Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 20


__ADS_3

"Aku akan mengantarkan mu ke kamar Aida. Ikuti aku!" Perintah Bi Yanti yang berjalan lebih dahulu. Sedangkan Zikri mengikutinya dari belakang Bi Yanti


"Krekk..." Suara pintu terbuka


Stt


"Apa dia tidur?" Tanya Zikri dengan perlahan


"Sepertinya begitu" Jawab Bi Yanti


"Bolehkah aku duduk di sana?" Tanya Zikri menunjuk ke arah kursi rias Aida


"Tapi..." Jawab Bi Yanti terpotong


"Aku tidak akan menggangunya" Ucap Zikri berjalan dan segera duduk dengan pandangan menatap wajah Aida yang tengah tertidur lelap


"Hm..." Suara Bi Yanti berdehem


"Iya. Ada apa?" Tanya Zikri


"Hm..." Suara Bi Yanti berdehem kembali


"Katakan" Ucap Zikri tersenyum melihat wajah Bi Yanti


"Apa sebaiknya Tuan tunggu di luar saja. Ya, ini hanya menjaga sopan santun saja dan tidak akan menimbulkan masalah nantinya" Jawab Bi Yanti memberikan saran kepada Zikri


"Aku tidak akan berbuat macam-macam kepada Aida percayalah, Bi" Ucap Zikri


"Tapi Tuan" Jawab Bi Yanti


"Bi Yanti boleh kok di sini juga temani aku" Ucap Zikri sedikit tertawa


"Ha. Apa? Apa Tuan pikir aku tidak memiliki pekerjaan yang lain" Jawab Bi Yanti protes


"Apa di rumah semewah ini tidak punya air minum" Ucap Zikri batuk-batuk mengalihkan pembicaraannya


"Oh. Maafkan aku Tuan. Rupanya anda haus, ya" Jawab Bi Yanti malah tertawa terbahak-bahak


"Bisa tolong buatkan aku jus... Jus buah!" Perintah Zikri dengan lirih dan sedikit berbisik


"Siap Tuan. Aku akan membuatkan minuman spesial untuk anda" Ucap Bi Yanti menundukkan kepalanya dan segera pergi


"Terimakasih" Jawab Zikri


Di tempat lain


Seseorang dalam perjalanan pulang, tampak dari raut wajah mereka sangatlah kesal dan ingin segera meluapkan emosi tersebut.


"Brak..." Suara pintu di tendang oleh seorang laki-laki


"Anda siap?" Tanya Zikri segera berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri laki-laki itu

__ADS_1


"Dasar bajingan" Umpatnya dan segera melayangkan pukulannya kepada Zikri


Zikri yang tidak tahu apa-apa sempat membalas pukulan laki-laki itu dan pada akhirnya Aida yang melerai keduanya.


"Apa kau membela pria itu?" Tanya Papa Abidzar menunjuk ke arah wajah Zikri


"Pa. Aku bisa menjelaskan ini semua" Jawab Aida dengan rasa gugup


"Bukk..." Suara tendangan bebas yang mengenai tubuh Zikri. Zikri tergeletak lemas di atas lantai dan Aida berusaha menolongnya


"Hentikan semua ini" Teriak Aida sekuat mungkin


"Ha. Apa? Aku tidak mempercayaimu" Sambung Mama Ratih tidak percaya dengan tindakan Aida


"Ma" Ucap Aida


"Ya Allah. Tuan..." Teriak Bi Yanti menjatuhkan gelas yang berisi jus untuk Zikri dan segera berlari mendekat ke arah mereka


"Apa kau juga bersekongkol dengan pria itu?" Tanya Papa Abidzar kepada Bi Yanti dengan menunjuk ke arah wajah Zikri


"Apa maksud, Tuan?" Tanya Bi Yanti menundukkan kepalanya


"Apa yang sudah dia lakukan bersama pria itu di dalam kamar ini?" Tanya Papa Abidzar


"Pria itu sebenarnya pacar Non Aida. Namanya Zikri dan dia sedang menjenguk Nona Aida yang sedang sakit. Aku pastikan pria itu tidak berbuat macam-macam kepada Nona Aida" Jawab Bi Yanti menjelaskannya secara perlahan


"Sejak kapan kau memiliki pacar Aida Malik Abidzar?" Tanya Papa Abidzar geram


"Kenapa kau malah menangis? Bukankah ini berita sangat bagus untuk kita?" Tanya Zikri dengan memegang erat tangan Aida


"Jangan sentuh anakku" Teriak Papa Abidzar segera menyeret Aida menjauh dari Zikri


