
Aku tidak sanggup mendengar berita yang menimpa anakku. Tega sekali Zayn melakukan itu kepada anakku.
"Aku akan segera menjemputmu pulang, Nak" Gumam Melinda segera melangkahkan kakinya
"Hei... Sayang kau akan pergi ke mana?" Tanya Martin mengikuti langkah kaki Melinda
"Aku akan menjemput anakku" Jawab Melinda dengan tersenyum
"Tenanglah" Ucap Martin meraih tangan kekasihnya
"Bagaimana aku bisa tenang kalau anakku sedang dalam masalah" Bentak Melinda mengibaskan tangan Martin
"Iya aku bisa merasakan kesedihan dan kekhawatiran mu. Dia juga anakku!" Ucap Martin menundukkan kepalanya
"Terus kau akan berdiam diri saja tanpa bergerak?" Tanya Melinda menghentikan langkah kakinya
"Iya benar sebaiknya kita bergerak sekarang" Jawab Martin bergegas mengambil kunci mobil miliknya yang terletak di atas meja. Sedangkan Melinda sudah menunggunya di tempat parkir
Mobil yang di tumpangi mereka sudah berada di depan rumah keluarga Abidzar.
Martin dan Melinda tidak mendapatkan izin dari sang satpam. Namun Martin memilih menerobos pagar tersebut agar bisa masuk ke dalam
"Benar-benar gila" Umpat sang satpam
"Abidzar... Abidzar" Teriak Martin sekuat mungkin
"Maaf Tuan. Tuan ini siapa?" Tanya Bi Yanti dengan gugup
"Di mana Abidzar?" Tanya Martin balik
"Maaf. Tuan tidak ada di rumah" Jawab Bi Yanti
"Kau jangan menipuku. Cepat panggil Tuan mu itu!" Perintah Martin mengepalkan kedua tangan miliknya
Papa Abidzar mendengarkan teriakan seseorang yang memanggil namanya. Papa Abidzar juga mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Setelah keluar dari rumah miliknya dan tebakannya benar bahwa orang tersebut adalah Martin.
"Wah... Wah... Wah... rupanya aku kedatangan tamu dari jauh" Ucap Papa Abidzar berkacak pinggang di hadapan mereka
"Tidak usah basa-basi. Di mana anakku?" Tanya Martin berjalan mendekat ke arah Papa Abidzar
"Anak. Apa maksud mu?" Tanya Papa Abidzar yang tidak mengerti
"Ternyata kau masih bodoh seperti dulu" Jawab Martin tertawa
"Ck, dasar bajingan! Kau pikir kau sudah pintar apa" Umpat Papa Abidzar marah
"Di mana anakku Aida Malik Abidzar?" Tanya Martin mencengkeram kedua lengan Papa Abidzar
__ADS_1
"Lepaskan. Jangan kau kotori pakaian ku dengan tangan mu itu" Ucap Papa Abidzar mengibaskan tangan Martin
"Sampah" Umpatnya dengan meludah
"Cepat bawa dia pergi dari hadapan ku sebelum aku menghabisi orang ini!" Perintah Papa Abidzar kepada Melinda
Bug.
Papa Abidzar terjatuh setelah mendapatkan pukulan dari Martin
"Bangun!" Ucap Martin menarik kerah pakaian Papa Abidzar
Sedangkan Bi Yanti yang melihat perkelahian tersebut segera masuk ke dalam rumah dan memberitahu Mama Ratih.
Papa Abidzar yang tidak terima langsung membalas balik memukul Martin dan terjadilah perkelahian sengit di antara mereka. Hingga kedua wajah diantara mereka lebam dan kedua sudut bibir mereka pecah mengeluarkan darah.
"Hentikan semua ini" Teriak Mama Ratih
"Dimana orang-orang kita, Pa?" Tanya Mama Ratih segera menarik lengan Papa Abidzar agar menjauh dari Martin
"Mereka semua aku tugaskan" Jawab Papa Abidzar dengan memegang sudut bibir miliknya
"Ada apa ini?" Tanya Pak Ujang yang baru datang
"Kau sebenarnya satpam tidak, sih? Kau di pecat hari ini dasar bodoh. Kau dari mana saja tadi" Umpat Mama Ratih begitu marah
"Ck, cepat pergi dari rumah ku!" Usir Mama Ratih kepada Pak Ujang
"Ujang... Ujang. Markujang" Ucap Bi Yanti terkekeh
"Kau juga" Bentak Mama Ratih kepada Bi Yanti
"Mama Nyonya" Ucap Bi Yanti menundukkan kepalanya dan segera pergi masuk ke dalam rumah
Melinda melempar kertas ke arah wajah Mama Ratih. Sedangkan Mama Ratih tercengang melihat kedatangan Melinda yang sedari tadi dirinya tak sadarkan.
