
"Jangan ikuti kami" Bentak Papa Abidzar kepada Melinda dan juga Aida yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit tersebut
"Pa. Tenanglah Martin juga terluka" Ucap Zayn mengelus punggung Papa Abidzar
"Dasar bodoh" Umpatnya yang tidak mempedulikannya
"Hah..." Zayn membuang nafasnya begitu kasar dan segera menjauh dari Papa abidzar
Dokter yang menangani Yasrul dan juga Martin keluar dari dalam ruangan tersebut. Zayn berlari mendekat ke arah mereka.
"Bagaimana?" Tanya Papa Abidzar dengan lirih
"Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya" Jawab Dokter tersebut segera pergi dengan menundukkan kepalanya
"A... Sial. Apa di rumah sakit sebesar ini tidak ada Dokter yang bisa di andalka" Teriak Papa Abidzar frustasi membenturkan kepalanya sendiri ke tembok
"Pa... Jangan seperti ini" Ucap Zayn membawa Papa Abidzar masuk ke dalam ruangan itu
Aida menangis dan berteriak saat memeluk Yasrul yang sudah tidak bernyawa lagi. Dalam pelukannya Aida memohon kepada Yasrul agar memaafkan dirinya. Bahkan Aida menghamburkan ciumannya di kedua pipi Yasrul.
"Hentikan sandiwara mu itu! Pasti kau sudah puas melihat anakku sudah tidak bernyawa lagi" Ucap Papa Abidzar menarik paksa Aida menjauh dari Yasrul hingga Aida jatuh di atas lantai
"Sayang kemari lah, Nak!" Ucap Melinda membantu Aida berdiri dan mengajaknya untuk melihat wajah sang Ayah
"Apa benar dia Ayahku, Ibu?" Tanya Aida yang tidak mengerti
"Benar, Nak. Dia adalah Ayahmu" Jawab Melinda menangis
"Kenapa kalian tega membuangku seperti ini?" Tanya Aida frustasi
"Kami tidak membuang mu sayang. Kami hanya menitipkan mu kepada keluarga Abidzar" Jawab Melinda begitu lirih
"Bohong. Dia berbohong" Teriak Papa Abidzar tidak terima saat mendengarkan jawaban yang keluar dari mulut Melinda
"A... Ha... Hua..." Aida menangis histeris
"Cukup, Pa" Sambung Zayn menangis sesenggukan
"Yas... Kenapa kau begitu cepat meninggalkan ku" Ucap Zayn lirih dan menatap ke arah wajah Yasrul
__ADS_1
"Berhentilah menangis dan kita harus cepat membawa Yas pulang!" Perintah Papa Abidzar segera keluar dari ruangan tersebut saat semua urusan rumah sakit sudah di bereskan oleh Johan
"Aku akan ikut bersama dengan kalian" Teriak Aida mengejar Papa Abidzar
"Aida..." Panggil Melinda dan segera mengikuti langkahnya
"Pa. Papa" Teriak Aida memanggil Papa Abidzar yang sudah tidak di hiraukan lagi
"Kau bukan lagi keluarga Abidzar. Jadi berhentilah memanggil diriku Papa. Di antara kita sudah tidak ada lagi hubungan" Ucap Papa Abidzar segera membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah wajah Aida
"Papa Abidzar tetaplah Papa bagiku. Sampai kapan pun tidak akan pernah tergantikan tempat itu di hati ku" Jawab Aida berlari menuju ke arah Papa Abidzar. Namun di cekal oleh Bodyguard Papa Abidzar
"Sayang lihatlah kemarin, Nak! Kita harus mempersiapkan pemakaman Ayahmu besok" Ucap Melinda menatap wajah Aida yang saat itu masih melihat kepergian Papa Abidzar
"Kenapa semua jadi begini, Bu?" Tanya Aida menangis sesenggukan di pelukan Melinda
"Tenanglah. Kau pasti bisa melewati semua ini, Nak" Jawab Melinda membalas pelukan Aida begitu erat
Aida pulang ke rumah yang Melinda tempati. Jasad Martin di sambut oleh Ibunya dengan isak tangis.
Di tempat lain, terdengar bunyi ambulance saat memasuki halaman rumah di kediaman Abidzar. Mama Ratih yang pada saat itu tengah duduk santai di ruang tengah sedang membaca buku. Dirinya berlari ke luar rumah, betapa terkejutnya Mama Ratih saat mobil ambulance parkir tepat di depan pintu rumah miliknya.
