
TENTANG KEBERADAAN FATIMAH YANG DIKETAHUI DALFI.
"Apa tidak mungkin Fatimah menikah dengan Permana,bagaimana dia bisa menjadi istri dari pria baj*ng*n itu,Fatimah aku sangat merindukan mu." batin Dalfi terus berucap.
Keberadaan Fatimah dia ketahui dari salah satu asisten Kenzo yang sudah ia percayai untuk mencari keberadaan Fatimah.
" Hallo Kenz gue mau ketemu sama Permana malam ini juga " ajak Dalfi pada Kenzo.
" Tunggu bro loe jangan gegabah atau terburu buru,kita harus slow dan hati hati mas bro." Kenzo menenangkan Dalfi.
" Tapi gue tetap nggak terima bro,Permana udah menodai Fatimah." geram Dalfi.
" Ingat Dalfi Permana bukan suatu ancaman buat Fatimah karena bagaimana pun dia adalah suami sah nya yang berhak atas apa yang ada pada Fatimah." Kenzo kembali lagi memberi arahan.
Dalfi hanya bisa menahan amarahnya disebuah apartemen elit miliknya.
Braaakkk,pruaangg semua benda ia hancurkan seketika bahkan ponsel yang ia miliki pun hancur berkeping keping dibantingnya.
" Aku berjanji pada mu Fatimah akan aku bawa pergi kau dari pria bed*bah itu " Dalfi yang tidak terkontrol emosi nya.
***********
Sedangkan dikediaman Permana,Fatimah sedang melayani suami nya yaitu Permana,dia menjalankan tugas nya sebagai istri dan memenuhi hasrat ranjang Permana walaupun Fatimah buta tapi dia tetap menjalankan perintah dan kewajiban nya sebagai istri,begitu pun Permana dia tidak merasa terganggu dengan keadaan Fatimah yang buta.
Baginya Fatimah adalah seorang istri yang memiliki daya pikat tersendiri,aura natural,dan kebaikannya menutup kekurangannya.
Setelah Berjam jam mereka melakukan adegan dewasa kini mereka tertidur dengan kondisi yang sama sama lemas tak berdaya.
" Sayang bersabar lah aku sedang menunggu pendonor mata untuk mu." ucap Permana pada Fatimah.
" Mas aku ikhlas dengan keadaan ku begini,aku bahagia walaupun aku tidak pernah bisa melihat wajah mu tetapi aku bisa merasakan kasih sayang mu untuk ku,dan itu semua adalah segalanya bagi ku," ungkapan Fatimah.
Permana pun langsung memeluk nya dengan erat.
Pagi telah menyongsong dan sinar mentari pun mulai terasa hangat dirasakan oleh Permana.
Dia raba raba samping tempat tidurnya namun sudah tidak ada Fatimah.
__ADS_1
" Fatimah kau sudah bangun kah," Permana mencari nya.
" Mas kamu sudah Bangun,maaf yah mas aku tidak membangunkan mu,sepertinya kau sangat lelah sekali maka dari itu aku biarkan dirimu ber istrihat." ucap lembut Fatimah.
" Hmmmm bidadari ku ini sangat lah perhatian padaku,terimakasih yah sayang untuk semuanya," Permana sambil mengecup lembut kening Fatimah.
Fatimah pun seraya tersenyum manis dan lembut.
" Baiklah mas kalau begitu aku akan menyiapkan mu air hangat." Fatimah hendak bergegas.
" Tunggu sayang mulai detik ini biarkan aku mandi dengan air biasa saja tidak perlu kamu repot untuk menyiapkan air hangat untuk ku lagi." msambil menarik pelan tangan mungil Fatimah.
********
Di suatu kota yang jauh dari pusat keramaian Cintya berada disana dengan asisten pribadi Permana yaitu Bram.
" Heh wanita ****** harusnya kau sadar diri dengan keadaan mu,kau itu sudah rusak dan hancur," Bram terkekeh melihat keadaan Cintya.
" Baj*Ng*n kau Bram,berani kau begini padaku hahhh!!" Cintya merasa dilecehkan oleh asisten Permana.
" Kau itu bagaikan langit dan bumi dengan Nona muda Fatimah,dia wanita yang shalihah,Mulya sedangkan diri mu lihatlah sungguh tidak berakhlak,murahan,hahaha." Bram yang masih saja menghina Cintya.