"Kau" Ucap Mama Ratih geram dan akan menjambak rambut Melinda. Namun di cegah oleh Papa Abidzar
"Apa ini Mel?" Tanya Papa Abidzar mengambil kertas yang jatuh tepat di bawah kakinya
"Cepat baca!" Bentak Martin
Papa Abidzar menarik nafasnya dan segera membaca apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.
"Apa maksud semua ini?" Tanya Papa Abidzar memelototkan kedua bola mata miliknya kepada Melinda
"Semuanya sudah tertulis dengan sangat jelas dan aku tidak perlu menjelaskannya lagi kepada dirimu" Jawab Melinda tersenyum licik
__ADS_1
"Apa selama ini kau menipuku?" Tanya Papa Abidzar mencengkeram lengan Melinda begitu kasar
"Pa..." Panggil Mama Ratih lirih dan segera meraih kertas yang berada di tangan suaminya itu
"Ha... Hahaha" Suara tertawa Mama Ratih
"Rupanya selama ini kau pandai berakting. Pantas saja kau menjadi artis yang tidak memiliki moral" Ucap Mama Ratih dengan bertepuk tangan
"Jaga ucapan mu, Nyonya" Sambung Martin mengepalkan kedua tangan miliknya
"Kau. Kau juga sama dengan dirinya, kau bodoh dan mau saja di tipu dengannya" Ucap Mama Ratih tersenyum
"Ini semua tidak benar. Aida adalah anakku" Teriak Papa Abidzar merobek kertas tersebut dan segera masuk ke dalam rumah miliknya
"Aida anakku. Darah daging ku, kami sengaja menitipkan anak kami kepada kalian" Ucap Martin yang menghentikan langkah kakinya
"Kau... Pergi dari rumah ku" Teriak Papa Abidzar menarik paksa Martin keluar
"Maafkan aku, Bi. Selama ini aku berbohong kepada mu. Aku hanya pura-pura mencintai mu dan menjebak mu. Selama aku berpacaran dengan mu aku juga sudah lama menjalin hubungan dengan Martin. Aku benar-benar menjebak mu karena pada saat itu... Aku tidak memiliki apa-apa dan kalau manajerku tahu aku hamil dan memiliki anak. Maka aku akan di berhentikan dari dunia modeling. Aku sengaja membuat sandiwara ini agar anakku bisa hidup bersama dengan dirimu dan setelah tumbuh besar aku dan Martin akan mengambilnya dari mu" Ucap Melinda menjelaskannya kepada Papa Abidzar dengan menggenggam tangan Martin begitu erat
"Dasar wanita murahan. Plakk" Mama Ratih yang begitu geram segera menampar pipi Melinda dan menjambak rambutnya
"Jangan kotori tangan mu" Ucap Papa Abidzar menarik paksa Mama Ratih
"Dia pantas mendapatkan itu semua, Pa" Jawab Mama Ratih menangis di pelukan Papa Abidzar
"Biarkan aku yang akan membereskan semua ini" Ucap Papa Abidzar dengan mengelus punggung Mama Ratih
"Aida... Aida..." Teriak Melinda yang sudah masuk ke dalam rumah Abidzar. Melinda mencari di seluruh sudut ruang di rumah tersebut bersama dengan Martin. Sedangkan di luar rumah Papa Abidzar dan Mama Ratih saling menguatkan satu sama lainnya
"Di mana Aida?" Tanya Martin melihat ke arah wajah Papa Abidzar setelah tidak menemukan Aida di rumah itu
"Setelah Aida membuat kekacauan di rumah ini. Aku sudah mengusirnya sejak malam itu juga" Jawab Papa Abidzar menjelaskannya
"Kau berbohong" Sambung Melinda yang baru keluar dari dalam rumah tersebut
"Buat apa aku memelihara anak yang tidak patuh kepada orang tuanya" Jawab Papa Abidzar tersenyum licik
"Dimana dia sekarang?" Tanya Melinda menatap wajah Papa Abidzar begitu intens
"Aku tidak tahu" Jawab Papa Abidzar memalingkan wajahnya
"Apa kau sengaja menyembunyikannya dari ku?" Tanya Melinda memelototkan kedua bola mata miliknya
"Ck. Kau cari saja di jalanan sana" Jawab Papa Abidzar dengan menarik salah satu sudut bibirnya
"Brengsek. Aku pastikan akan menyeret anakmu ke dalam penjara" Ucap Martin menarik lengan Melinda dan meninggalkan mereka
__ADS_1
Bersambung... ✍️