Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 49


__ADS_3

Berdasarkan informasi seseorang dapat melihat dengan jelas. Aida bersama seorang laki-laki yang entah dirinya tidak ketahui berada di bandara internasional Soekarno-Hatta.


"Ya. Kau bodoh sekali! Kenapa kau tidak memotret mereka" Ucap Zayn menendang perut mereka


"Maaf Tuan" Jawabnya begitu lirih dan tertunduk di hadapan seorang Zayn Malik Abidzar


"Cepat pergi dan jangan kembali sebelum mendapatkan informasi yang jelas" Perintah Zayn tegas dan sekali lagi dirinya menendang orang itu


Dalam raut wajah yang marah, Zayn meraih jas miliknya yang tergantung di dalam ruangan kerja miliknya. Zayn saat itu berpapasan dengan Papa Abidzar di lobi. Tidak sedikit pun dirinya melihat wajah Papa Abidzar.


"Ha... Apa kau melihatnya?" Tanya Papa Abidzar kepada Johan


"Iya Tuan" Jawab Johan dengan sigap


"Apa yang dia pikirkan?" Tanya Papa Abidzar dengan berteriak


"Maaf Tuan" Jawab Johan yang tidak mengerti harus menjawab apa


"Cepat ikuti dia!" Perintah Papa Abidzar dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah perginya Zayn


"Baik Tuan" Ucap Johan menundukkan kepalanya dan segera pergi di ikuti oleh para anak buahnya


"Hei kalian..." Teriak Bayu sengaja mengalihkan perhatiannya


"Apa?" Tanya Johan mendekat ke arah datangnya Bayu


"Kalian akan pergi ke mana? Sepertinya buru-buru sekali?" Tanya Bayu balik


"Apa kau tahu Tuan mu akan pergi ke mana?" Tanya Johan mencengkeram lengan Bayu


"Tidak" Jawab Bayu kesakitan


"Pak. Sebaiknya kita harus mengejar Tuan Zayn sebelum jauh" Ucap salah satu anak buahnya dengan berbisik


"A..." Teriak Johan kesal dan mendorong tubuh Bayu hingga terjatuh di atas lantai


"Sial..." Umpat Bayu berteriak kepada mereka


Mobil yang di tumpangi Zayn menuju ke arah bandara. Zayn berharap Aida masih berada di sana. Zayn berlari menuju ke dalam dengan melihat ke arah di sekelilingnya. Betapa frustasinya Zayn saat tidak menemukan Aida.


"Siapa laki-laki yang mereka maksud" Gumam Zayn berjalan meninggalkan bandara tersebut dengan langkah gontai


Pandangannya hampir tak jelas, di detik berikutnya Zayn sudah tidak sadarkan diri.


"Tuan..." Teriak seseorang yang mengenali Zayn. Langsung membawa Zayn pergi ke rumah sakit


Saat mata itu terbuka, dirinya sudah berada di rumah sakit dengan tangan di infus.

__ADS_1


"Apa yang sudah terjadi kepada ku?" Tanya Zayn segera duduk dan di bantu oleh Bayu


"Tuan berada di rumah sakit" Jawab Bayu menjelaskannya


"Bukankah tadi aku berada" Ucap Zayn mengingat kembali. Namun kepalanya terasa pusing


"Istirahatlah Tuan" Jawab Bayu kembali membantu Zayn berbaring


"Zayn..." Panggil Papa Abidzar dengan nafas tersengal-sengal


"Sayang" Ucap Rose kepada Zayn


Papa Abidzar dan Rose masuk ke dalam ruangan Zayn secara bersamaan.


"Kalian, Ck" Ucap Zayn kesal dan memalingkan wajahnya


"Bagian mana yang sakit? Apa di sini, di sini, atau di sini?" Tanya Rose begitu menghawatirkan keadaan Zayn


"Rose berhentilah berbicara. Kepada ku pusing" Jawab Zayn mengibaskan tangan Rose saat akan menyentuh tubuhnya


"Zayn" Panggil Papa Abidzar memelototkan kedua bola mata miliknya


"Sebaiknya kalian pulang saja! Aku ingin beristirahat" Ucap Zayn mengusirnya


"Tidak. Aku akan tetap di sini menjaga mu" Jawab Rose segera duduk di samping Zayn


"Baiklah. Kau di sini saja tetap berada di samping, Zayn!" Perintah Papa Abidzar menepuk pundak Rose


Papa Abidzar melangkah kakinya menuju ke arah luar pintu namun dirinya urungkan.


