
Sesampainya di Indonesia Melinda langsung menuju ke rumah sakit. Aida yang masih di rawat di rumah sakit membuat Ben harus senantiasa berjaga di samping Aida.
"Ben..." Panggil Melinda saat masuk ke dalam ruangan tersebut
"Akhirnya kau datang juga, Nyonya" Jawab Ben segera berdiri dari tempat duduknya
"Apa yang terjadi?" Tanya Melinda berjalan mendekat ke arah Aida tengah tertidur
"Sebaiknya kita berbicara di luar saja!" Perintah Ben berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Melinda
Ben dan Melinda duduk tepat di depan ruangan Aida. Untuk sejenak Ben menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah atas kejadian yang sudah menimpa Aida.
"Maafkan aku" Lagi-lagi kata itu yang terus keluar dari mulut Ben
"Jangan menyalahkan dirimu, Ben. Ini semua terjadi di luar kendali mu" Ucap Melinda mengelus punggung Ben yang tengah terisak dan jauh di lubuk hati Melinda sebenarnya dirinya sangat kecewa kepada Ben. Karena Ben sudah memaksa Aida agar pergi bersama dengan dirinya ke Indonesia
"Rupanya kau masih berada di sini setelah mengacaukan pernikahan adik mu" Ucap Papa Abidzar berjalan mendekat ke arah mereka
"Kau..." Jawab Ben segera menghapus air mata miliknya
"Apa yang kau lakukan dengan kembali ke Indonesia? Apa kau sengaja ingin balas dendam?" Tanya Papa Abidzar kepada Melinda yang saat itu sudah berdiri di samping Ben
"Ck. Apa urusanmu" Jawab Melinda sinis
"Nyonya sebaiknya anda masuk ke dalam menjaga Aida!" Perintah Ben
"Kau. Apa kalian saling mengenal?" Tanya Papa Abidzar memelototkan kedua bola mata miliknya. Ketika Ben memanggil Melinda dengan sebuah Nyonya
"Karena anak mu! Aku kehilangan cucuku" Ucap Melinda terus melihat wajah Papa Abidzar
"Cucu. Maksud mu Aida tengah mengandung?" Tanya Papa Abidzar lirih
"Iya" Jawab Melinda dengan berteriak
"Kendalikan dirimu, Nyonya" Ucap Ben mendorong tubuh Melinda. Agar tidak mendekat ke arah Papa Abidzar
"Rupanya anak murahan mu itu benar-benar sedang mengandung. Dia sudah tidur dengan siapa?" Tanya Papa Abidzar dengan tertawa
"Kau" Jawab Melinda menunjuk ke arah wajah Papa Abidzar
__ADS_1
"Anakmu ternyata tidak jauh berbeda dengan mu. Sama-sama gatal dan murahan" Ucap Papa Abidzar dengan tersenyum sinis
"Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu kepada ku. Jelas-jelas anak mu yang bernama Zayn yang sudah membuat anakku hamil" Jawab Melinda menjelaskannya
"Anak Zayn. Ha, Hahaha" Ucapnya dengan tertawa terbahak-bahak
"Apa kau anggap ini sebuah lelucon yang harus kau tertawa kan. Apa kau buta? Kau seharusnya dapat melihat dengan jelas kalau Zayn sudah mencintai Aida sejak lama" Jawab Melinda dengan berteriak dan memukul dada bidang Papa Abidzar
"Itu tidak akan pernah terjadi" Ucap Papa Abidzar mendorong Melinda hingga terjatuh di atas lantai
"Itu kenyataannya Abidzar. Anakmu yang sudah merusak anakku" Jawab Melinda menangis
"Kau jangan membohongi ku, Mel" Ucap Papa Abidzar marah dan ingin menampar pipi Melinda. Namun dirinya urungkan
"Nyonya. Ayo, ikut dengan ku sekarang juga!" Ajak Ben menarik tangan Melinda pergi meninggalkan rumah sakit itu
Papa Abidzar sengaja datang ke rumah sakit. Papa Abidzar ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Kalau saat ini Aida tengah terbaring di dalam sana. Papa Abidzar melihat Aida dan tetap berdiri di depan pintu tersebut.
