Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 46


__ADS_3

Ben kembali membuat kegaduhan di dalam keluarga miliknya. Ben memaksa Rose agar segera membatalkan rencana menikah dengan Zayn. Ben membeberkan semua kelakuan bejat Zayn di depan Rose. Tidak sedikit pun Rose berkecil hati untuk menikah dengan Zayn. Seolah-olah Rose di buta kan soal hati.


"Bodoh kau akan menyesal jika kau tahu siapa wanita yang Zayn cintai" Umpat Ben kepada sang adik


"Aku tahu. Aida Malik Abidzar kan atau Baby Ayunda" Jawab Rose dengan mata berkaca-kaca


"Rose" Teriak Ben sekuat mungkin


"Kau sama seperti Zayn. Sama-sama bajingan kau bahkan bisa melukai hati Anaya" Ucap Rose mengigat kembali Anaya


"Rose. Anaya yang bersalah karena sudah membohongi Ben terlebih dahulu" Sambungan Papa Tangseng berpihak kepada Ben


"Papa..." Ucap Rose segera pergi dan marah


"Pa. Apa Papa sengaja merencanakan perjodohan konyol ini?" Tanya Ben dengan pandangan membunuh


"Turunkan pandangan mu, Ben" Gertak Papa Tangseng


"Ck. Perjodohan macam apa ini, jika hanya pihak perempuan yang mencintai pihak laki-laki" Ucap Ben ketus


"Dalam perjodohan ini tidak harus saling mencintai. Yang terpenting adalah bagaimana kita memperluas perusahaan kita" Jawab Papa Tangseng berkacak pinggang di hadapan Ben


"Oh rupanya perjodohan perusahaan" Ucap Ben tertawa terbahak-bahak


"Kau tidak mengerti soal bisnis" Jawab Papa Tangseng melihat wajah Ben begitu intens


"Ck. Terserah kau saja, aku sudah mengingatkan kepada kalian" Ucap Ben berjalan meninggalkan Papa Tangseng


"Tunggu" Cegah Papa Tangseng


"Ada apa lagi?" Tanya Ben membalikkan tubuhnya


"Kau harus menetap di Indonesia! Kau tidak boleh kembali ke Singapura" Jawab Papa Tangseng


"Aku masih harus menyelesaikan kuliah ku" Ucap Ben


"Berhenti kuliah saja" Jawab Papa Tangseng


"Tidak mau" Ucap Ben terus berjalan menuju ke arah luar rumah


Ben pergi meninggalkan rumah miliknya dengan mengendarai mobil tersebut secara ugal-ugalan. Tak jauh di belakang mobil miliknya ada mobil lainnya yang mengikuti dirinya. Membuat Ben merasa kesal kembali saat mengetahui orang-orang itu adalah orang suruhan Pak Tangseng.


"Baru beberapa hari di Indonesia terasa seperti di dalam neraka. Apa aku anak kecil yang setiap tingkah laku ku harus di awasi terus" Ucap Ben segera menepikan mobil miliknya dan langsung keluar dari dalam mobil miliknya


Mobil mereka pun berhenti tidak jauh darinya. Membuat Ben berjalan begitu cepat menghampiri mobil tersebut. Ben mengetuk kaca mobil itu secara brutal. Mengakibatkan orang yang berada di dalam mobil itu harus keluar.


"Bukk" Sebuah tendangan bebas yang Ben layangkan di wajah orang-orang itu


Mereka merasa kesakitan dan tidak melawannya.


"Apa kalian senang mengikuti aku?" Tanya Ben mencekik leher salah satu orang diantaranya


"Tuan. Tolong lepaskan! Anda menyakitinya" Jawab Salah satu orang di antara mereka ada yang berbicara


"Makanya jangan ikut aku terus" Bentak Ben segera pergi meninggalkan mereka


Di tempat lain, seseorang sedang patah hati. Dengan melihat sang wanitanya melalui gambar foto yang berada di dalam ponsel miliknya. Orang itu terus bergumam akan segera menemukan wanitanya.

__ADS_1


"Zik... Sudahlah jangan seperti ini" Ucap Dina membawa kepala Zikri berada di pundaknya


"Aku sangat mencintainya. Bahkan Aida pergi begitu saja tanpa pamit kepada ku" Jawab Zikri menangis sesenggukan


"Mungkin Aida sedang ada masalah yang harus di selesaikan" Ucap Dina terbata-bata


"Masalah apa. Seharusnya dia berbagai masalah itu dengan ku dan tidak harus ada yang di tutup-tutupi" Jawab Zikri segera menghapus air mata miliknya yang terus mengalir


"Tapi... Ngomong-ngomong kemarin itu benar kan Zayn melamar Rose anak Pak Tangseng?" Tanya Dina memastikannya kembali


"Hm" Jawabnya dengan anggukan kepala


"Bagaimana bisa Aida meniggalkan kuliahnya setelah dirinya tinggal beberapa bulan lagi akan menyusun skripsi" Ucap Dina


"Aku ingin bertemu dengan Aida. Aku tidak peduli jika dia pernah berhubungan dengan Zayn. Aku tidak mempedulikannya" Teriak Zikri dengan mengacak-acak rambutnya sendiri


"Hm... Kau begitu lemah saat patah hati. Ayo, kita pulang!" Ajak Dina segera mengandeng tangan Zikri


"Biarkan aku di sini saja" Ucap Zikri menolak


"Ya sudah aku juga akan duduk di sini menunggu mu" Jawab Dina tersenyum manis melihat ke arah wajah Zikri


Hingga matahari terbit dari arah timur. Dina dan juga Zikri masih tetap terjaga di tepi pinggir pantai. Mereka memutuskan untuk pulang dan mengendarai masing-masing mobil miliknya meninggalkan pantai tersebut.