"Kau. Kau cepat keluar dari ruangan ini" Ucap Papa Abidzar kepada Bayu


"Baik Tuan" Jawab Bayu menundukkan kepalanya dan mengikuti langkah Papa Abidzar keluar dari ruangan tersebut


"Bay..." Panggilnya dengan lirih yang menghentikan langkah kaki Bayu


"Aku akan menunggu Tuan di luar" Ucap Bayu tersenyum melihat wajah Zayn dan segera menutup pintu tersebut


Zayn memalingkan wajahnya dan langsung pura-pura tertidur.


"Zayn..." Teriak Rose kesal dan segera pergi saat melihat Zayn sudah tidur


"Akhirnya" Ucap Zayn lega


Di tempat lain, Ben mengajak Aida sementara waktu ini tinggal di rumah pribadi milik Ben. Di rumah itu banyak para pelayan yang menjaga kebersihan rumah tersebut. Ben memperkenalkan kepada mereka siapa wanita yang di bawanya masuk ke dalam rumah tersebut. Seluruh para pelayan itu menundukkan kepala kepada Aida dan Aida merasa di hormati.


Ben juga melarang tamu yang ingin berkunjung di rumah miliknya. Ben memberi tahu secara detail kepada pelayan yang akan menjadi pelayan Aida. Mereka harus menjaga Aida begitu hati-hati saat dirinya tidak ada di rumah mengingat Aida sedang mengandung.

__ADS_1


Setelah memberikan arahan kepada mereka. Ben membantu membawa koper Aida dan menunjukkan di mana kamar yang harus di tempati Aida. Aida tampak tersenyum saat memasuki kamar tersebut.


"Apa kau akan konglomerat?" Tanya Aida melihat pemandangan ke arah luar melalui jendela kamar


"Tidak" Jawab Ben singkat


"Rumah mu bak istana di negeri dongeng dan pelayan itu sangat menghormati mu" Ucap Aida lirih


"Istirahatlah!" Perintah Ben membawa Aida duduk di atas ranjang


"Di mana kamar mu?" Tanya Aida menepis tangan Ben dan berjalan menuju ke arah luar kamar


"Apa yang kau cari?" Tanya Ben mengikuti langkah kaki Aida


"Kamar mu. Aku ingin melihatnya" Jawab Aida tersenyum


"Apa kau ingin berada di dalam kamar ku dan kita..." Ucap Ben berbisik di telinga Aida saat membuka pintu kamar tersebut yang berada di depan kamar Aida


"Tidak" Jawab Aida singkat dan langsung berlari


"Tunggu" Cegah Ben menarik tubuh Aida agar lebih mendekat ke arah tubuhnya


"Jangan lakukan itu" Ucap Aida menundukkan kepalanya


"Maksud mu?" Tanya Ben yang tidak mengerti


"Aku lelah dan ingin beristirahat" Jawab Aida mendorong tubuh Ben agar menjauh darinya


"Ha. Hahaha" Terdengar suara Ben tertawa dan Aida langsung berlari menuju ke dalam kamar miliknya


Ben segera turun ke lantai bawah, di sana dirinya menghampiri para pelayan yang berada di dalam dapur tengah menyiapkan makanan malam untuknya.


Lagi-lagi Zayn memberi perintah kepada mereka agar memasak sesuai arahannya.


"Apa dia pacar anda?" Tanya Monik yang merupakan kepala para pelayan tersebut


"Tidak" Jawab Ben singkat


"Aku rasa dia sedang mengandung. Apa dia mengandung anak mu?" Tanya Monik yang ingin tahu


"Apa tugas mu?" Tanya Ben balik


"Maaf" Jawab Monik menundukkan kepalanya


"Jangan urusi kehidupan ku. Kau hanya seorang pelayan di rumah ini. Apa kau sekarang menjadi mata-mata Pak Tangseng?" Tanya Ben marah


"Tidak Tuan. Maaf aku sudah lancang bertanya seperti itu" Jawab Monik menundukkan kepalanya dan merasa gugup

__ADS_1


"Jika aku mengetahui kau mata-mata Tangseng. Tamatlah riwayat mu" Ucap Ben melihat wajah Monik begitu intens dan segera pergi


Bersambung... ✍️


__ADS_2