
Papa Abidzar selalu menunggu kedatangan Zayn pulang ke rumah miliknya. Tampak terlihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Zayn belum pulang, setelah dirinya pergi dari restoran tanpa pamit. Zayn tidak menampakkan batang hidungnya di kantor juga.
Papa Abidzar yang ingin membuka pintu rumah miliknya. Malah di buat terkejut dengan kedatangan Zayn yang jatuh di dalam pelukannya.
"Tuan..." Teriak Bayu membantu Papa Abidzar membawa Zayn masuk ke dalam kamar miliknya
Bayu melepaskan sepatu dan jas milik Zayn. Setelah itu dirinya menyelimuti tubuh Zayn dan segera pergi meninggalkan kamar Zayn yang tengah tertidur.
"Tuan" Ucap Bayu mengelus dada miliknya saat melihat Papa Abidzar berdiri di luar pintu depan cahaya remang-remang
"Ikuti aku!" Perintah Papa Abidzar berjalan menuju ke ruang kerja miliknya
"Sebenarnya ada apa Tuan mengajakku ke mari?" Tanya Bayu yang tidak mengerti
"Apa kau lupa dengan kesepakatan kita saat aku mengijinkan mu tetap bekerja dengan Zayn?" Tanya Papa Abidzar balik
"Maaf. Aku tidak bisa mengontrol emosi Tuan Zayn. Saat Tuan Zayn keluar dari restoran tersebut dirinya tampak murung dan aku pun tidak bisa berkata-kata" Jawab Bayu menundukkan kepalanya
"Sebaiknya kau tinggalkan Zayn saja" Ucap Papa Abidzar berkacak pinggang di hadapan Bayu
"Aku tidak pernah membuat kesalahan. Bukankah Tuan yang membuat salah hari ini?" Tanya Bayu memutar balikan fakta
"Apa maksud mu?" Tanya Papa Abidzar menautkan kedua alis miliknya dan kesal
"Tuan sengaja merencanakan pertemuan ini, seolah-olah pertemuan ini adalah pertemuan bisnis. Tapi, yang perlu Anda ketahui? Anda malah menjodohkan Zayn dengan Rose anak Pak Tangseng. Agar perusahaan kalian berjaya dan berkembang begitu pesat" Jawab Bayu menjelaskannya begitu lirih
"Kau tahu apa soal keluarga ku" Bentak Papa Abidzar marah
"Zayn juga merasa kesal. Jika urusan pribadinya di kaitan dengan urusan perusahaan" Jawab Bayu memberanikan diri
"Diam" Gertak Papa Abidzar mencengkeram lengan Bayu
"Aku hanya mengingatkan dan jangan sampai kau kehilangan anakmu lagi" Jawab Bayu tersenyum licik dan segera pergi
"Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada ku, Bayu" Teriak Papa Abidzar mengebrak meja kerja miliknya
Keesokan harinya, Zayn bangun terlambat di karenakan semalam dirinya mabuk. Bayu yang senantiasa membangunkan Tuannya mendapatkan perintah dari Mama Ratih agar tidak menganggu tidur Zayn. Bayu berjaga di depan pintu kamar Zayn. Terdengar suara orang memanggil namanya begitu lirih.
"Tuan" Ucap Bayu segera masuk ke dalam kamar Zayn
"Jam berapa ini?" Tanya Zayn memijat kepala yang terasa pening
"Jam sebelas, Tuan" Jawab Bayu menjelaskannya
"Apa" Ucap Zayn terkejut dan segera bangun
"Aw..." Pekiknya kesakitan
__ADS_1
"Sebaiknya anda beristirahat kembali" Ucap Bayu membantu membaringkan tubuh Zayn ke atas tempat tidur
"Apa yang sudah terjadi kepada ku?" Tanya Zayn mencoba mengingatnya kembali
"Tuan semalam..." Jawab Bayu terpotong
"Iya aku sudah mengingatnya" Ucap Zayn lirih dan malas
"Aku akan membawakan sarapan anda" Jawab Bayu segera pergi
Beberapa menit kemudian, Mama Ratih membawa nampan yang berisikan sarapan untuk Zayn.
