
Setelah pulang dari rumah sakit
Sikap dan perilaku Aida sungguhlah sangat berbeda. Aida nampak tidak bersemangat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mengingat dirinya kini sudah tidak lagi perawan.
Sikap Aida juga di rasakan oleh kedua orang tua mereka. Papa Abidzar menanggapi bahwa hati Aida masih terguncang. Namun beda halnya dengan Mama Ratih. Mama Ratih beranggapan bahwa ada sesuatu yang sudah terjadi kepada Aida.
"Ma... Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan" Ucap Papa Abidzar dengan menggenggam kedua tangan milik Mama Ratih
"Anakku berbeda" Jawab Mama Ratih menangis di pelukan suaminya
Beberapa Minggu kemudian
Zayn kembali pulang ke rumah miliknya setelah melakukan syuting hampir satu minggu lamanya. Kepulangan Zayn di sambut hangat oleh Mama Ratih. Mama Ratih segera menghamburkan pelukan kepada Zayn saat Zayn masuk ke dalam rumah miliknya.
"Apa kau akan selalu seperti ini? Membuat ku selalu merindukanmu?" Tanya Mama Ratih dengan tersenyum lalu mencubit pipi Zayn begitu gemas
"Sakit Ma" Jawab Zayn ketus dan segera pergi menuju ke kamar miliknya yang berada di lantai atas. Saat Zayn akan menaiki anak tangga. Zayn dapat melihat wajah Aida yang tengah melihat dirinya dengan tatapan tidak suka. Aida masih berdiri di atas tangga dengan mengepalkan kedua tangan miliknya.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Zayn begitu lirih saat berpapasan dengan Aida dan dirinya segera mencengkeram tangan miliknya Aida lalu mengibaskan
"A..." Desah Aida begitu lirih saat Zayn melepaskan cengkeramannya
"Dasar wanita murahan" Ucap Zayn dengan lirih dan segera naik ke atas. Namun ucapan Zayn sangatlah jelas di telinga Aida yang mendengarkannya
"Apa aku tidak salah mendengarkannya? Setelah apa yang dia perbuat kepada ku dan kenapa bisa-bisa dia malah mengatai ku wanita murahan. Ck" Jawab Aida dengan marah dan masih melihat kepergian Zayn
"Sayang..." Panggil Mama Ratih kepada Aida
"Aida" Panggil Mama Ratih yang membuyarkan pandangan Aida
"Iya Ma" Jawab Aida dengan tersenyum
"Kemari lah, Nak!" Perintah Mama Ratih dan Aida segera turun menghampiri Mama Ratih yang masih berdiri tidak jauh darinya
"Apa yang kau lihat?" Tanya Mama Ratih dengan melihat wajah Aida begitu intens
"Aku kenapa?" Tanya balik Aida yang tidak mengerti
"Kau kenapa melihat Kakakmu seperti itu?" Tanya Mama Ratih menjelaskannya
"Oh... Tidak" Jawab Aida dengan singkat
Beberapa jam kemudian
Seluruh anggota keluarga Abidzar di kejutkan oleh Zayn.
"Zayn. Apa-apa ini" Bentak Papa Abidzar marah
"Memangnya ada apa?" Tanya Zayn dengan melipat kedua tangan miliknya dan di ikuti oleh Bayu sang asisten
"Kau akan membawa barang-barang ini ke mana dan koper-koper itu?" Tanya Papa Abidzar dengan menunjuk ke arahnya
"Aku akan pergi dari rumah ini" Jawab Zayn singkat dan segera menarik koper tersebut di bantu oleh sang asisten
__ADS_1
"Zayn berhenti" Teriak Papa Abidzar mencegahnya
Di detik berikutnya keluarlah Mama Ratih dan juga Aida. Di antara keduanya saling bertatapan dan tidak mengerti.
Saat Zayn akan melangkahkan kakinya menuju ke luar pintu. Sontak di kejutkan oleh teriakan Mama Ratih. Membuat Zayn harus berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Kenapa kalian harus berteriak-teriak, sih" Ucap Zayn marah dengan menutup kedua telinganya menggunakan tangganya sendiri
"Apa kau akan pergi syuting lagi?" Tanya Mama Ratih dengan segera
"Tidak" Jawab Papa Abidzar dan Zayn secara bersamaan
"Papa" Bentak Mama Ratih dengan memelototkan kedua bola mata miliknya
"Dia akan meninggalkan rumah ini, Ma" Ucap Papa Abidzar menjelaskannya
"Apa? Kenapa?" Tanya Mama Ratih semakin bingung
"Aku sudah membeli rumah di perumahan Kamboja. Aku pergi dulu, Ma!" Pamit Zayn segera menghampiri Mama Ratih dan memeluknya lalu menghamburkan ciuman di kedua pipi milik Mama Ratih
"Zayn... Apa yang kau pikirkan, Nak? Ini rumah mu dan kau tidak boleh pergi dari rumah ini" Ucap Mama Ratih mencegahnya saat Zayn akan melangkahkan kakinya
"Aku tidak sanggup lagi hidup di keluarga yang pura-pura bahagia di hadapan orang lain" Jawab Zayn dengan melirik ke arah wajah Aida yang berdiri di belakang tubuh Mama Ratih
"Kau tidak harus berpura-pura Zayn. Bukankah selama ini kita sudah hidup bahagia" Ucap Mama Ratih dengan tersenyum melihat wajah Zayn
"Aku dan Yas tidak pernah merasakannya. Mungkin hanya Mama saja yang bahagia dan tidak mengerti bagaimana perasaan kedua anak laki-laki Mama" Jawab Zayn menundukkan kepalanya
"Zayn bukankah kita sudah membahas masalah ini sebelumnya dan kita tidak boleh berbicara di hadapan..." Ucap Mama Ratih terbata-bata dan sedikit lirih
"Perempuan mana yang kau maksud?" Tanya Aida yang tidak mengerti
"Lupakan saja ucapan Kakak mu itu!" Sambung Papa Abidzar
"Zayn..." Teriak Aida mengejar Zayn yang sudah berada di halaman depan rumah. Sedangkan Papa Abidzar dan Mama Ratih segera menyusul mereka
"Zayn berhenti" Teriak Aida begitu kuat
"Jangan pernah memanggil ku Zayn" Bentak Zayn dengan berteriak
"Maaf Kak Zayn" Jawab Aida dengan menundukkan kepalanya
Zayn segera masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Aida dirinya segera duduk di samping Zayn.
