
"Kenapa baru datang sekarang? Setelah aku sudah membesarkan dan merawat anaknya. Apa mereka pikir rumah ini panti asuhan" Teriak Mama Ratih histeris
"Kerahkan semua anak buah mu untuk mencari Aida Malik Abidzar!" Perintah Papa Abidzar dalam telepon
"Ma... Mama" Panggil Papa Abidzar kepada sang Istri
"Jangan ganggu aku" Ucap Mama Ratih mengangkat kedua tangan miliknya
"Ok baiklah" Jawab Papa Abidzar segera keluar dari dalam kamar miliknya dan pergi
Beberapa jam kemudian, Aida dapat diamankan dan di bawa pulang ke rumah Abidzar. Papa Abidzar sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Aida.
"Jadi kalian semua orang-orang Papaku" Ucap Aida tercengang
"Kau bukan anakku" Jawab Papa Abidzar segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah datangnya Aida
"Jangan berbicara seperti itu! Kau menyakiti hati ku" Ucap Aida menundukkan kepalanya
"Kau bukan anakku dan sekali lagi. Kau adalah tawanan ku" Jawab Papa Abidzar segera mengangkat wajah Aida agar melihat dirinya
"Pa... Hentikan kekonyolan ini semua" Ucap Aida tertawa terbahak-bahak
"Ck. Kau harus membayar ini semua Aida. Kau sudah mempermalukan keluarga ku di depan para khalayak" Jawab Papa Abidzar meringis dan memalingkan wajahnya
"Pa... Zayn memperkosa ku! Apa Papa tidak akan pernah menghukum Zayn. Kalau Papa tidak menghukum Zayn biarkan polisi yang akan menghukumnya" Ucap Aida menangis
"Zayn tidak seperti yang kau ucapkan. Aku tahu anakku seperti apa?" Jawab Papa Abidzar segera duduk kembali di ruang tamu
"Pa..." Panggil Aida memelas dan langsung duduk di samping Papa Abidzar
"Kedua orang tuamu sudah menjebak ku. Dan aku tidak akan membiarkan mu menjebak anakku. Aku akan melindungi Zayn" Ucap Papa Abidzar menjelaskannya
"Papa dan Mama Ratih lah kedua orang tua ku. Orang yang datang kemari hanya mengaku sebagai orang tua ku. Mereka berbohong, mereka tidak memiliki bukti yang cukup kuat" Jawab Aida membantahnya
"Sudah ada buktinya di dalam selembar kertas itu" Ucap Papa Abidzar
"Ayo, kita semua pergi ke rumah sakit! Untuk mencari kebenarannya. Kita harus melakukan tes DNA" Ajak Aida dengan menarik lengan Papa Abidzar
"Sudah terlambat. Nyatanya kau bukan anakku" Ucap Papa Abidzar begitu lirih. Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Dirinya ingin sekali memastikannya sendiri
"Hah... Ternyata kau gegabah dalam hal ini. Kau kalah dengan orang-orang itu" Jawab Aida lemas dan tidak bersemangat lagi
"Kurung dia di dalam kamarnya dan jangan biarkan dia keluar dari dalam kamar miliknya!" Perintah Papa Abidzar dengan tegas
"Pa. Kenapa seperti ini kepada ku" Ucap Aida berteriak saat mereka menarik paksa dirinya untuk masuk ke dalam kamar miliknya
__ADS_1
Papa Abidzar berjalan menuju ke ruang kerja miliknya. Dirinya segera duduk di kursi kerjanya dengan memijat kepalanya yang terasa pening akibat ulah para anak-anaknya dan juga mantan kekasihnya.
"Ah..." Teriak Papa Abidzar melempar semua barang yang ada di atas meja miliknya
"Brengsek" Ucap Papa Abidzar mengebrak meja
Di tempat lain, Martin dan Melinda sedang berusaha keras mencari keberadaan seorang Aida Malik Abidzar. Melinda dan Martin mulai mencari Aida di kampusnya. Di sana banyak para mahasiswa yang memberikan penjelasan kalau Aida tidak masuk kuliah. Tidak memutuskan semangatnya kini Melinda dan Martin mencari informasi kepada teman-teman terdekat Aida.
"Maafkan aku Nyonya. Tadi pagi Aida berada di rumah ku. Tapi... Tapi sekarang dia sudah pergi" Ucap Soraya menundukkan kepalanya
"Bagaimana bisa?" Tanya Melinda dengan mengigit kuku miliknya sendiri
"Minggir! Biarkan aku yang akan memastikannya sendiri" Ucap Martin segera masuk ke dalam rumah Soraya
"Tuan... Tuan. Apa yang Tuan lakukan dengan mengeledah rumah ku. Aku tidak berbohong Tuan" Ucap Soraya mengikuti langkah kaki Martin yang sedang mencari Aida di rumah miliknya
Beberapa menit kemudian.
