
Setelah menemui Melinda, Papa Abidzar merencanakan niatannya untuk memberikan Aida kepada Melinda pada malam ini di gedung tempat penyimpanan barang miliknya.
Zayn diam-diam menemui Mama Ratih tanpa sepengetahuan Papa Abidzar. Saat Papa Abidzar berada di kantor. Zayn langsung segera masuk ke dalam rumah Abidzar.
"Zayn... Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Mama Ratih terkejut melihat Zayn yang berada di taman belakang
"Aku ingin berbicara dengan mu, Ma" Jawab Zayn segera duduk di bangku taman tersebut
"Soal apa? Kelihatannya sangat penting?" Tanya Mama Ratih berjalan mendekati Zayn yang tengah duduk
"Duduklah!" Perintah Zayn menarik lengan Mama Ratih
"Langsung pada intinya saja. Apa Mama tidak sayang Aida?" Tanya Zayn melihat wajah Mama Ratih
"Aida..." Jawab Mama Ratih sedikit lirih
"Iya. Aku rasa Mama juga merasa kasihan kepadanya. Mama sudah merawat Aida sejak kecil. Mana mungkin Mama tega melihat Aida seperti ini. Tolong berbicaralah kepada Papa! Agar Papa membebaskan Aida!" Ucap Zayn dengan memegang kedua tangan Mama Ratih begitu erat
"Apa kau memihak Aida?" Tanya Mama Ratih yang tidak percaya dengan ucapan Zayn
"Ma. Kumohon... Hanya Mama satu-satunya orang yang bisa meluluhkan hati Papa dan memaafkan kesalahan paham ini" Jawab Zayn
"Omong kosong apa ini Zayn" Ucap Mama Ratih mengibaskan kedua tangan miliknya dan segera pergi
"Aku tahu hati Mama sakit atas perselingkuhan Papa dengan Melinda. Tapi bisakah Mama memaafkan Aida yang tidak bersalah?" Tanya Zayn lirih
"Aida bersalah karena sudah membuat karirmu hancur dan Melinda... Wanita murahan itu pantas mendapatkan itu semua. Aku berpihak kepada Papa mu, akhirnya dialah orang yang menghukum Aida. Rasa sakit ini masih ada walaupun hanya sesaat" Jawab Mama Ratih menjelaskannya dengan melipat kedua tangan miliknya dan membelakangi tubuh Zayn
"Aku tidak habis pikir seorang Ibu tega berbicara seperti itu kepada anaknya sendiri" Ucap Zayn tercengang
"Aku bukan Ibunya. Dia hanya orang lain dan hukum itu pantas untuknya" Jawab Mama Ratih tertawa
"Kalau Mama tidak bisa menolongnya, maka aku yang akan membantu membebaskan Aida" Ucap Zayn segera pergi
"Jangan ikut campur urusan Papamu, Zayn!" Teriak Mama Ratih dengan lantang
"Ck. Mulai sekarang urusan Aida akan menjadi urusan ku juga" Jawab Zayn memelototkan kedua bola mata miliknya
"Apa kau sudah gila" Ucap Mama Ratih dengan berteriak
"Seperti yang kau lihat aku tidak gila dan masih waras" Jawab Zayn tersenyum
"Dasar anak tidak tahu di untung" Ucap Mama Ratih lirih
Zayn segera pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Saat perjalanan pulang menuju ke rumah miliknya. Zayn mendapat telepon dari orang kepercayaannya yang menjelaskan kepada dirinya. Bahwa hari ini Papa Abidzar akan memberikan Aida kepada Melinda.
"Di mana mereka akan bertemu?" Tanya Zayn dalam teleponnya
"Di gedung penyimpanan barang milik perusahaan Abidzar" Jawab orang tersebut
"Siapkan anak buah mu untuk berjaga-jaga di tempat sekitar. Hubungi aku jika mereka sudah di tempat!" Perintah Zayn segera mematikan ponsel miliknya
Zayn kembali ke rumah miliknya dengan berbagai macam pikiran yang menghantui dirinya. Rasa bersalah dan penyesalan kini mulai menyiksa batin seorang Zayn Malik Abidzar. Dalam pantulan cermin Zayn berkaca dan bertanya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa aku orang jahat?" Tanya Zayn dalam bayangannya yang berada di cermin
"Apa aku salah membalaskan dendam ku dengan cara mengambil kesucian gadis itu" Ucap Zayn melempar botol ke arah cermin tersebut
"Tuan..." Teriak Bayu segera berlari saat mendengarkan suara tersebut
"Hah..." Membuang nafasnya begitu kasar
"Kau sedang terluka Tuan" Ucap Bayu mengajak Zayn duduk di pinggir tempat tidur dan segera mengobati luka yang ada di tangan Zayn
"Aw..." Pekiknya kesakitan saat Bayu memberikan obat di luka tersebut
"Maaf" Ucap Bayu lirih dan menundukkan kepalanya
Malam pun tiba, Papa Abidzar yang masih dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Tampak dirinya sadari ada orang lainnya yang sedang mengikuti mobil miliknya.
Aida yang berada di dalam mobil tersebut terdiam saat mobil itu berjalan entah kemana tujuannya. Sesekali Papa Abidzar melirik ke arah Aida yang duduk di kursi samping dirinya.
Tepat di depan sana penjagaan cukup ketat. Hanya orang tertentu yang diperoleh masuk ke dalam. Terlihat jelas sebuah mobil terparkir dan menandakan bahwa Melinda serta Martin sudah datang terlebih dahulu.
