Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 48


__ADS_3

Ben memutuskan keberangkatannya menuju ke Singapura di percepat. Mengingat tanggal pernikahan Zayn dan Rose akan di segerakan. Sejuta pikiran yang melintas di benak Ben, membuat Ben memilih jalan lain untuk kebahagiaan dirinya dan juga Aida.


Seseorang tampak berdiri dan tersenyum di depan pintu melihat wajah yang di pujanya dalam keadaan sehat-sehat saja.


"Ben..." Panggil Aida tidak percaya dan segera berdiri dari tempat duduknya


"Iya ini aku. Maaf sudah menghilang begitu saja" Ucap Ben tersenyum melihat wajah Aida


"Kapan kau kembali?" Tanya Aida tetap berdiri di tempatnya


"Apa kau sangat merindukan ku?" Tanya Ben balik mengalihkan pembicaraannya


"Iya benar aku sangat merindukanmu" Jawab Aida meringis saat akan melangkah kan kakinya


"Kau. Apa perutmu sakit?" Tanya Ben segera meraih tubuh Aida


"Hm" Jawab Aida dengan anggukan


"Sejak kapan hal ini terjadi?" Tanya Ben dengan refleks mengelus perut Aida


"Akhir-akhir ini" Jawab Aida lirih


"Apa kau sudah pergi ke Dokter?" Tanya Ben memapah Aida menuju ke arah tempat duduk


"Terimakasih" Jawab Aida langsung duduk


"Apa hal ini sangat menyiksa mu?" Tanya Ben menggenggam erat tangan Aida


"Tidak Ben" Jawab Aida segera melepaskan tangan miliknya


"Maaf" Ucap Ben yang tersadarkan


"Mari, kita pergi ke Dokter sekarang!" Ajak Ben dengan menarik tangan Aida


"Tidak Ben" Jawab Aida lagi-lagi menolaknya


"Hm. Baiklah" Ucap Ben lirih dan duduk kembali


Ben yang masih berada di ruang kerja Aida menceritakan semua apa yang sudah terjadi di dalam keluarganya. Ben sedikit pun tidak menyebutkan nama Zayn Malik Abidzar.


"Lantas kenapa kau datang ke mari?" Tanya Aida melihat ke arah wajah Ben begitu intens


"Aku tidak mengerti dengan Papa ku. Padahal aku sudah menjelaskan semuanya kepada Papa" Jawab Ben menjelaskannya


"Kau seharusnya berada di samping Adikmu. Sebentar lagi dia akan menikah. Apa kau tidak ingin melihat pernikahan adikmu?" Tanya Aida mengelus punggung tangan Ben


"Maukah kau menemaniku di acara pernikahan Adikku?" Tanya Ben balik


"Aku" Jawab Aida menunjuk ke arah dirinya sendiri


"Iya. Aku rasa akan lebih baik, jika kau berada di samping ku. Aku bisa menjagamu dua puluh empat jam" Ucap Ben begitu percaya diri

__ADS_1


"Aku rasa... Aku akan tetap di sini bersama dengan Ibuku" Jawab Aida menolaknya


"Apa yang kalian sedang bicarakan? Sepertinya kalian sangat serius?" Tanya Melinda yang saat itu sudah berada di dalam ruangan Aida tanpa mereka sadari


"Nyonya" Panggil Ben segera berdiri dari tempat duduknya dan menundukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada Melinda


"Ibu" Panggil Aida lirih dan masih duduk


"Aku akan mengajak Aida pergi ke Indonesia" Ucap Ben dengan lantang


"Indonesia. Di sana banyak orang-orang jahat yang tidak menginginkan Aida" Jawab Melinda memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya dalam-dalam


"Aku tahu itu. Tapi aku berjanji akan menjaga keselamatan Aida dengan baik" Ucap Ben tersenyum melihat wajah Melinda


"Aku tidak mengizinkannya" Bentak Melinda sinis


"Nyonya" Panggil Ben lirih


"Untuk apa kau mengajak Aida pergi ke Indonesia?" Tanya Melinda berkacak pinggang di hadapan Ben


"Aku mengundang Aida secara langsung di acara pernikahan Adikku. Bahkan Anda bisa datang juga di acara pernikahan Adikku" Jawab Ben dengan berdiri tegak di hadapan Melinda


"Ben. Kau tidak perlu repot-repot mengundang kita. Kita bukan orang penting" Ucap Melinda tersenyum kaku


