
Dalam lamunan wanita itu dirinya dapat melihat. Ada seorang pria sedang mendekat ke arah dirinya. Pria itu tersenyum kepada dirinya dan membenamkan ciumannya di pipi sebelah kiri miliknya.
"Hei... Hello" Sapa pria itu melambaikan kedua tangan miliknya di depan wajah wanitanya. Aida masih saja memanyunkan bibirnya berharap mendapatkan sebuah ciuman di bibirnya.
"Ben" Panggil Aida yang membuyarkan lamunannya
"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu yang lebih?" Tanya Ben berbisik di telinga Aida
"Tidak" Jawab Aida segera menepuk pundak Ben dan segera pergi
Di dalam ruangan miliknya Aida meraih tas miliknya yang tergantung tak jauh dari dirinya. Aida berjalan menuju ke arah ruangan Melinda dan berpamitan.
"Apa kau juga akan pergi?" Tanya Melinda menunjuk ke arah datangnya Ben
"Tidak" Jawab Ben singkat
"Oh. Yasudah lebih baik kau mengantarkan barang-barang ini ke apartemen Melodi!" Perintah Melinda kepada Ben
"Baik Nyonya" Ucap Ben mengambil barang tersebut dan pergi
Aida memutuskan pergi ke suatu tempat sendiri dan tidak di temani oleh Ben. Dalam perjalanannya Aida melihat ada seorang anak kecil yang sedang merengek meminta es krim. Sang Ibu menolak untuk membelikan es krim kepada anak tersebut. Aida berjalan dan menyapa anak itu, dirinya memberikan selembar uang kepada anak itu dan pergi.
Tampak terlihat jelas wajah Aida berseri-seri. Aida berada di keramaian banyaknya orang yang berjalan berlalu lalang. Di tangan Aida banyak makanan yang dirinya beli. Dan pada akhirnya Aida beristirahat sejenak untuk memakan makanan tersebut di pinggir jalan. Banyak orang yang melihat, namun Aida tidak mempedulikannya. Aida berada di dalam kesenangan kesendiriannya.
Begitu banyak pekerjaan yang harus Melinda urus. Membuat Melinda melupakan keberadaan Aida saat ini. Ben kembali ke kantor setelah mengirim barang.
Tampak biasanya Ben selalu membantu Melinda. Ben sengaja menjadi asisten pribadi Melinda saat Melinda masih bekerja sebagai model. Hingga kini Melinda beralih profesi tidak membuat Ben melupakan Melinda. Ben melakukan itu semua karena dirinya sangat ngefans kepada sang idola yang itu Melinda.
Melihat latar belakang Ben, Ben merupakan anak orang kaya. Papa Ben memiliki perusahaan yang begitu besar dan berada di dalam urutan orang terkaya di Indonesia. Ben tidak melupakan jati diri berasal dari mana. Namun dirinya melakukan semua itu karena untuk mengusir rasa bosannya menjadi anak orang kaya dan tidak tahu cara bekerja.
"Ben... Apa kau tahu di mana keberadaan Aida saat ini?" Tanya Melinda yang baru menyadarinya hari mulai petang dan dirinya harus pulang ke rumah
"Aku tidak tahu. Nyonya" Jawab Ben
"Astaga. Bukankah dia pergi dari siang tadi" Ucap Melinda memegang kepalanya yang terasa pusing
__ADS_1
"Anda kenapa?" Tanya Ben segera meraih tubuh Melinda yang akan jatuh
"Aku hanya sedikit pusing" Jawab Melinda langsung duduk
"Aku akan meminta Tom untuk mengantar Anda pulang" Ucap Ben pergi memanggil Tom
Mobil yang di persiapkan Tom sudah berada di depan kantor. Ben membantu memapah Melinda masuk ke dalam mobil tersebut. Ben berjanji akan membawa Aida pulang ke rumah dengan segera.