"Tempat apa ini?" Tanya Aida yang tidak mengerti saat dirinya di tarik paksa oleh seorang bodyguard
"Diam dan jangan banyak berbicara" Jawabnya dengan sedikit menggertak
"Wah... Wah... Wah... Ternyata kau lebih awal datang ke mari. Apa kalian sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak kalian" Ucap Papa Abidzar berkacak pinggang di hadapan mereka berdua. Sedangkan Aida tetap di belakang tubuh Papa Abidzar dengan tangan di borgol dalam pengawasan Johan
"Apa maksud ucapan mu?" Tanya Aida segera berjalan mendekati Papa Abidzar
"Mereka adalah orang tua kandung mu" Jawab Papa Abidzar menepuk pundak Aida dengan tersenyum kaku
"Tanyakan saja kepada mereka jika aku mengatakan yang sesungguhnya!" Jawab Papa Abidzar kembali tersenyum kaku kepada Aida
"Kemari lah, Nak" Ucap Melinda merentangkan kedua tangan miliknya dan tersenyum kepada Aida
"Berhenti di tempat mu dan jangan bergerak" Teriak Papa Abidzar menarik paksa Aida agar berada di belakang tubuhnya
"Kau" Ucap Martin mengepalkan kedua tangan miliknya ingin rasanya dia memukul wajah Papa Abidzar
"Jangan" Cegah Melinda
"Mana uang ku" Ucap Papa Abidzar dengan suara lantangnya
"Ambil ini" Jawab Martin melempar sebuah koper yang berisikan uang permintaan Papa Abidzar
"Sam. Cepat hitung!" Perintah Papa Abidzar, Sam pun segera melakukannya
Tak jauh dari mereka ada seseorang yang sedang mengintai. Orang tersebut memerintahkan kepada para anak buahnya agar tetap mengawasi mereka. Jika sesuatu terjadi maka mereka akan keluar dari tempat persembunyiannya dan membantunya.
"Maaf Tuan. Uangnya kurang" Bisik Sam di telinga Papa Abidzar
"Hah" Membuang nafasnya begitu kasar dan kesal
"Sepertinya kalian ingin bermain-main dengan ku" Ucap Papa Abidzar tersenyum licik kepada mereka
__ADS_1
"Aku akan memberikan sisanya setelah kau memberikan Aida kepada ku" Sambung Martin berjalan mendekat ke arah Papa Abidzar
"Apa aku bodoh seperti yang kalian pikirkan" Ucap Papa Abidzar dengan melipat kedua tangan miliknya
"Aku bukan barang yang harus diperjual belikan dan aku bukan boneka kalian rebutankan. Aku punya hati dan perasaan! Aku lebih memilih mati dari pada melihat kalian seperti ini" Teriak Aida sekuat tenaga
"Diam. Kau tahu apa soal itu! Brengsek" Jawab Papa Abidzar marah
"Aida" Panggil Martin segera menarik paksa agar mendekat ke arah dirinya
"Tangkap Aida Malik Abidzar sekarang juga!" Perintah Papa Abidzar kepada para Bodyguardnya
Suasana di gedung tersebut semakin mencekam saat Martin mengeluarkan senjata api miliknya dan menodong ke arah Papa Abidzar.
"Ha. Hahaha" Suara tertawa Papa Abidzar yang tidak percaya melihat Martin mendorong dirinya
"Lakukan. Apa lagi yang kalian tunggu!" Gertak Papa Abidzar
Semua bodyguard segera mengeluarkan senjata api miliknya. Masing-masing mulai bertindak dan menjalankan aksinya. Suara pukulan dan tembakan terdengar jelas di seluruh ruang tersebut hingga membuat Aida ketakutan.
Saat Aida dapat di amankan, seseorang datang mengendap-ndap membungkam mulut Aida. Aida pun terkejut melihat orang itu adalah Zayn.
"Diamlah dan jangan bergerak!" Perintah Zayn menutup mulut Aida dan segera memeluk tubuh Aida yang bergetar ketakutan
Martin yang mendapatkan serang sangat kewalahan mengingat bodyguard Papa Abidzar jauh lebih banyak ketimbang anak buahnya.
"Sial. Sepertinya anak buah ku tidak bisa menyelesaikan ini semua" Ucap Martin dengan nafas tersengal-sengal
Saat lengah tanpa mereka sadari Papa Abidzar berhasil di tembak oleh Martin.
Dor.
"Papa..." Teriak Yasrul sekuat mungkin berlari dari tempat persembunyiannya dan segera menghadang peluru tersebut agar tidak mengenai sang Papa
Di detik berikutnya,
"Yasrul..." Teriak Zayn memelototkan kedua bola mata miliknya
"A..." Pekiknya kesakitan saat peluru tersebut mengenai Yasrul
Dor.
Terdengar suara tembakan, Yasrul berhasil menembak Martin dan pada akhirnya mereka berdua terjatuh tak sadarkan diri.
"Yas..." Teriak Papa Abidzar segera meraih tubuh Yasrul
"Yas... Yas..." Teriak Zayn histeris saat melihat Yasrul berada di dalam pelukan Papa Abidzar yang sudah berlumuran darah
"Kenapa kau lakukan ini, Nak" Ucap Papa Abidzar menangis dan memeluk Yasrul kembali begitu erat
"Cepat panggil ambulans!" Teriak Zayn memberikan arahan kepada Bodyguardnya
Suasana menjadi hening ketika di antara dua kubu terluka dan hanya terdengar suara tangisan.
__ADS_1
Bersambung... ✍️