Ben dan Zayn kembali bertemu di kantor Tangseng grup. Zayn yang di paksa oleh Papa Abidzar agar segera bertemu dengan calon mertuanya, untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting.


Dalam tatapannya yang membunuh Ben terus mengawasi Zayn. Zayn tengah berbicara dengan Papa Tangseng.


"Papa" Panggil Rose saat memasuki ruangan Papa Tangseng


"Maafkan aku Zayn" Ucap Rose bergelayut di lengan Zayn


"Tidak masalah. Jika harus menunggu wanita cantik seperti dirimu" Jawab Zayn tersenyum melihat wajah Rose begitu dekat


"Ck. Dasar buaya" Ucap Ben lirih


"Kak Ben. Ternyata kau ada di sini juga" Ucap Rose yang baru menyadarinya


"Hm" Gumamnya ketus


"Zayn... Rose... Cepat pergi!" Perintah Papa Tangseng


"Kita pamit dulu, Pa" Pamit Zayn segera mengandeng tangan Rose


"Kak" Panggil Zayn kepada Ben yang tengah duduk tak jauh darinya


"Ck. Dasar buaya" Ucap Ben memalingkan wajahnya


"Jangan hiraukan Kak Ben" Sambung Rose dengan tertawa


"Hm" Gumam Zayn mengagukkan kepalanya


Zayn dan Rose segera pergi meninggalkan kantor Tangseng grup. Mereka pergi ke salah satu restoran untuk makan siang. Di dalam mobil Rose masih bergelayut manja di lengan Zayn. Zayn tidak merasa risih sedikit pun melihat Rose seperti itu kepada dirinya. Sesekali Zayn tersenyum melirik wajah Rose yang duduk di samping dirinya.


Mereka menepikan mobilnya di restoran Kunis. Zayn dan Rose segera duduk dan mulai memesan makanan. Sembari menunggu pesanan makanan yang sudah di pesannya. Zayn dan Rose menikmati alunan musik yang di sajikan oleh grup band terkenal.


Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Zayn dan Rose. Laki-laki itu menyiramkan sebuah air ke arah wajah Zayn. Di detik berikutnya Zayn segera berdiri dari tempat duduknya. Zayn menatap laki-laki itu dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kau" Ucap Zayn menunjuk ke arah wajah Zikri


"Apa kau sudah meng*ga*ga*hi wanita ini juga?" Tanya Zikri berkacak pinggang di hadapan mereka


"Apa maksud mu?" Tanya balik Zayn yang tidak mengerti


"Sekarang kau pura-pura tidak tahu. Setelah mengetahui bagaimana rasanya" Jawab Zikri memelototkan kedua bola mata miliknya


"Plak..." Rose menampar pipi Zikri begitu kuat


"Rose. Apa yang kau lakukan?" Tanya Zayn menarik paksa tangan Rose


"Aku tidak suka melihat dia berbicara seperti itu kepada mu" Jawab Rose marah


"Aku tidak apa-apa" Ucap Zayn lirih dan masih menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran Kunis


"Hah... Apa kau begitu mencintai Zayn sehingga matamu buta?" Tanya Zikri dengan mengumpat


"Jaga ucapan mu" Jawab Rose kembali mengangkat tangan miliknya dan akan menampar pipi Zikri namun dirinya urungkan


Zayn meletakkan beberapa lembar uang itu di atas meja untuk membayar makanan yang belum dirinya makan. Zayn menarik paksa Rose meninggalkan restoran tersebut dengan menahan emosinya.


Zayn langsung mengendarai mobil miliknya dan mengantar Rose pulang ke rumahnya.


"Zayn. Apa kau tidak ingin masuk ke dalam?" Tanya Rose


"Lain kali saja" Jawab Zayn tersenyum dan segera menyalakan mesin mobil miliknya dan pergi


Rose melihat kepergian Zayn dengan raut wajah yang sendu. Rose langsung masuk ke dalam mobil miliknya dan pergi. Rose yang dalam keadaan marah pergi menuju ke salah satu pusat perbelanjaan.


Rose sengaja melakukan itu untuk mengusir rasa sakit hatinya.


"Rose..." Panggil Anaya melambaikan kedua tangan miliknya


"Kak..." Teriak Rose segera berlari menuju ke arah Anaya menghamburkan pelukannya


"Bagaimana kabar mu?" Tanya Anaya tersenyum kepada Rose


"Baik. Bagaimana dengan mu?" Tanya Rose balik


"Baik juga. Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian tahun lamanya tidak berjumpa" Jawab Anaya menggenggam erat tangan Rose


"Aku pikir kau akan meninggalkan Jakarta selamanya" Ucap Rose dengan sedikit tertawa


"Hm... Rasanya berat meninggalkan Indonesia" Jawab Anaya lagi-lagi tersenyum kepada Rose


"Mainlah ke rumah ku, Kak" Ajak Rose


"Hm..." Gumamnya


"Apa kau tidak merindukan Kak Ben? Kak Ben ada di Indonesia lho" Ucap Rose menjelaskannya


"Benarkah seperti itu" Jawab Anaya menjelaskannya


"Iya benar" Ucap Rose segera berjalan mengajak Anaya pergi mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut


Bersambung... ✍️

__ADS_1


__ADS_2