"Ma..." Panggil Zayn segera bangun dan menyenderkan tubuhnya di tempat tidur
"Tenanglah dan jangan bergerak" Cegah Mama Ratih berjalan menuju ke arah tempat tidur Zayn. Mama Ratih meletakkan nampan tersebut di atas meja di samping tempat tidur Zayn
"Di mana Bayu? Aku tadi menyuruhnya" Ucap Zayn yang tidak mengerti
"Bayu. Pergi ke kantor karena perintah, Papa" Jawab Mama Ratih tersenyum
"Oh..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Zayn
"Apa semalam kau mabuk?" Tanya Mama Ratih dengan mengambil piring yang berisikan makanan
"Hm" Jawabnya menganggukkan kepala
"Biarkan aku makan sendiri" Jawab Zayn canggung
"Kenapa? Apa kau tidak ingin Mama menyuapi mu?" Tanya Mama Ratih melihat wajah Zayn begitu intens
"Bukan seperti itu" Jawab Zayn terbata-bata
"Diam. Cepat buka mulut mu!" Perintah Mama Ratih tersenyum begitu juga dengan Zayn membalas senyuman Mama Ratih
"Kalau kau seperti ini mengingatkan ku saat masa-masa kecilmu. Kau selalu saja susah makan saat sedang marah" Celoteh Mama Ratih mengusap kepala Zayn
Zayn tersenyum tanpa berkomentar sedikit pun.
"Apa kau benar-benar lapar?" Tanya Mama Ratih saat melihat piring yang ada di tangannya tidak tersisa sedikitpun makanan
"Sepertinya begitu" Jawab Zayn tertawa
"Cepat minum!" Perintah Mama Ratih menyodorkan segelas air putih untuk Zayn
"Aku akan mengambilkan nasi dan lauk untuk mu lagi" Ucap Mama Ratih segera berdiri dari tempat duduknya
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang" Jawab Zayn memperlihatkan perut sixpack kepada Mama Ratih
__ADS_1
"Wow..." Ucap Mama Ratih segera pergi
Zayn masih melihat kepergian Mama Ratih hingga Mama Ratih menutup pintu kamar miliknya. Zayn mengambil foto yang beredar di dalam laci miliknya. Dirinya mulai mengusap wajah orang tersebut. Seketika raut wajah Zayn berubah sendu dan tidak bisa membendung air mata miliknya.
"Apa hari ini kau juga sudah makan?" Tanya Zayn melihat foto tersebut
"Aku harap kau di sana baik-baik saja" Jawab Zayn lirih dan meletakkan kembali foto tersebut di dalam laci
Zayn mengambil ponsel miliknya dan segera menekan nomor ponsel wanita itu. Nomor ponselnya sudah tidak bisa di hubungi lagi sejak meninggalkan Jakarta. Hubungan diantara keduanya terputus. Dan Zayn begitu merindukan wanitanya.
Dalam lamunan Zayn tersenyum dengan sendirinya saat berkhayal. Zayn melihat jelas dirinya bertemu dengan wanita itu. Wanita itu tersenyum kepada dirinya dan mencium bibirnya.
"Tuan..." Teriak Bi Yanti ketakutan saat Zayn mendekatkan bibirnya ke bibir Bi Yanti
"Yanti" Teriak Zayn frustasi dan segera mengelap bibirnya dengan tangannya sendiri
"Apa Tuan ingin mencium bibir ku?" Tanya Bi Yanti segera menutup bibirnya dengan kedua tangan miliknya
"Apa kau sudah gila bertanya seperti itu kepada ku" Jawab Zayn mengumpat
"Itu tadi apa?" Tanya Bi Yanti menunjuk ke bibir Zayn dan juga bibirnya
"Apa" Bentak Zayn memelototkan kedua bola mata miliknya dan marah
"Hi..." Ucap Bi Yanti tiba-tiba merinding dan jijik melihat wajah Zayn
"Jangan berpikir macam-macam, ya" Jawab Zayn mengusap wajahnya begitu kasar
"Hm... Tidak" Ucap Bi Yanti tersenyum kaku
"Cepat pergi sana!" Usir Zayn memalingkan wajahnya
"Iya... Iya..." Jawab Bi Yanti lirih dan segera pergi
"Eh... Tunggu. Di mana Mama Ratih?" Tanya Zayn yang ingin tahu
"Nyonya ada di ruang tamu" Jawab Bi Yanti memberitahunya
"Ya sudah pergi sana!" Zayn kembali mengusir Bi Yanti agar keluar dari dalam kamar miliknya
"Hm" Gumamnya kesal
Di luar pintu Bi Yanti tersenyum dengan sendirinya.
Sedangkan di dalam kamar Zayn berlari menuju ke arah kamar mandi dan segera mencuci bibir menggunakan sabun lalu membilasnya berulang kali.
"Aku belum menciumnya" Ucap Zayn lirih melihat bibir milik dalam pantulan cermin
__ADS_1
Bersambung... ✍️