
Keluarga besar Tangseng awalnya percaya dengan berita yang beredar di media sosial. Dan pada akhirnya Pak Tangseng menelepon Papa Abidzar meminta penjelasan langsung kepada Papa Abidzar.
"Ha. Hahaha... Tidak mungkin anakku Zayn berbuat seperti itu. Dia hanya wanita murahan yang ingin menumpang hidup di keluarga kita" Jawab Papa Abidzar menjelaskannya di dalam telepon tersebut
"Astaga. Benarkah seperti itu, aku hampir tidak mempercayainya" Ucap Pak Tangseng dengan tertawa
"Kau tahu kan kalau anakku yang bernama Zayn Malik Abidzar seorang laki-laki tampan. Banyak digandrungi perempuan" Jawab Papa Abidzar
"Ya. Aku tahu itu" Ucap Pak Tangseng lirih
"Sepertinya kita harus bertemu dan membicarakan soal anak-anak kita" Jawab Papa Abidzar
"Iya benar. Lebih cepat lebih bagus" Ucap Pak Tangseng menanggapinya
"Aku akan memberikan alamat di mana kita harus segera bertemu" Jawab Papa Abidzar segera mengakhiri teleponnya
Papa Abidzar berencana akan menikahkan Zayn dengan anak perempuan Pak Tangseng yang bernama Rose. Dalam pertemuan kemarin Papa Abidzar sangat tertarik dengan Rose dan juga tawaran Pak Tangseng.
"Siapa yang menelepon mu?" Tanya Mama Ratih melihat ke arah wajah Papa Abidzar yang tengah berbaring di samping dirinya
"Pak Tangseng" Jawab Papa Abidzar singkat
"Ada apa?" Tanya Mama Ratih yang ingin tahu
"Soal berita itu" Jawab Papa Abidzar menarik selimut dan merapikan bantal miliknya
"Apa kau yakin wanita murahan itu tidak akan membuka mulutnya lagi dan membuat berita aneh?" Tanya Mama Ratih memastikannya
"Hm" Gumamnya
"Jadi, berapa uang yang dia minta?" Tanya Mama Ratih menyenderkan tubuhnya di tempat tidur
"Tidak ada. Aku sudah mengancamnya" Jawab Papa Abidzar tersenyum
"Wow... Sepertinya kau punya keahlian khusus suamiku" Ucap Mama Ratih membaringkan tubuhnya dan segera memeluk Papa Abidzar
"Apa kau lupa siapa aku?" Tanya Papa Abidzar membalas pelukan sang istri
"Tidak" Jawab Mama Ratih singkat dan langsung mencium pipi Papa Abidzar
Keesokan harinya, semua orang berada di ruang makan melakukan sarapan pagi. Raut wajah Zayn masih murung dan belum bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Apa kau tidak pergi ke kantor?" Tanya Mama Ratih menyodorkan piring kepada Zayn yang berisi nasi goreng
"Tidak" Jawab Zayn lirih
"Zayn hari ini jam dua belas siang kita ada pertemuan dengan perusahaan Tangseng. Aku harap kau datang tepat waktu!" Perintah Papa Abidzar melirik wajah Zayn
"Hm" Gumamnya menganggukkan kepala
"Baiklah aku pergi dulu" Ucap Papa Abidzar mencium pipi Mama Ratih dan segera pergi
Setelah melihat kepergian Papa Abidzar, Mama Ratih masih memandangi wajah Zayn begitu intens.
"Ada apa?" Tanya Zayn yang mengetahui sedari tadi Mama Ratih melihat ke arah wajahnya
"Mama mohon ikuti semua ucapkan Papa mu" Jawab Mama Ratih tersenyum dengan menggenggam tangan Zayn
"Hm" Gumamnya dengan menganggukkan kepala
Setelah selesai sarapan Zayn segera masuk ke dalam kamar miliknya dan bersiap. Zayn yang mengenakan baju santai segera keluar dari dalam kamar miliknya. Zayn mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumah pribadi miliknya.
Beberapa hari belakangan ini Zayn memerintah Bayu. Agar beristirahat dan tidak mengikuti dirinya terus menerus. Zayn muak dan jijik saat berada di dekat Bayu. Begitu juga dengan rasa mual muncul kembali saat Bayu berada di dekat Zayn.