" Kemarilah lebih baik kau puaskan aku ditempat ini." pinta Bram.
Bram sosok Pria yang tampan dan gagah dia pun sangat pandai bela diri maka dari itu tidak salah Permana menjadikanya sebagai kepala pengawal.
" Aku tidak sudih memuaskan hasrat bejat dan nafsu mu cuiihh," Cintya meludahi wajah Bram.
Bram yang merasa terhina oleh perlakuan Cintya membuat emosi nya menjadi mendidih seperti rebusan air panas.
Plaaakkk,plaakkk Bram menampar Cintya sebanyak dua kali sehingga membuat pipi Cintya yang putih bersih itu merah seperti Cherry.
" Itu tidak seberapa wanita ******,ada perlakuan ku yang lebih kasar dari ini." Bram mengancam Cintya.
Cintya yang mendengar penuturan ancaman dari Bram merasa ciut dan takut.
Tiba tiba Bram mencium bibir Cintya secara paksa.
__ADS_1
" Lepaskan aku Bram,lepaskan aku!!" pinta Cintya.
Namun Bram tidak mendengar apa yang dikatakan Cintya.
" Hmmm Bram lepashh hmmm." mulut Cintya masih dibungkam dengan mulut Bram yang menciumnya.
Semakin dalam ciuman itu Bram semakin tidak terkontrol hingga seru nafasnya terdengar naik turun menahan hasrat.
" Puaskan aku malam ini Cintya,kalau tidak akan aku bunuh dirimu." Bram yang sudah dikuasai nafsu yang membara.
Bram merobek paksa pakaian yang dikenakan oleh Cintya hingga bra yang dikenakan Cintya pun terlihat jelas menunjukan kepunyaan Cintya memanglah termasuk besar dan menggairahkan bagi kaum laki laki.
"Ckkkk ternyata si boss dulu puas juga memainkan punya mu ini yang besar," Bram yang meremas benda kenyal itu.
" Hentikan bajingan kau memang bedebah." Cintya meratapi nasibnya sekarang.
Karena Bram sudah terlanjur merasakan hasrat nya sudah di ubun ubun,dia pun langsung memaksa Cintya untuk memuaskannya.
Pergulatan sengit pun terjadi erangan erangan kenikmatan yang dilepaskan dari keduanya sungguh menjadi saksi bahwa mereka telah sama sama merasakan kenikmatan yang sama pada akhirnya.
Bram yang merasakan sensasi yang berbeda pada Cintya disaat melakukan hubungan suami istri itu dia sedikit aneh.
" Damn it kenapa wanita ****** ini begitu nikmat aku pakai." batin Bram.
Tidak dengan Cintya yang merasakan nyeri disekujur tubuhnya,dan Cintya pun mengakui bahwa Bram sangatlah perkasa dalam urusan ranjang.
" Lepaskan aku Bram,aku mohon jangan kau jadikan aku ini tawanan mu,karena bagaimanapun aku kekasih dari Permana." Cintya berseloroh.
" Hahahaha apa aku tidak salah mendengar semua perkataan mu ******,hahh!! harusnya kamu tau yang membawa mu ke sini adalah Tuan muda Permana,agar dia dan Nona muda Fatimah tidak terganggu oleh mu." Bram memberikan suatu kabar yang cukup membuat Cintya syok.
" Tidak mungkin Permana membawa ku kemari,ditempat seperti ini" Cintya yang masih belum percaya.
Bram yang sudah berpakaian lengkap yang bernuansa jas berwarna hitam,kemeja putih dan dasi menambahkan citra nya sebagai kepala pengawal sangat lah tampan dan gagah.
Cintya pun cukup terpana dan terpesona dibuatnya.
" Tidak perlu kau melihat ku seperti itu,karena sampai kapan pun wanita idaman ku seperti Nona muda Fatimah,bukan ****** seperti mu." Bram berkata kasar.
__ADS_1
Ada rasa nyeri dan sakit direlung hati Cintya ketika Bram berkata demikian padanya,sebegitu hinakah dirinya dihadapan pria seperti Bram.
...... SELAMA MEBACA BAB SELANJUTNYA.......