Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 53


__ADS_3

Aida dan Melinda masih berada di Indonesia. Mereka tinggal di rumah Ben dan mendapatkan perlakuan yang sangat baik.


Pagi hari yang cerah seperti hati Ben. Ben tengah duduk di antara dua wanita yang sangat cantik. Sesekali Ben melirik ke arah wajah Aida.


"Ben. Ada apa dengan dirimu?" Tanya Aida meringis


"Maukah kau menikah dengan ku?" Tanya Ben langsung tanpa basa-basi


Suara batuk terdengar sangat jelas di telinga Ben. Ben segera menuangkan air minum di gelas Aida.


"Bagaimana?" Tanya Ben kembali dengan melihat wajah Aida begitu intens


"Ha. Ibu aku sudah kenyang. Aku akan beristirahat di dalam kamar" Ucap Aida berdiri dari tempat duduknya


"Tunggu biarkan Ibu membantu, Nak" Jawab Melinda langsung berdiri dari tempat duduknya


"Aida. Apa kau pikir ucapan ku hanya sebuah lelucon" Ucap Ben memalingkan wajahnya dan meletakkan sendok tersebut di atas piring


Aida dan Melinda terus berjalan tanpa menghiraukan ucapan Ben.


"Berhenti!" Cegah Ben menarik lengan Aida dan membawanya dalam pelukannya


"Ben..." Ucap Aida lirih


Melinda yang melihat adegan seperti itu di depan matanya. Dirinya segera meninggalkan Ben dan Aida.


"Ben. Bukankah aku sudah pernah berkata kepada mu. Jika aku tidak ingin menikah" Ucap Aida dengan tersenyum


"Iya. Apa salahnya jika kita membentuk sebuah keluarga. Aku rasa kau akan menerimanya, lihatlah di jari manis mu itu!" Perintah Ben menarik tangan Aida dan mengangkatnya


"Hah" Ucapnya mengembuskan napasnya begitu kasar dan segera melepas cincin tersebut


"Jangan lakukan itu!" Cegah Ben kembali memakaikan cincin itu


"Ben. Aku tidak..." Jawab Aida mengibaskan tangan Ben


"Apa kau masih menunggu Zayn untuk menikahi mu. Cobalah lihat dengan kedua mata mu sendiri. Zayn sudah menikah dengan adikku dan tidak ada pantasnya jika kau menginginkan cinta darinya" Bentak Ben kepada Aida


"Aku tidak mencintainya" Teriak Aida histeris


"Maka menikahlah denganku" Bisik Ben di telinga Aida dan segera memeluk tubuh wanitanya


"Ben" Ucap Aida terisak


"Kau berhak bahagia bersama diriku" Jawab Ben mengelus punggung Aida


"Bagaimana dengan keluarga mu? Apa mereka akan menyetujui pernikahan kita?" Tanya Aida memastikannya


"Aku akan segera berbicara dengan Papa ku. Kau tidak usah menghawatirkan hal itu" Jawab Ben langsung mencium bibir Aida


"Ben..." Panggil Aida lirih saat Ben melangkahkan kakinya


"Aku akan pergi ke rumah Papa. Kau beristirahatlah di kamar mu!" Perintah Ben tersenyum dan segera pergi

__ADS_1


Aida masih mematung di tempatnya melihat kepergian Ben. Aida memalingkan wajahnya menghapus air mata miliknya yang masih membasahi pipinya. Aida berjalan perlahan menuju ke arah kamar miliknya.


"Ibu..." Ucap Aida terkejut saat melihat Melinda sudah berada di dalam kamar miliknya


"Apa yang Ben katakan kepada mu?" Tanya Melinda yang masih duduk di sofa melihat ke arah wajah Aida


"Ben ingin mengajakku menikah" Jawab Aida lirih duduk di samping Melinda


"Lalu?" Tanya Melinda melihat wajah Aida begitu intens dan semakin penasaran


"Aku tidak tahu pasti dengan perasaan ku, Bu? Yang pasti aku sama sekali tidak pernah ada rasa cinta kepada Ben" Jawab Aida menundukkan kepala


"Terimalah Ben. Kau berhak bahagia, meskipun kau tidak cinta kepadanya!" Ucap Melinda penuh dengan penekanan


"Bu..." Jawab Aida


"Ben orang baik. Kalian bisa berpacaran setelah menikah bukan. Apa salahnya jika kita belum mencobanya" Ucap Melinda memeluk tubuh Aida lalu melepaskannya kembali


"Aku... Aku" Jawab Aida terbata-bata


"Jangan terlalu di pikirkan! Ingatlah Nak, Zayn sudah memperlakukan dirimu dengan buruk. Jangan mengulanginya lagi, apalagi sampai dirimu jatuh cinta kepada Zayn" Ucap Melinda


"Aku tidak mencintai Zayn. Bagaimana aku bisa mencintai orang yang sudah membunuh anakku" Jawab Aida memalingkan wajahnya


"Bagus. Kau sangat beruntung bisa memiliki Ben. Ben pria baik, dia menerima dirimu apa adanya. Meskipun Ben tahu apa yang sudah terjadi kepada dirimu" Ucap Melinda tersenyum


"Iya Bu" Jawab Aida dengan mengagukkan kepalanya


"Baiklah. Sekarang kau harus istirahat dan Ibu akan pergi ke kamar Ibu" Ucap Melinda membantu Aida membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan segera pergi


Dalam pengintaian Bayu masih fokus melihat ke arah rumah Tangseng dari kejauhan. Sebuah mobil mewah masuk ke dalam kediaman rumah tersebut.