"Tapi, Anda sangat penting bagi ku! Sudah lama aku mengenalimu. Apa kalian tidak menganggap ku sebagai saudara?" Tanya Ben balik


"Aku akan bertanya terlebih dahulu kepada Aida" Jawab Melinda membuang nafasnya begitu kasar


"Benarkah seperti itu Aida Malik Abidzar?" Tanya Melinda melirik ke arah wajah Aida


"Hm..." Jawab Aida dengan mulut tertutup


"Jika di izinkan besok aku dan Aida akan pergi ke Indonesia" Ucap Ben segera meraih tangan Aida lalu menggenggamnya


"Apa? Kenapa begitu cepat sekali" Jawab Melinda terkejut


"Ben..." Panggil Aida dengan memelototkan kedua bola mata miliknya


Melinda meninggalkan mereka berdua dengan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Apa Ibu sedang marah kepada ku?" Tanya Aida kepada dirinya sendiri


"Tidak" Jawab Ben singkat dan duduk kembali di samping Aida


"Hah..." Ucap Aida menghembuskan nafasnya dan segera pergi


"Apa kau akan pulang sekarang?" Tanya Ben


"Hm" Jawab Aida menundukkan kepala


"Ya. Padahal aku masih sangat merindukannya" Ucap Ben dengan melihat layar ponsel miliknya

__ADS_1


"Merindukan ku?" Tanya Aida


"Tidak. Tapi, merindukan bayi ku" Jawab Ben berbisik di telinga Aida


"Apa? Jadi selama ini kau memiliki bayi?" Tanya Aida memukul tubuh Ben


"Maksud ku. Bayi yang ada di sini" Jawab Ben lagi-lagi secara refleks mengelus perut Aida


Aida terdiam untuk sesaat saat tangan itu kembali menyentuhnya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke Dokter hari ini? Rasanya aku ingin melihat bayi ku" Ajak Ben terus berbicara di hadapan Aida


"Dia bukan bayi mu" Teriak Aida sekuat tenaganya


"Apa. Apa kau marah saat aku mengatakan itu bayi ku?" Tanya Ben langsung memeluk tubuh Aida dari arah samping


"Hm" Jawabnya segera meninggalkan Ben yang masih berada di ruangan miliknya tengah tersenyum dengan sendirinya


"Tunggu" Teriak Ben berlari mengejar Aida


Ben mengantarkan Aida pulang ke rumah miliknya. Namun di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah Aida. Ben malah membelokkan mobil miliknya ke salah satu rumah sakit terdekat.


"Ben..." Ucap Aida lirih dan malas


"Ayo, cepat keluar!" Ajak Ben merangkul tubuh Aida dan segera masuk ke dalam rumah sakit


Di sana banyak Ibu-ibu yang tengah mengandung menunggu namanya di panggil oleh sang Dokter. Aida melihat keadaan di sekitarnya, tiba-tiba wajah Aida langsung terlihat murung.


"Kenapa?" Tanya Ben yang menyadarinya


"Bukankah mereka sangat terlihat bahagia. Kenapa dengan diriku? Aku juga ingin terlihat bahagia sama seperti mereka" Jawab Aida meneteskan air matanya


"Jangan berbicara seperti itu, mulai sekarang aku adalah suami mu" Ucap Ben segera menghapus air mata Aida dan mencium keningnya


"Nyonya Aida" Terdengar seseorang sedang memanggil namanya dan membuyarkan pandangannya saat melihat wajah Ben begitu dekat


"Aku harus masuk ke dalam" Ucap Aida mendorong tubuh Ben dan segera berdiri dari tempat duduknya


"Aku ikut" Jawab Ben mengikuti langkah kaki Aida


Di dalam sana seorang Dokter sedang menjelaskan kepada mereka tentang keadaan calon bayinya. Ben tersenyum melihat perkembangan bayi Aida. Dapat terlihat jelas di layar monitor semakin hari semakin tumbuh dengan baik calon bayi tersebut.


"Apa sekarang kau sudah puas?" Tanya Aida saat keluar dari ruangan Dokter tersebut


"Iya" Jawab Ben meringis


"Ck. Kau itu" Ucap Aida melangkahkan kakinya dengan begitu malas


"Mulai sekarang jangan terlalu mencemaskan sesuatu. Aku akan selalu ada di samping dirimu" Jawab Ben menggenggam tangan Aida begitu erat dan berjalan berdampingan


Bersambung... ✍️

__ADS_1


__ADS_2