"Terimakasih" Ucap Melinda lagi-lagi berterimakasih kepada Ben
Mobil itu langsung pergi dari hadapan Ben. Ben bergegas masuk ke dalam mobil miliknya. Menyusuri jalanan kota Singapura Ben melihat sosok perempuan yang berdiri menundukkan kepala. Ben pun berteriak kepada perempuan itu, Ia benar dia adalah Aida Malik Abidzar.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Tanya Ben memeluk Aida
"Ben" Jawab Aida terisak
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Ben yang tidak mengerti tiba-tiba Aida terisak
"Aku lelah dengan hidup ku" Jawab Aida menangis sesenggukan
"Jangan berbicara seperti itu" Ucap Ben segera ******* bibir Aida yang hatinya kembali hancur
"Tunggu" Cegah Ben yang menghentikan langkah kaki Aida
"Aku mencintaimu. Cinta ini datang saat aku menemanimu memeriksa kandungan mu itu. Aku melihat jelas calon bayi itu tubuh dengan baik. Hati ku sakit apabila mengingat bayi itu tidak memiliki Papa. Jadi, aku memutuskan untuk menikahi mu. Maukah kau menikah dengan ku Aida Malik Abidzar" Ucap Ben dengan lantang
"Ben. Jangan membuatku malu seperti ini" Jawab Aida yang sedari tadi menjadi pusat perhatian orang yang berada di sekitarnya
"Aku tidak peduli dengan mereka! Maukah kau menikah dengan ku" Ucap Ben mengeluarkan cincin yang dirinya simpan di jas miliknya
"Ben..." Panggil Aida lirih
"Terimalah cincin ini, Aida" Ucap Ben menarik tangan Aida dan menyematkan cincin tersebut di jari manis Aida
"Ben. Aku tidak ingin kau..." Jawab Aida terpotong saat Ben kembali memeluk tubuhnya
__ADS_1
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang dan kita harus pulang. Sepertinya Nyonya sedang sakit saat meniggalkan kantor" Ucap Ben menjelaskannya
Di dalam perjalanan pulang menuju ke rumah Aida. Ben menjelaskan dirinya akan segera pulang ke Indonesia. Ben juga memberitahu kepada Aida kalau adiknya yang bernama Rose. Di lamar oleh seseorang yang dirinya juga tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Aida hanya menanggapi ucapan Ben dengan anggukan saja.
"Apa kau ingin ikut dengan ku?" Tanya Ben tersenyum melihat wajah Aida
"Aku" Jawab Aida menunjuk ke arah dirinya sendiri
"Iya" Ucap Ben mengusap kepala Aida
"Tidak" Jawab Aida singkat
"Aku akan segera kembali. Setelah adikku selesai lamaran, aku akan kembali ke Singapura dan meminta jawabanmu" Ucap Ben dengan fokus menyetirnya
"Ben... Aku..." Jawab Aida melihat cincin yang melingkar di jari manisnya dan ucapannya terpotong
"Sudah sampai" Ucap Ben segera membuka pintu mobil untuk Aida
"Terimakasih" Jawab Aida segera masuk ke dalam rumah miliknya
Ben tetap berdiri di tempatnya dengan melambaikan kedua tangan miliknya. Melihat kepergian seorang Aida Malik Abidzar.
"Ben. Cepat pulang" Teriak Aida kembali keluar dari dalam rumah miliknya
"Siap Nona Aida" Jawab Ben tertawa meniggalkan rumah Aida
Aida menemui Melinda yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Aida mengecek keadaan Melinda ternyata benar Melinda sedang demam. Dan Aida membantu Melinda menurunkan suhu tubuhnya dengan mengompresnya.
Semalaman penuh Aida terjaga menemani Melinda yang sedang demam. Melinda meracau memanggil nama Martin dalam tidurnya. Aida terus menggenggam tangan Melinda hingga dirinya tertidur pada pagi hari.
Saat Melinda bangun dirinya tersenyum melihat Aida berada di samping dirinya. Melinda mengusap kepala Aida dan akhirnya Aida bangun dari tidurnya.
"Maaf sudah membangunkan mu, Nak" Ucap Melinda tersenyum melihat wajah Aida yang sedang menguap
"Apa Ibu jauh lebih baik?" Tanya Aida tersenyum
__ADS_1
"Iya" Jawab Melinda lirih
Bersambung... ✍️