Entahlah dorongan dari mana hari ini Zayn sangat ingin makan sate lilit yang harus di beli langsung dari Bali. Zayn memerintah Bayu agar segera membawa sate lilit untuk dirinya. Bayu terkejut melihat perubahan tingkah laku Zayn belakang ini sangat menyiksa dirinya.
"Aku tidak ingin tahu. Pokoknya cepat pergi ke Bali sekarang juga" Teriak Zayn dari dalam rumah
"A..." Teriak Bayu frustasi dan segera pergi
Bayu melakukan perjalanan ke Bali hanya untuk membeli sate lilit. Dalam perjalanannya Bayu mengumpat mungkin Tuannya itu sudah gila. Karena di tinggal Aida pergi ke Singapura.
Hari mulai siang Zayn masih terlelap dalam tidurnya. Zayn tertidur pulas di ruang tamu dengan mulut yang menganga ke atas. Beberapa panggil masuk tidak terjawab olehnya. Dan pada akhirnya Johan diutus Papa Abidzar untuk mencari keberadaan Zayn di rumah pribadi Zayn.
"Tuan" Panggil Johan mengetuk pintu tersebut dengan sangat kuat
Berulang kali Johan memanggil namanya. Bahkan bel rumah tidak ampuh untuk membangun tidur Zayn.
Johan yang akan mendobrak pintu tersebut malah terjatuh di atas lantai. Saat Zayn tiba-tiba membuka pintu tersebut tanpa aba-aba.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Zayn menguap
"Hari ini Tuan ada pertemuan dengan Pak Tangseng di restoran manik" Ucap Johan menjelaskannya dengan sikap tegak
__ADS_1
"Oh... Ya... Ya Aku sudah tahu" Jawab Zayn kembali duduk di kursi ruang tamu
"Tuan" Panggil Johan lirih
"Ada apa lagi?" Tanya Zayn dengan malas
"Sebaiknya Anda segera pergi ke restoran manik. Pak Tangseng, Rose, dan Tuan Abidzar sudah menunggu Anda" Jawab Johan menundukkan kepala
"Baiklah" Ucap Zayn lemas dan segera pergi
"Biarkan aku yang menyetir! Sepertinya Anda sedang sakit" Cegah Johan saat Zayn akan masuk ke dalam mobil tersebut
"Hm" Gumamnya segera masuk dan duduk di belakang pengemudi
Zayn berjalan masuk ke dalam restoran tersebut dengan langkah gontai. Tubuh Zayn tampak tidak bisa di ajak kompromi.
"Zayn" Panggil seorang wanita melambaikan kedua tangan miliknya saat melihat Zayn masuk ke dalam restoran tersebut
"Hm" Jawabnya menganggukkan kepala
"Zayn. Kenapa kau berpakaian seperti ini?" Tanya Papa Abidzar lirih
"Apa ada yang salah dengan pakaian ku?" Tanya Zayn segera berdiri dari tempat duduknya dan melihat pakaian yang dirinya kenakan
"Tidak masalah Om. Jika Zayn berpakaian seperti itu. Zayn tampak jauh lebih tampan memakai pakaian santai" Jawab Rose basa-basi
"Benarkah" Sambung Papa Abidzar tersenyum dan menarik tubuh Zayn agar duduk kembali
Rose menyodorkan sebuah makanan seafood kepada Zayn. Dan di detik berikutnya Zayn berlari menuju ke toilet untuk memuntahkan sesuatu. Papa Abidzar segera memerintahkan Johan untuk mengikuti Zayn.
"Maaf" Ucap Papa Abidzar lirih dan tersenyum kepada mereka
"Tidak masalah" Jawab Rose
Zayn keluar dari dalam toilet tersebut dengan wajah pucat dan lemah. Johan senantiasa berada di belakang tubuh Zayn. Mengikuti setiap langkah kaki Zayn dan pada akhirnya. Zayn kembali duduk di samping Papa Abidzar.
"Makanlah!" Perintah Papa Abidzar tersenyum
Zayn mengunyah makanan tersebut secara perlahan. Dirinya tidak mampu menghabiskan makanan itu, baru satu sendok. Zayn ingin memuntahkan namun dirinya tahan.
Perbincangan antara Papa Abidzar dan Pak Tangseng kian memuncak. Mereka sudah memutuskan tanggal lamaran Zayn dan Rose. Sedikitpun Zayn tidak menangapi pembicaraan di antara keduanya. Sesekali dirinya melihat ke arah wajah Rose, Rose tampak tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Bersambung... ✍️