
Zayn berhasil di amankan polisi dan di jebloskan ke dalam penjara. Dirinya mendapatkan hukum atas kejahatan yang dilakukan olehnya.
Nampak terlihat lusuh Papa Abidzar berjalan keluar dari kantor polisi tersebut bersama sang pengacara. Papa Abidzar mengepalkan kedua tangan miliknya karena dirinya tidak berhasil membantu Zayn keluar dari kantor polisi.
Aida membuka kedua mata miliknya dan dapat melihat jelas Ben tengah terbaring di atas ranjang di samping dirinya.
"Akhirnya kau bangun juga sayang. Aku sangat menghawatirkan dirimu" Ucap Ben tersenyum melihat wajah Aida
"Ben maafkan aku" Jawab Aida lirih
"Berbaringlah dan jangan banyak bergerak!" Perintah Ben dengan memelototkan kedua bola mata miliknya
"Aku ingin berada di dekat mu" Ucap Aida kembali membaringkan tubuhnya
"Aku ada di sini, di samping mu" Jawab Ben mengulurkan tangan miliknya dan Aida segera meraihnya
"Wah... Wah wah. Rupanya kalian berdua sudah sadarkan diri" Ucap Rose yang masuk ke dalam ruangan tersebut melihat pemandangan yang begitu menakjubkan
"Rose" Panggil Aida lirih
"Sudah-sudah. Jangan banyak bergerak Kakak ipar kau masih sakit" Ucap Rose tersenyum berjalan mendekat ke arah Aida
"Di mana Papa?" Tanya Ben melihat keadaan di sekitarnya
"Papa sedang mengurus bajingan itu" Jawab Rose santai dan duduk di samping Aida
"Maksud mu Zayn?" Tanya Aida begitu lirih dan hati-hati
"Hm" Jawanya menganggukkan kepala
"Astaga. Sudah jangan terlalu di pikirkan. Kakak ipar kau ingin makan apa?" Tanya Rose segera berdiri dari tempat duduknya
"Hm... Aku tidak lapar" Jawab Aida memalingkan wajahnya
"Oh iya aku jadi lupa. Tante Melinda sedang dalam perjalanan menuju ke mari" Ucap Rose mencairkan suasana
"Ibu ku" Jawab Aida dengan segera
"Iya. Begitu aku memberi kabar tentang keadaan mu. Dirinya langsung pergi menuju ke bandara dan terbang ke Indonesia" Ucap Rose dengan tertawa
Di tempat lain, seseorang sedang memohon agar anaknya di bebaskan dari penjara. Papa Abidzar dan Mama Ratih tidak segan-segan bertamu di rumah Tangseng. Mereka bertekuk lutut di hadapan Papa Tangseng.
"Aida di mana kau, Nak" Ucap Melinda dengan berteriak saat masuk ke dalam rumah Tangseng
__ADS_1
Saat Melinda menyadari dirinya tercengang dan terpaku di tempatnya melihat kejadian langka di depan matanya.
"Apa aku salah bertamu di rumah orang" Ucap Melinda terbata-bata
"Tidak" Jawab Papa Tangseng dengan segera
"Di mana anakku?" Tanya Melinda kepada Papa Tangseng
"Temui anak mu di rumah sakit Berlin. Mereka berdua sampai saat ini belum sadarkan diri" Jawab Papa Tangseng menjelaskannya
"Apa" Ucap Melinda terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangan miliknya dan langsung pergi
"Kalian berdua pulanglah! Aku ingin beristirahat" Ucap Papa Tangseng mengusir Papa Abidzar dan Mama Ratih
Beberapa hari kemudian, Ben dan Aida sudah keluar dari rumah sakit. Ben selalu senantiasa berada di samping Aida. Bahkan Ben tidak bisa meninggalkan Aida sangat lama.