"Kau menyakitinya" Ucap Zikri mencoba meraih tangan Aida


"Zik, tolong pergilah dari rumah ku! Sepertinya ada yang salah paham!" Perintah Aida dengan memohon


"Kenapa kau jadi mengusir ku? Aku akan membantu menjelaskan semuanya kepada Papa mu" Ucap Zikri segera berdiri


"Kau tidak perlu menjelaskannya, cepat pergi dari rumah ku sekarang juga!" Sambung Mama Ratih dengan menunjukkan jalan keluar dari kamar tersebut


"Maafkan aku. Jika pertemuan pertama kita seperti ini. Aku harap secepatnya kita akan bertemu kembali dengan suasana yang nyaman" Jawab Zikri segera pergi


"Ck. Kau pikir kita akan bertemu kembali" Ucap Papa Abidzar marah dan penuh emosi


Papa Abidzar dan Mama Ratih mempercepat kepulangannya ke Indonesia di karenakan berita yang menyeret nama baik keluarganya.


Papa Abidzar yang mengetahui segalanya lebih memilih akan membereskan semuanya dengan rapi. Namun yang sangat di sayangkan, dirinya melihat nampak jelas orang yang berada di dalam foto tersebut adalah Aida.


Mungkin orang lain akan menganggap foto wanita tersebut adalah pacar Zayn. Namun tidak dengan keluarga Abidzar.


Setelah berjam-jam lamanya Papa Abidzar menelepon Zayn yang tidak bisa di hubungi. Akhirnya Papa Abidzar memutuskan untuk mengintrogasi Aida terlebih dahulu.

__ADS_1


"Jelaskan semuanya" Ucap Papa Abidzar dengan pandangan membunuhnya


Begitu panjang dan lebar Aida menjelaskan. Papa Abidzar dapat menarik kesimpulan bahwa Zayn lah yang patut di salahkan.


"Brengsek beraninya dia mengajakmu ke bar hanya untuk mabuk-mabukan" Umpat Papa Abidzar dengan tangan mengepal


"Kau tidak perlu menyalahkannya" Ucap Mama Ratih


"Apa maksudmu?" Tanya Papa Abidzar segera melihat ke arah wajah Mama Ratih begitu intens


"Ck. Kau pikir sudah bagus menjadi orang tua? Kau sendiri juga sama seperti dia" Jawab Mama Ratih segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi


"Ma..." Teriak Papa Abidzar tidak terima dengan ucapan Mama Ratih


Papa Abidzar mengejar kepergian Mama Ratih yang sudah masuk ke dalam kamar miliknya.


"Apa kau sengaja ingin merendahkan ku di hadapan Aida?" Tanya Papa Abidzar mencengkeram lengan Mama Ratih begitu kuat


"Dia bukan wanita bodoh dan dia wanita berpendidikan. Dia bisa menolak ajakan, Zayn" Jawab Mama Ratih penuh dengan penekanan


"Ucapan mu benar. Tapi, jangan salahkan Aida" Ucap Papa Abidzar memohon


"Kau...! Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah kepada anak-anakku?" Tanya Mama Ratih berjalan menuju ke tempat tidur miliknya


"Aku" Jawab Papa Abidzar dengan menunjuk ke dirinya sendiri


"Anak-anakku yang malang" Ucap Mama Ratih menangis sesenggukan


"Aku tidak akan berbicara seperti ini. Kalau anak-anak tidak bertingkah" Jawab Papa Abidzar lirih dan memalingkan wajahnya


"Kalau selalu berpihak kepadanya, tanpa memperhatikan anakmu yang lainnya" Ucap Mama Ratih dengan mengusap air matanya


"Aku hanya ingin keluarga kita harmonis dan tidak ada gosip. Kalau beredar berita-berita konyol seperti ini akan mempengaruhi perusahaan" Jawab Papa Abidzar menjelaskannya


"Kau hanya mementingkan kepentingan mu sendiri" Ucap Mama Ratih kesal


"Maafkan aku. Istriku" Jawab Papa Abidzar begitu lirih


"Keluarlah aku ingin sendiri" Ucap Mama Ratih mengusir Papa Abidzar


"Kenapa kau malah mengusir ku?" Tanya Papa Abidzar tidak terima


"Aku ingin sendiri" Teriak Mama Ratih histeris


"Aku ingin istirahat di kamar ku" Teriak Papa Abidzar segera naik ke atas tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya yang terasa lelah


"Ok. Baik" Ucap Mama Ratih segera keluar dari kamar tersebut dan membanting pintu kamar begitu kuat


"A... Sial" Umpat Papa Abidzar dengan mengacak-acak rambut miliknya sendiri melihat kepergian sang istri


Bersambung... ✍️

__ADS_1


__ADS_2