Terjebak Dalam Dendam

Terjebak Dalam Dendam
Episode 39


__ADS_3

Seorang wanita tersenyum dalam pantulan cermin. Dirinya berkaca dan mengelus perutnya yang masih rata. Wanita itu merasa bersyukur kepada Tuhan sudah menitipkan anak itu kepadanya. Tanpa ada rasa menyesal dirinya akan selalu menjaga apa yang sudah Tuhan titipkan.


"Apa kau yakin akan membesarkan bayi ini tanpa seorang Ayah?" Tanya Melinda menuntun Aida ke tempat duduk yang berada di ruang keluarga


"Ibu. Apa Ibu meragukan ku?" Tanya Aida melihat wajah Melinda


"Tapi, Nak. Merawat bayi seorang diri dan menjadi Ayah sekaligus Ibu itu sangat sulit di lakukan secara bersamaan" Jawab Melinda mengelus rambut Aida yang terurai begitu panjang


"Aku tidak ingin membuat kesalahan yang sudah pernah Ibu lakukan" Ucap Aida menundukkan kepalanya


Deg


"Maafkan Ibu" Jawab Melinda memeluk Aida dan menangis


"Maafkan aku, Bu. Aku tidak bermaksud melukai hati Ibu" Ucap Aida membalas pelukan Melinda


"Apa kau sudah memberitahu, Zayn?" Tanya Melinda terbata-bata


"Tidak" Jawab Aida singkat dan memalingkan wajahnya


"Jangan seperti ini. Zayn harus bertanggung jawab atas kehamilan mu, Aida" Ucap Melinda marah meninggalkan Aida tengah duduk termenung di ruang keluarga


"Ibu..." Panggil Aida mengejarnya


"Ada apa lagi?" Tanya Melinda menghentikan langkah kakinya


"Ku mohon jangan beri tahu, Zayn. Sejak aku meninggalkan Jakarta kita sudah tidak saling komunikasi lagi. Aku ingin menghapus Zayn dari hidup ku" Jawab Aida menggenggam erat kedua tangan Melinda


"Lakukanlah apa yang seperti kau ingin" Ucap Melinda kembali berjalan


"Ini salahku karena aku tidak meminum pil KB pada hari itu. Jika Zayn tahu aku lupa meminum pil KB maka dia tidak segan-segan akan berbuat jahat kepada ku" Jawab Aida menjelaskannya kepada Melinda


"Hah... Jadi selama ini kau di ancam oleh Zayn Malik Abidzar" Ucap Melinda menunjuk ke arah wajah Aida yang tengah tertunduk tidak berdaya


"Ibu tolong mengertilah" Jawab Aida terisak


"Kemari lah!" Perintah Melinda merentangkan kedua tangan miliknya


"Ibu" Teriak Aida segera berlari dan memeluk erat tubuh Melinda


"Hai cucu Nenek tersayang. Nenek akan menjaga Ibumu agar kau di dalam sana cepat tumbuh dan berkembang" Ucap Melinda jongkok mengusap perut Aida yang masih rata


"Sayang Nenek. Sayang Nenek" Jawab Aida begitu mengemaskan saat menirukan suara bayi

__ADS_1


"Hahaha" Suara tertawa Melinda hingga tak terasa air mata miliknya mengalir begitu saja


"Ibu..." Ucap Aida lirih menghapus air mata Melinda


Singapura pada pagi hari, matahari kembali bersinar dari arah timur. Semua orang bergegas menuju ke tempat kerja miliknya. Begitu juga dengan Melinda dirinya bangun lebih awal. Melinda setiap pagi menyempatkan diri untuk membuat sarapan pagi.


Sejak kembali ke Singapura Melihat berhenti dalam dunia modeling. Melinda lebih fokus pada keluarganya ketimbang karirnya. Melinda mengambil alih perusahaan yang di rintis bersama dengan Martin. Walaupun perusahaan itu tidak memiliki karyawan banyak. Tapi, Melinda tetap bersyukur dan masih mau mengurusnya hingga perusahaan itu berjaya.


Perusahaan yang didirikan Martin adalah perusahaan pengiriman barang. Hari-hari Melinda di kantor di sibukkan oleh hal itu.


