Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Kenapa jika istrimu tahu?


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Di mana semua karyawan sudah bersiap untuk pulang, tak terkecuali dengan Rissa. Wanita itu sudah sangat bersemangat untuk pulang, karena sudah ada janji dengan Vano untuk makan bersama setelah pulang kerja.


***


Vano mengelus puncak kepala Rissa saat sudah berada di depan kantor milik Aidan, karena Vano langsung menjemput Rissa di sana. Vano yang melihat tingkah manja Rissa terhadap dirinya, menjadi sangat gemas saat melihat Rissa yang menggemaskan di matanya. Rissa pun semakin gencar menggoda pria yang ada di hadapannya tersebut.


“Ayo kita makan. Rupanya kau sudah lapar ya,” ucap Vano yang sudah melepaskan tangannya dari puncak kepala milik Rissa.


Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar mencari tempat makan. Vano dan Rissa berjalan beriringan saat di depan loby kantor milik Aidan. Setibanya di dalam mobil. Pria itu hanya diam dan menatap wanita cantik yang ada di sampingnya tersebut.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun, yang mana hal itu membuat Rissa sangat heran dengan sikap Vano. Wanita itu mengernyitkan dahinya, tanda ia tak mengerti. Kenapa pria yang ada di samping ku hanya diam, begitu pikir Rissa


“Ada apa? Kenapa dari tadi kau hanya menatap ku tanpa bicara apapun?” tanya Rissa penasaran. Pria itu sejenak terdiam, kemudian menghela napasnya kasar.


“Istriku sepertinya sudah curiga pada hubungan kita.” Pria itu menghembuskan napasnya kasar, dengan wajahnya yang cukup muram. Rissa tidak terkejut sama sekali, karena ia sudah memprediksi akan datangnya hari ini.


“Lalu?” tanya Rissa seolah tidak terjadi apapun. Bukankah ini awal yang bagus, jika istri kekasihku tahu tentang hubungan kami, lagi dan lagi pikiran Rissa tak peduli.


“Kita harus bagaimana? Bagaimana jika dia mencari tahu hingga kebenaran tentang kita akan terungkap?” tanya Vano yang terlihat sangat khawatir.


Semuanya terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat panik. Benar apa yang dikatakan Vano. Apa yang harus dia lakukan. Sedangkan, Rissa hanya diam dan tak ingin mengkhawatirkan hal yang tidak penting itu.


“Kenapa kau harus panik. Bukankah itu bagus? Jika dia tahu, maka hubungan kita bisa meningkat. Kau tidak akan meninggalkan aku setelah ini kan.” Ucap Rissa sarkas, sambil menatap mata Vano dengan penuh selidik.

__ADS_1


“Aku bukan khawatir tentang ku, tapi kamu sayang. Bagaimana jika istriku menemukan dan menyakiti dirimu,” ucap Vano yang malah khawatir pada Rissa. Padahal, Rissa saja merasa sangat santai, dan tidak pernah merasa hal itu adalah suatu ancaman baginya.


“Kau tidak perlu merasa khawatir padaku. Aku pasti bisa menjaga diriku baik-baik. Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Rissa sambil menatap wajah sosok pria yang sedang berusaha untuk tersenyum di hadapan wanita itu.


Setelah selesai membahas istri Vano, akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya menuju tempat makan yang ada di dekat kantor perusahaan. Tidak ada percakapan sedikit pun setelah mereka membahas Cheryl, istri Vano.


Tak butuh waktu yang lama, kini mereka sudah sampai di Restoran yang ada di dekat kantor perusahaan. Pria itu segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dan membukakan pintu untuk Rissa.


Seperti biasa, pria itu akan memasang wajah dingin dan tegas jika ada di luar bersama Rissa. Namun, sifatnya yang seperti itulah, yang membuat Rissa akhirnya semakin tertarik pada Vano.


Mereka duduk di dekat jendela, agar bisa menikmati pemandangan yang ada di luar. Tidak ada yang indah. Hanya saja, rasanya lebih enak dan merasa tidak sesak. Rissa duduk berhadapan dengan sosok pria yang sangat ia cintai selama satu tahun terakhir ini.


“Kau mau pesan apa?” tanya Vano pada Rissa dengan penuh kelembutan.