"Bagaimana?" Tanya Melinda saat melihat Martin keluar dari rumah tersebut
"Tidak ada" Jawab Martin dengan mengepalkan kedua tangan miliknya
"Maafkan kami. Sudah membuat mu tidak nyaman dengan kedatangan kami" Ucap Melinda dengan tersenyum manis kepada Soraya
"Hm" Jawabnya menganggukkan kepalanya
"Baik Tuan" Jawab Sora mengagukkan kepalanya dan segera mengambil kartu tersebut
"Baiklah kita pamit pergi dulu" Sambung Melinda tersenyum dan langsung pergi bersama dengan Martin yang merupakan sang kekasih
Di dalam mobil, Martin lebih memilih diam dan fokus menyetir. Sedangkan Melinda yang duduk di kursi samping hanya bisa melihat pemandangan di luar mobil melalui kaca jendela mobil tersebut.
"Sepertinya kita harus melaporkannya kepada polisi" Ucap Melinda lirih
"Apa kau sudah gila?" Tanya Martin langsung menepikan mobil miliknya
"Aku harus bertemu dengan anakku" Jawab Melinda dengan berteriak
"Sabarlah dan jangan gegabah" Ucap Martin memeluk tubuh Melinda
"Di mana tujuan kita selanjutnya?" Tanya Martin segera melepaskan pelukannya
"Zayn" Jawab Melinda lirih
Benar sekali setelah mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya mereka sudah mengetahui di mana rumah milik seorang aktor tampan yang bernama Zayn Malik Abidzar. Dengan langkah terburu-buru Melinda segera memencet bel rumah Zayn.
__ADS_1
"Siapa yang bertamu? Padahal hari ini tidak ada jadwal aku bertemu dengan seseorang" Ucap Zayn segera bangun
Orang itu terus saja memencet bel rumah. Hingga membuat Zayn marah karena berisik saat di dengarnya.
"Tidak tahu sopan santun" Ucap Zayn segera membuka pintu dan betapa terkejutnya Zayn ketika melihat Melinda yang sedang bertamu di rumah miliknya. Zayn masih mengingat wajah wanita itu dengan jelas ketika sang Papa sedang melakukan makan siang di salah satu restoran ternama dengan begitu mesra. Zayn bahkan sering memergoki Papa Abidzar saat berkencan dengan wanita tersebut
"Hai..." Sapa Melinda tersenyum manis melihat Zayn Malik Abidzar
"Hm" Gumamnya dengan memalingkan wajahnya
"Apa kau masih marah dengan ku?" Tanya Melinda meraih tangan Zayn
"Jangan sentuh aku!" Jawab Zayn mengibaskan tangan Melinda
"Ups sorry" Ucap Melinda tertawa
Zayn tidak lagi menangapi ucapan Melinda. Dirinya langsung kembali masuk ke dalam rumah miliknya.
"Tunggu" Ucap Martin menahannya
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Zayn membalikkan tubuhnya
"Di mana Aida?" Tanya Martin balik
"Aida... Aku tidak tahu" Jawab Zayn singkat dan berkacak pinggang di hadapan mereka
"Jangan berbohong" Ucap Martin
"Buat apa aku berbohong kepada kalian, Ck" Jawab Zayn tersenyum licik
"Kau tidak merasa bersalah setelah apa yang kau lakukan kepada anakku?" Tanya Martin mengepalkan kedua tangan miliknya
"Aku tidak merasa bersalah dan dia pantas mendapatkan itu semua" Jawab Zayn dengan sedikit tertawa
"Brengsek" Ucap Martin segera meninju pipi Zayn hingga mengeluarkan darah di sudut bibir miliknya
"Pengawal. Seret orang ini keluar dari rumah milikku! Aku tidak ingin rumah ku kotor dan bau sampah!" Teriak Zayn memberikan arahan kepada pengawalnya yang bersembunyi di setiap titik sudut rumah miliknya
"A..." Teriak Martin memberontak
"Berikan dia salam perkenalan dari ku karena sudah berani memukulku!" Perintah Zayn kembali tersenyum melihat wajah Martin yang tidak berdaya saat di lumpuhkan oleh para pengawalnya
Zayn dapat melihat jelas para pengawalnya menghajar Martin hingga babak belur dan di sana juga dapat terlihat jelas Melinda sedang menolong Martin dari para anak buah Zayn.
Zayn meninggalkan mereka dan segera masuk ke dalam rumah miliknya dengan memegang pipinya yang terasa sakit.
__ADS_1
Bersambung... ✍️