"Apa yang kau lakukan di dalam mobil ku? Keluar!" Bentak Zayn mendorong tubuh Aida
"Aku harus bertanya pada mu?" Ucap Aida memberanikan diri menatap wajah Zayn begitu dekat
"Haruskah aku menjawab pertanyaan mu itu?" Tanya Zayn balik
"Iya harus. Siapa yang kau maksud perempuan itu?" Tanya Aida yang pandangannya tidak lepas dari wajah Zayn
"Haruskah aku menjawab pertanyaan mu itu?" Tanya Zayn mengulanginya kembali dan sedikit ketus
__ADS_1
"Apa aku tidak salah mendengarkan ucapan mu. Kalau kau tadi berkata Mama Ratih lebih memilih perempuan itu di bandingkan dengan anak-anaknya sendiri. Maksud mu apa Zayn" Teriak Aida begitu marah dan menarik kerah kemeja milik Zayn
"Lepaskan tanganmu dan jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuh ku!" Perintah Zayn berbisik di telinga Aida yang membuat Aida seketika merinding di buatnya
"Apa kau pantas berbicara seperti itu setelah kau memperkosa ku. Ck, sok suci" Ucap Aida dengan memalingkan wajahnya
"Memperkosa! Bukankah kau juga menikmatinya? Sehingga aku masih jelas mendengarkan suara ******* mu itu di telingaku" Jawab Zayn membelai rambut milik Aida kemudian dirinya mengusap pipi Aida yang begitu mulus dan putih. Setelah itu Zayn mendorong tubuh Aida hingga dirinya duduk terpojok
"Plak..." Sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi Zayn sebelah kanan dan Aida segera turun dari dalam mobil tersebut
"Kau akan pergi ke mana, Sayang? Berani sekali kau sudah menampar pipi ku ini" Ucap Zayn dengan mengelus pipi kanannya yang di tampar oleh Aida. Sedangkan tangan yang satunya untuk mencekal lengan Aida
"Zayn lepaskan" Teriak Aida dengan memberontak
"Berani sekali sekarang kau memanggil namaku saja. Tanpa embel-embel Kak Zayn" Ucap Zayn dengan melihat wajah Aida begitu dekat
"Zayn..." Teriak Aida sekuat mungkin dan tanpa basa-basi Zayn segera menampar kedua pipi Aida begitu kuat hingga membekas telapak tangan miliknya
Aida memegang kedua pipi miliknya yang terasa sakit. Aida meneteskan air mata dan mulai menangis.
Dengan segera Zayn meraih tubuh Aida agar lebih mendekat dengan tubuhnya. Zayn mulai mencium bibir Aida, kemudian Zayn memaksa Aida agar membalas ciuman tersebut.
Zayn mencoba melucuti pakaiannya atas milik Aida. Namun tangan Aida lebih dahulu mencegahnya. Membuat Zayn harus meremas dari luar pakaian.
"A..." Terdengarlah suara ******* yang keluar dari mulut Aida. Aida terbawa suasana yang Zayn mainkan. Hingga di antara keduanya tidak tersadarkan
"Aku suka suara ******* mu itu" Ucap Zayn di telinga Aida yang membuat Aida tersadar dan mendorong tubuh Zayn
"Puaskan aku!" Perintah Zayn
Zayn memaksa Aida agar dirinya segera melakukannya. Yang seperti dirinya sudah lakukan pada malam itu.
"A..." Suara ******* yang keluar dari mulut Zayn
"Tuan..." Panggil Bayu sang asisten dari luar mobil
Diantara keduanya saling berpandangan saat mendengarkan suara Bayu. Dengan segera Zayn memasukkan miliknya ke dalam celana. Sedangkan Zayn memerintahkan Aida segera merapikan pakaian miliknya dan merapikan rambutnya yang begitu acak-acakan.
"Iya bagus. Keluar lah!" Perintah Zayn dengan mendorong tubuh Aida dan Aida segera keluar
"Tuan..." Panggil Bayu dengan menundukkan tubuhnya agar bisa melihat Tuannya yang berada di dalam mobil
"Apa semua barang-barang ini kita harus angkut satu kali?" Tanya Bayu dengan mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal
"Dasar bodoh" Umpat Zayn dengan kesal
"Tuan..." Ucap Bayu dengan tersenyum
"Tinggalkan barang-barang itu dan kita harus pergi sekarang juga!" Perintah Zayn dengan marah
"Tapi Tuan" Jawab Bayu dengan terbata-bata
"Tidak ada tapi-tapi. Cepat!" Perintah Zayn dengan membentaknya
__ADS_1
"Kenapa bisa aku memilih dia sebagai asisten ku, sih! Bodoh sekali tidak tahu perasaan Bosnya. Sabar Sayang sebentar lagi aku akan mengeluarkan mu" Ucap batin Zayn dengan mengelus miliknya dari luar celana
Bersambung... ✍️