"Ben. Apa kau sudah gila" Teriak Papa Tangseng mengumpat


"Tidak" Jawab Ben berdiri tegak di hadapan Papa Tangseng


"Terus kenapa kau harus menikah dengan wanita sampah itu? Aku jauh-jauh menguliahkan mu agar kau menjadi orang pintar dan bukan orang bodoh" Teriak Papa Tangseng marah


"Tolong! Jangan halangi niat baik ku ini" Ucap Ben lirih menundukkan tubuhnya


"Plak" Sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi Ben sebelah kiri


"Pa..." Ucap Ben lirih dengan memegang pipinya yang terasa sakit


"Aku tidak merestui mu kau menikah dengan Aida. Wanita itu tidak selevel dengan keluarga kita" Jawab Papa Tangseng berkacak pinggang di hadapan Ben


"Apa kau juga sudah lupa? Dari mana kau berasal dulu?" Tanya Ben melangkahkan kakinya mendekat ke arah Papa Tangseng


"Ben..." Teriak Papa Tangseng tidak terima


"Aku mengetahui semuanya, Pa! Harta yang Papa milik semua ini hanyalah milik almarhum Mama. Jadi tidak usah Papa banding-bandingkan level keluarga kita dengan level keluarga Aida" Bisik Ben di telinga Papa Tangseng


"Dasar anak tidak tahu di untung" Umpat Papa Tangseng mencengkeram kedua lengan Ben begitu erat

__ADS_1


"Pa. Apa yang sudah terjadi?" Tanya Rose yang sudah di tempat tersebut


"Rose. Kapan kau datang, Nak?" Tanya Papa Tangseng tersenyum melihat wajah Rose


"Kak apa yang sudah terjadi kepada kalian berdua?" Tanya Rose mengulanginya lagi


"Tanya saja kepada Papa mu itu" Jawab Ben segera duduk


"Astaga ada apa dengan semua orang hari ini. Benar-benar membuat ku sakit kepala" Ucap Rose dengan memijat kepalanya sendiri


"Rose. Apa kau sakit, Nak?" Tanya Papa Tangseng membawa Rose duduk di samping Ben


"Tidak Pa. Hanya saja aku kesal kepada Zayn" Jawab Rose mengacak-acak rambut miliknya sendiri


"Jangan seperti ini anak Papa. Apa yang sudah Zayn lakukan kepada mu?" Tanya Papa Tangseng dengan lembut dan merapikan rambut milik Rose


"Zayn pergi bekerja dan tidak berpamitan kepada ku. Padahal kan kita baru saja menikah. Apa dia tidak memiliki perasaan kepada ku" Jawab Rose menangis


"Astaga Zayn. Biarkan Papa yang akan memarahi Zayn. Berani sekali dia memperlakukan anakku seperti ini" Ucap Papa Tangseng geram


"Nah, kau bisa melihatnya sendiri bukan! Betapa bejatnya orang itu. Sudahlah Pa, biarkan aku menikah dengan Aida dengan begitu hidup rose akan bahagia bersama dengan Zayn" Sambung Ben


"Apa kalian akan menikah" Ucap Rose membelalakkan kedua bola mata miliknya


"Hm. Tapi Papa tidak mengizinkannya" Jawab Ben kesal


"Kenapa, Pa?" Tanya Rose melihat ke arah wajah Papa Tangseng


"Entahlah" Jawab Ben segera berdiri dari tempat duduknya


"Pokoknya Papa tidak mengizinkan Ben menikah dengan wanita itu" Ucap Papa Tangseng berkacak pinggang di hadapan mereka


"Terserah Papa saja. Aku akan segera menghalalkan Aida" Jawab Ben melangkahkan kakinya


"Tunggu" Cegah Rose


"Apa?" Tanya Ben dengan malas


"Aku mendukungmu dan aku akan membantu diri mu untuk mempersiapkan acara pernikahan kalian" Jawab Rose tersenyum


"Rose..." Teriak Papa Tangseng tidak terima


"Iya. Tapi ada satu syaratnya" Ucap Ben kembali berjalan dan duduk di samping Rose


"Apa" Jawab Rose


"Kau tidak boleh membocorkan rahasia ini kepada Zayn dan aku tidak ingin Zayn mengacaukan pernikahan ku dengan Aida" Ucap Ben berbisik di telinga Rose


"Ok" Jawab Rose dengan mengedipkan salah satu mata miliknya dan tersenyum


"Aku akan pergi! Aku rasa masalah ini sudah selesai" Ucap Ben segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi


"Ben" Papa Tangseng kembali berteriak memanggil nama Ben tapi tidak di hiraukan oleh Ben

__ADS_1


Di ruangan tersebut masih terdengar jelas suara Papa Tangseng dan Rose yang sedang berbicara. Papa Tangseng masih ngotot tidak ingin Ben menikah dengan Aida.


Bersambung... ✍️


__ADS_2