"Papa... Zayn..." Teriak Mama Ratih berlari menuju ke arah mereka. Saat mereka berdua baru turun dari mobil yang lainnya
"Siapa yang di dalam mobil ambulance itu, Pa?" Tanya Mama Ratih terbata-bata dengan menunjuk ke arah mobil tersebut
"Ma..." Jawab Papa Abidzar segera memeluk sang Istri
"Siapa, Pa" Teriak Mama Ratih histeris dan segera berlari. Namun tangannya di raih oleh Papa Abidzar dan segera dipeluknya
"Lepaskan" Ucap Mama Ratih mendorong tubuh Papa Abidzar yang terasa lemah
"Ma..." Ucap Zayn mengikuti langkah sang Mama
"Yas... Yasrul..." Teriak Mama Ratih histeris dan di detik berikutnya Mama Ratih terjatuh pingsan tidak sadarkan diri
"Mama" Panggil Zayn segera meraih tubuh Mama Ratih
Zayn mengendong Mama Ratih dan membaringkannya di atas tempat tidur. Satu jam kemudian Mama Ratih masih tidak sadarkan diri. Zayn yang masih menjaganya senantiasa berada di samping Mama Ratih dengan menggenggam kedua tangannya.
__ADS_1
"Bangunlah, Ma" Ucap Zayn dengan membelai rambut Mama Ratih
Sedangkan di ruang tengah jasad Yasrul di baringkan di atas tempat tidur dan proses pemakamannya akan di langsungkan besok pagi.
"Apa dia belum sadarkan diri juga?" Tanya Papa Abidzar segera duduk di samping Mama Ratih
"Belum" Jawab Zayn singkat
"Hubungi Dokter Bram! Agar dia segera memeriksakan keadaan Mama mu!" Perintah Papa Abidzar langsung meninggalkan Zayn dan juga Mama Ratih
Keesokan harinya, proses pemakaman Yasrul berjalan dengan lancar. Mama Ratih yang jatuh pingsan beberapa kali tidak membuat dirinya melewatkan pemakaman Yasrul. Tampak terlihat Papa Abidzar pun begitu kuat saat membantu Yasrul masuk ke dalam liang lahat.
"Ma... Kita harus pulang!" Ajak Zayn membantu Mama Ratih berdiri
"Zayn tunggu sebentar" Ucap Mama Ratih kembali menaburkan bunga di atas makam Yasrul dan segera pergi dalam keadaan menangis
Sesampainya di rumah Abidzar, Zayn berpamitan kepada sang Mama karena ada urusan yang sangat mendesak. Zayn berlari menuju ke arah mobil miliknya menuju ke tempat pemakaman Martin.
Dari kejauhan Zayn masih bisa mengikuti proses pemakaman Martin. Makam Martin tepat berada di samping Ayah Martin. Satu persatu para pelayat meniggalkan makam Martin. Di sana masih tertinggal Aida dan Melinda yang masih menangis.
"Maaf aku terlambat" Ucap Zayn lirih
"Zayn" Panggil Aida membalikkan tubuhnya saat mendengarkan suara yang tidak asing baginya
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Martin" Ucap Zayn menundukkan kepalanya
"Aida kita harus pergi!" Ajak Melihat segera menarik lengan Aida
"Izinkan aku berbicara dengan Aida sebentar saja" Ucap Zayn kepada Melinda
"Baiklah" Jawab Melinda lirih dan menenangkan dirinya agar tidak emosi mengingat dirinya sedang berkabung dan harus menyampingkan emosinya kepada Zayn
Zayn dan Aida melihat kepergian Melinda. Saat Melinda di rasa sudah jauh darinya. Zayn langsung memeluk Aida begitu erat. Dalam pelukannya Aida tidak bisa membendung air matanya lagi. Air matanya terus menerus keluar saat menatap wajah Zayn begitu intens.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud..." Ucap Zayn terpotong
"Lupakan semua di antara kita dan anggap saja tidak ada yang pernah terjadi di antara kita" Jawab Aida segera pergi
"Aida..." Panggil Zayn yang tidak dihiraukannya
__ADS_1
Aida terus berjalan dan menatap ke depan dengan penuh harapan. Dirinya percaya bahwa esok akan datang hari yang cerah di mana dirinya akan kembali seperti dulu lagi, Tertawa lepas tanpa beban.
Bersambung... ✍️