"Ibu... Selamat pagi" Sapa Aida yang masih menggunakan baju tidurnya segera duduk di kursi ruang makan


"Selamat pagi, Sayang" Ucap Melinda menyempatkan diri mencium pipi Aida di saat dirinya menyajikan makanan di atas meja


"Apa Ibu akan segera pergi ke kantor?" Tanya Aida dengan mengunyah roti bakar tersebut


"Iya seperti itu" Jawab Melinda menuangkan teh hangat untuk Aida


"Terimakasih" Ucap Aida segera meminumnya


"Masih panas" Cegah Melinda menarik cangkir tersebut dari tangan Aida


"Iya aku tahu" Jawab Aida langsung meminumnya


"Lebih enak jika ini kopi" Jawab Aida dengan mengangkat cangkir miliknya yang berisikan teh hangat


"Ibu hamil tidak boleh meminum kopi" Celoteh Melinda penuh penekanan


"Oh ya" Jawab Aida tidak percaya


"Sebaiknya kau lebih banyak membaca artikel-artikel di internet soal Ibu hamil. Makanan dan minuman apa yang di larang kepada Ibu hamil" Ucap Melinda mengusap kepala Aida


"Hah... Aku hanya ingin meminum secangkir saja, Bu" Jawab Aida mengeluh


"Iya Ibu akan buatkan" Ucap Melinda dengan segera


"Terimakasih Ibu" Jawab Aida meringis dan segera berdiri dari tempat duduknya


"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Melinda saat melihat Aida


"Aku akan bersiap. Aku ingin pergi ke kantor bersama dengan Ibu" Jawab Aida melangkahkan kakinya


"Apa sebaiknya kau di rumah saja? Di sana hanya akan melelahkan mu" Ucap Melinda

__ADS_1


"Aku bosan di rumah terus" Jawab Aida menghentikan langkah kakinya


"Bagaimana kalau kau pergi ke mall, nonton, jalan-jalan ke taman, atau ..." Ucap Melinda terpotong


"Iya lebih baik aku pergi ke kantor" Jawab Aida lirih dan menuju ke arah kamar miliknya


"Terserah kau saja" Ucap Melinda lirih melihat punggung Aida


Beberapa menit kemudian, Aida keluar dari dalam kamar miliknya mengenakan dress berwarna hitam dengan tas di tangannya. Dalam perjalanan menuju ke kantor miliknya Melinda maupun Aida hanya terdiam.


"Sayang kau ingin kuliah di universitas mana?" Tanya Melinda tersenyum melihat wajah Aida dari arah samping


"Aku tidak ingin kuliah, Bu! Aku ingin fokus menjadi seorang Ibu" Jawab Aida membalas senyuman Melinda


"Apa" Ucap Melinda tercengang dan tidak melanjutkan pembicaraannya lagi


Sampailah di depan kantor miliknya, Aida di sambut oleh Beni yang dulunya merupakan asisten Melinda saat masih menggeluti dunia modeling.


"Hai... Ben" Sapa Aida dengan melambaikan kedua tangan miliknya saat keluar dari dalam mobil miliknya


"Apa hari ini kau sangat sibuk?" Tanya Beni tersenyum manis kepada Aida


"Tidak" Jawab Aida terbata-bata


"Maukah kau pergi jalan-jalan bersama dengan ku?" Tanya Beni


"Pergi jalan-jalan. Kemana?" Tanya Aida lirih menautkan kedua alis miliknya


"Kemana saja" Jawab Bani meraih tangan Aida dan segera pergi


"Tapi. Tapi aku harus membantu Ibuku bekerja, Ben" Ucap Aida namun Beni terus menarik lengan Aida agar mengikuti langkah kakinya


Dari arah kejauhan Melinda tersenyum kepada Beni.


"Rasanya lega jika melihat Aida tersenyum kembali" Ucap Melinda segera masuk ke dalam kantor miliknya


Melinda sengaja memerintahkan Beni agar mengajak Aida pergi jalan-jalan. Di lain sisi Melinda tidak ingin Aida tertekan dan stres atas kehamilannya. Melinda mengetahui semuanya pasti Aida terluka saat mengetahui dirinya hamil. Dan hal itu tidak pernah di tunjukkan kepada Melinda.


Suara tertawa Aida kini terdengar ke telinga Ben. Ben yang sedang menyetir lebih memilih fokus melihat ke arah depan. Mobil yang di tumpangi mereka membelah jalan ramainya kota. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka mengawalinya dengan shopping.


"Wanita mana yang menolak shopping" Ucap Beni tertawa terbahak-bahak melihat Aida langsung masuk ke dalam meninggalkan dirinya yang masih berada di tempat parkir


Bersambung... ✍️

__ADS_1


__ADS_2