“Pasta dan jus Jeruk saja,” jawab Rissa singkat. Jangan lupakan senyuman mautnya untuk memikat Vano. Pria itu membalas senyuman yang Rissa lontarkan dengan tak kalah genitnya.


“Tidak, bukan. Aku hanya sedang ingin makan pasta saja hari ini. Kau tidak perlu merasa khawatir seperti itu. Aku selalu menjaga kesehatan ku kok.” Vano yang mendengar jawaban dari Rissa pun semakin melebarkan senyumannya saat wanita itu menggodanya.


Beberapa saat kemudian. Mereka sudah selesai makan dan akan segera kembali untuk pulang. Sebenarnya Rissa sudah lama sekali ingin menemui Cheryl, istri Vano. Tiba-tiba saja Vano memecah keheningan saat dalam perjalanan.


“Riss, aku sangat ingin bertemu dengan keluarga mu. Sejak satu tahun yang lalu kita bertemu, kau sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang masalah pribadi mu. Apa kau adalah satu-satunya manusia yang tidak punya masalah? Kau selalu bahagia kan?” tanya Vano secara bertubi-tubi. Ternyata di balik diamnya, Vano juga sangat penasaran dengan kehidupan dan masalah pribadi wanita tersebut.


“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang itu. Bukankah kau adalah satu-satunya orang yang mengerti diriku? Apa sekarang kau mulai mencurigai aku?” tanya Rissa tak mau kalah dengan Vano, agar pria itu berhenti menanyakan hal yang tidak bisa Rissa jawab.


“Ti-tidak, bukan begitu maksud ku. Aku hanya ingin mengenal lebih jauh keluarga mu,” jawab Vano dengan gugup. Rissa tahu, Vano memang sangat mencintainya sejak pertama kali bertemu.


“Aku tidak punya keluarga. Mereka meninggal sejak lama. Kau benar, saat ini akulah satu-satunya manusia yang paling bahagia karena bisa bersama mu. Orang yang sangat aku cintai,” jawab Rissa santai dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


Vano hanya diam sambil mendengarkan jawaban dari sosok wanita yang ada di sampingnya. Hingga terdengar suara helaan napas panjang dari pria yang sedang mengemudi di sampingnya itu. Ya! Vano merasa sangat bersalah pada Rissa, karena sudah berani bertanya hal demikian.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat mu sedih. Aku sungguh tidak tahu.” Rissa hanya tersenyum smirk dengan tipis, hingga Vano tidak menyadari senyuman tersebut.


“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Tidak ada yang perlu ditangisi lagi, semuanya sudah berlalu,” ucap Rissa sambil tersenyum agar Vano tidak merasa bersalah lagi.


“Lalu, apa yang kau lakukan hingga bisa sehebat ini?” tanya Vano yang semakin penasaran.


“Tidak ada, aku hanya bertekad untuk bangkit dan mendapatkan kebahagiaan ku kembali,” jawab Rissa dengan santai.


“Apa kau tahu? kau sangat hebat di mataku. Aku sangat senang karena tidak salah pilih,” ucap Vano sambil tersenyum bangga ke arah Rissa.


“Kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Lagipula, meskipun kau bangga padaku, tapi kenyataannya yang menjadi istrimu bukan aku,” ucap Rissa sarkas, sambil menatap lurus ke depan.


“Aku rasa, aku tidak berlebihan. Kau jangan khawatir sayang. Setelah aku mencari celah dari Cheryl, aku pasti akan menikahi mu,” ucap Vano dengan lembut sambil mengelus puncak kepala Rissa, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalan.


Tak terasa mereka sudah sampai di apartemen milik Rissa. Mereka langsung turun dan memasuki apartemen tersebut. Vano bagai anak ayam yang mengikuti induknya. Usia mereka yang berbeda jauh, tak membuat pria itu terlihat lebih tua.


Entah wajah Rissa yang dewasa, atau Vano yang tetap awet muda. Pria tampan itu memang sangat mempesona dan bisa menarik perhatian lawan jenisnya. Kini, Rissa sudah ada di dalam kamarnya.


“Apa kau sangat lelah hari ini?” tanya Vano dengan tiba-tiba. Pria itu menyadari helaan napas, dari arah sosok wanita yang langsung merebahkan tubuhnya tersebut.


“Sedikit. Lalu, bagaimana dengan pekerjaan mu di kantor?” tanya Rissa dengan lirih.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...

__ADS_1


__ADS_2