"Sayang pergilah jika kau ingin pergi ke kantor" Ucap Aida yang tengah duduk di ruang keluarga
"Aku tidak ingin pergi ke mana-mana" Jawab Ben bergelayut di lengan Aida
"Kau harus bekerja membantu Papa. Aku aman berada di rumah ini" Ucap Aida tersenyum manis melihat wajah Ben dan segera mencium bibir sang suami
"Apa kau yakin?" Tanya Ben membalas ciuman tersebut dengan *******
"Biarkan saja orang melihatnya" Ucap Ben menggelitik pinggangnya Aida
"Hm..." Terdengar suara Rose berdehem
"Rose sejak kapan kau berada di situ?" Tanya Aida segera berdiri dari tempat duduknya dan merasa malu
"Sejak kau mencium bibir Kakak ku" Jawab Rose santai dengan melihat layar ponsel miliknya
"Astaga Rose kau" Ucap Aida geram
"Salahnya siapa bermesraan di ruang keluarga" Jawab Rose santai dan segera duduk di antara mereka
"Sayang lihatlah adik mu" Ucap Aida kesal
"Jangan hiraukan dirinya. Lebih baik kita lanjutkan saja di kamar" Jawab Ben langsung mengendong Aida menuju ke dalam kamar miliknya
"Cepat berikan aku keponakan yang sangat lucu" Teriak Rose sekuat mungkin
Aida yang merasa malu dengan ucapan Rose segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan miliknya.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar miliknya, Ben membaringkan tubuh Aida di atas tempat tidur. Dirinya mulai membuka kancing pakaian milik Aida. Ben tersenyum apabila melihat mainan miliknya. Ben segera menyusu dan mulai memainkannya.
Di siang hari bolong mereka melakukan percintaan tanpa mengurangi rasa gairah di antara keduanya. Tubuh Aida terus bergoyang di atas tubuh Ben. Aida yang memimpin permainan tersebut mempercepat saat Ben ingin segera mengeluarkannya.
"Tunggu aku sayang" Ucap Aida berbisik di telinga Ben dan sesekali menjilati telinga Ben
"Ah..." Suara ******* yang keluar dari mulut mereka yang memenuhi seluruh sudut kamar tersebut
Keduanya terkapar lemas dan saling berpelukan.
"Aku sangat mencintai mu, Ben" Ucap Aida membenamkan wajahnya di dada bidang Ben
"Aku juga sangat mencintai Sayang" Jawab Ben kembali ******* bibir Aida yang dirasanya candu
"Ya Allah, jika Ben adalah kebahagiaan ku maka lindungilah dia dari orang-orang jahat" Ucap batin Aida yang tidak lepas memandangi wajah Ben
"Apa aku terlihat begitu tampan" Bisik Ben di telinga Aida yang membuyarkan lamunannya
"Ha. Hahaha suamiku yang manis" Jawab Aida tertawa
"Ben. Hentikan jangan lakukan itu kepada ku" Ucap Aida segera bangun dari atas tempat tidur dan berlari menjauh dari Ben, saat Ben akan menggelitik pinggangnya kembali
"Ben" Teriak Aida dengan tertawa terbahak-bahak yang merasa geli
Masa lalu hanya sebuah kenangan yang sangat pahit dalam hidup ku yang ku jalani bersama Zayn. Meskipun aku lahir atas kesalahan kedua orang tua ku, aku belajar dari masa lalu atas kebodohan mereka.
Aku berhak bahagia.
Bahkan semua orang berhak bahagia atas pilihan hidupnya masing-masing. Ya, kini aku memilih Ben dan menjatuhkan hatiku kepada dirinya.
Aku menatap ke depan di sana ada cahaya yang akan selalu menyinari setiap langkah kaki kita. Aku, Ben dan calon anak ku akan hidup bahagia bersama orang-orang tercinta.
"Kak tersenyum dan lihatlah ke arah kamera" Rose berteriak memberikan arahan kepada Ben dan juga Aida
"Bagaimana? Apa fotonya bagus?" Tanya Ben memastikannya
"Lumayan" Jawab Rose sedikit tersenyum
"Baiklah semua orang kumpul kemari kita akan foto keluarga!" Perintah Ben memberikan arahan kepada mereka
Seluruh keluarga Tangseng sudah berada di samping Papa Tangseng. Begitu juga Melinda dirinya sudah berada di antara mereka. Suara tertawa di antara mereka membuat hati Aida merasa senang.
"Lebih mendekat" Bisik Ben menarik pinggang Aida agar lebih mendekat berada di samping dirinya
__ADS_1
_____________________TAMAT________________