Melan kau itu tidak pantas di sebut sebagai perempuan. Kau itu setan" Ucap teman-teman sekelasnya


"Ah..." Teriak Melan segera pergi meninggalkan kampus setelah membuat kekacauan


"Kau berdua juga sama saja. Sama-sama sinting" Sambung Sino


"Melan... Tunggu" Teriak Mentari dan Tika secara bersamaan segera mengejar Melan


Setelah sampai di rumah sakit terdekat Aida segera di tangani oleh dokter.


Luka yang ada di wajah Aida tidak begitu parah. Namun membutuhkan waktu untuk beberapa minggu agar wajah Aida bisa kembali mulus.


Dengan susah payah Aida meminta sang dokter agar tidak merawat dirinya di rumah sakit. Paksaan itu terjadi karena Zikri terlalu melebih-lebihkan saja kalau Aida harus di rawat beberapa hari di rumah sakit.


"Zik... Tolong aku ingin pulang" Ucap Aida segera bangun dari atas tempat tidur dan langsung pergi


"Dok... Dokter seharusnya mencegah Aida agar tidak segera pulang" Ucap Zikri kepada sang Dokter


"Tapikan Pak... Aida itu tidak sakit parah dan bisa berobat jalan jika mau. Hanya luka ringan" Jawab Sang Dokter menjelaskannya


"Aduh... Dokter itu tidak mengerti sekali" Ucap Zikri segera pergi menyusul Aida


"Ada-ada saja anak-anak jaman sekarang" Jawab sang Dokter sedikit tertawa


"Aida..." Teriak Zikri dengan melambaikan tangan miliknya


"Aku harus menghindar darinya" Ucap batin Aida segera berjalan


"Ai... Aku akan mengantarkan mu pulang" Ucap Zikri tersenyum manis


"Tidak perlu. Aku akan naik taksi" Jawab Aida menolaknya


"Jangan menolaknya. Lihatlah dirimu! Kau seperti ini karena ku" Ucap Zikri segera mengandeng tangan Aida dan menuju ke tempat parkiran


Dalam perjalanan pulang tanpa ada sepatah katapun yang terucap di antara mereka. Sesekali Zikri melihat wajah Aida yang lebam dan bekas cakaran membuat Zikri semakin bersalah.


Bersambung... ✍️

__ADS_1


__ADS_2