"Di mana Zayn? Aku pikir dia berada di rumah sakit" Ucap Papa Abidzar menutup pintu kamar tersebut dan pergi
Terdengar suara ponsel berbunyi.
"Iya. Ada apa?" Tanya Papa Abidzar langsung
"Aku akan kembali ke situ untuk menjemput mu. Apa Zayn berada di situ?" Tanya Papa Abidzar memastikannya
"Iya Zayn berada di sini" Jawab Mama Ratih mengakhiri pembicaraannya
"Sial" Umpat Papa Abidzar
Acara pernikahan Zayn dan Rose sudah selesai. Zayn segera membawa Rose pulang ke rumah miliknya.
"Selamat datang sayang" Ucap Mama Ratih menyambut hangat sang menantu untuk masuk ke dalam rumah miliknya
"Ma..." Panggil Rose segera memeluk Mama Ratih dan menghamburkan ciumannya di kedua pipi Mama Ratih
"Biarkan Bi Yanti yang akan membawa koper itu!" Perintah Mama Ratih berjalan mengandeng tangan Rose dan membawanya duduk di ruang keluarga
Tak jauh darinya Zayn tengah berdiri dan melepas jas miliknya. Zayn pergi meninggalkan Rose yang masih berbicara dengan Mama Ratih.
__ADS_1
"Sayang aku harap kau bisa merubah Zayn. Jangan sungkan-sungkan membagi masalah mu dengan Mama" Ucap Mama Ratih menggenggam erat tangan Rose
"Terimakasih. Rasanya aku seperti memiliki Mama lagi" Jawab Rose lirih
"Kau sudah menikah dengan Zayn. Jadi aku juga sudah menjadi Mama mu" Ucap Mama Ratih tersenyum melihat wajah Rose
"Hm" Jawabnya dengan anggukan
"Jangan biarkan pelakor masuk ke dalam rumah tangga kalian" Ucap Mama Ratih berbicara tegas kepada Rose
"Iya Ma" Jawab Rose tersenyum melihat wajah Mama Ratih
"Hm... Baiklah sebaiknya kalian istirahat dan jangan menunda untuk segera hamil. Mama ingin sekali rasanya mengendong cucu" Ucap Mama Ratih segera berdiri dari tempat duduknya
Bi Yanti yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. Segera mengantar Rose menuju ke kamar miliknya, atas perintah Mama Ratih.
"Ini kamarnya Nyonya! Silahkan masuk!" Perintah Bi Yanti dengan menundukkan tubuhnya
Pintu kamar itu terbuka secara perlahan dan memperlihatkan desain kamar tersebut. Seseorang tengah keluar dari dalam kamar mandi dengan melilitkan handuk yang melingkar di tubuhnya bagian bawah.
Sontak hal itu membuat Rose memelototkan kedua bola mata miliknya dan tetap berdiri di tempatnya.
"Rose" Panggil Zayn berulang kali. Namun tidak dihiraukannya
"Rose..." Ucap Zayn berbisik di telinga Rose hingga membuat tubuhnya seketika merinding
"Zayn" Jawabnya dengan gelagapan
"Aku mengantuk dan ingin segera tidur. Jika kau ingin mandi di sana kamar mandinya" Ucap Zayn melempar handuk tersebut ke arah wajah Rose dan dirinya segera naik ke atas tempat tidur
"Zayn" Teriak Rose yang mengejutkan Zayn
"Apa kita tidak melakukan..." Ucap Rose dengan terbata-bata dan terpotong
"Aku mengantuk dan jangan ganggu tidur ku" Jawab Zayn segera memejamkan kedua mata miliknya
Di dalam kamar mandi Rose merasa kesal dengan sikap Zayn. Bisa-bisanya saat malam pertama malah dirinya tidur lebih dulu. Rose yang baru keluar dari kamar mandi tersebut mendengar jelas suara dengkuran orang ngorok. Rose segera naik ke atas tempat tidur dan rasanya ingin mencekik leher Zayn.
"A..." Teriaknya dalam hati, Rose membuang nafasnya secara perlahan dan mencoba menenangkan dirinya agar tidak terbakar emosi
__ADS_1
"Sial..." Umpat Rose membalikkan tubuhnya dan segera tidur
Bersambung... ✍️