
Selamat membaca ...
...****************...
Aidan masih menatap kagum ke arah Rissa, hingga membuat wanita itu sedikit risih dengan tatapannya. Rissa mulai menghampiri pria yang masih berkelut dengan pikirannya sendiri itu. Ia melambaikan kedua tangannya di depan wajah Aidan, hingga pria itu tersentak kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.
“Apa kau sedang melamun? Bagaimana menurut mu?” tanya Rissa dengan penuh selidik, sambil memiringkan wajahnya menatap pria tampan tersebut.
“Em ... Tidak! aku rasa ini terlalu terbuka. Cepat ganti yang lain!” tolak Aidan dan segera meminta Sera untuk mengganti gaun pertama yang Rissa gunakan saat ini.
Rissa pun patuh untuk segera mengganti gaun indah tersebut. Kini pilihan kedua adalah gaun warna hitam dengan panjang yang menjuntai sampai mata kaki, tapi justru gaun tersebut membuat tubuh Rissa tercetak dengan jelas, hingga dua bukit himalanya yang besar itu terlihat jauh lebih menggoda daripada sebelumnya.
Rissa keluar dari ruang ganti, dan kembali menunjukannya pada Aidan. Pria itu semakin membulatkan matanya dengan sempurna, saat melihat tubuh Rissa terlihat sangat menggoda. Rumor yang mengatakan jika pria tampan dan gagah itu tidak menyukai wanita adalah sebuah kebohongan besar, tapi Aidan tak mempedulikan rumor tersebut, karena faktanya justru ia sudah tidak tahan, saat godaan ada di depan mata.
Wajah Aidan terlihat sangat merah akibat menahan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya. Bahkan, suhu tubuhnya pun kini terasa sangat panas, saat mata elangnya melihat tubuh Rissa yang terlihat seperti mangsa segar yang harus segera ia santap.
“Apa kau tuli? Bagaimana dengan gaun yang ini?” tanya Rissa dengan nada kesal, karena sejak tadi ia memanggil tapi tak disahuti oleh Aidan, sambil melayangkan tatapan tajamnya ke arah pria yang sedang menahan sesuatu dari dalam tubuhnya tersebut.
“Ganti! Kau sangat jelek memggunakan gaun itu!” cibir Aidan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupi gejolak panas yang terlihat di wajahnya.
“Tidak, aku sudah lelah terus berganti pakaian, tapi tidak ada satu pun yang kau sukai,” tolak Rissa dengan kesal, yang mana hal itu membuat Aidan melotot ke arah wanita itu.
“Ganti, atau aku yang akan menggantikannya,” ancam Aidan sambil menatap Rissa dengan tatapan yang tak suka.
“Tidak!” tolak Rissa dengan tegas dan tetap teguh pada pendiriannya.
“Baiklah, jika itu mau mu. Maka, jangan salahkan aku jika memaksa,” geram Aidan sambil melayangkan tatapan dingin ke arah Rissa, hingga membuat wanita cantik itu terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna, saat pria tampan tersebut mulai melangkah kan kaki ke arahnya.
__ADS_1
“Ap-apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rissa gugup. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Aidan menarik paksa tangan Rissa, hingga wanita itu berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Aidan yang sangat panjang.
Brakk!
Pintu ruangan ganti pun sudah tertutup rapat. Di dalam sana hanya menyisakan dua orang yang sedang beradu pandang, dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Rissa meronta saat Aidan menyudutkan dirinya di sisi tembok ruangan tersebut.
Wajah Aidan yang begitu dekat dengan Rissa, hingga hembusan napas yang memburu dari pria tampan tersebut, menerpa wajah cantik miliknya. Tak lupa juga mata Aidan yang sudah memerah karena menahan gejolak hasratt yang terpendam.
“Apa yang ingin kau lakukan, brengsekk!” bentak Rissa sambil melayangkan tatapan mautnya. Ia sudah risih dengan apa yang terjadi saat ini.
“Ini akibatnya jika kau tidak mau menuruti perintah ku,” ucap Aidan mendesis pelan.
Pria itu sedang berusaha menahan gairahh yang kian memuncak saat Rissa ada di hadapannya dengan jarak begitu dekat. Hanya beberapa senti saja, bibir mereka sudah bisa menyatu dengan sempurna. Bahkan, kini Aidan tengah merasakan sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan. Sesuatu yang meronta ingin dikeluarkan, tapi bukan tahanan.
Plakk!
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aidan langsung menyambar bibir seksi milik Rissa dengan sangat rakus, bagai serigala yang sedang kelaparan. Aidan terus menyesapp bibir mungil wanita yang kini sudah ada di dekapannya itu secara paksa.
Rissa merasakan ciumann Aidan yang sangat tiba-tiba itu langsung mencoba untuk memberontak dalam dekapan pria gila tersebut. Namun, tenaganya tak cukup kuat saat berusaha mendorong Aidan agar menjauh dari tubuhnya.
Bahkan, Rissa pun sudah merasa kualahan saat menerima ciumann liar dari Aidan. Wanita itu tak habis pikir akan tindakan Aidan yang begitu sembrono terhadap dirinya.
“Balas ciumann ku sayang,” bisik Aidan tepat di telinga Rissa, dengan nada yang sensual.
“Le-paskan aku,” ringis Rissa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Wanita itu mencoba untuk memalingkan wajahnya agar tidak kembali dinikmati oleh pria kurang ajar di hadapannya tersebut.
Aidan yang mendengar suara Rissa tercekat seolah sedang menahan tangisannya pun segera melihat wajah wanita cantik itu. Ia melihat mata Rissa sudah memerah dan berkaca-kaca. Wajahnya pun kini sudah berubah menjadi sendu. Tak tega untuk berbuat lebih, akhirnya Aidan melepaskan dekapannya dan menjauh dari tubuh wanita yang masih menundukkan kepalanya tersebut.
__ADS_1
“Pakai yang ini saja, aku akan menunggu di luar. Dua jam lagi, acaranya akan segera di mulai,” ucap Aidan mengingatkan dengan nada dingin. Pria tampan itu keluar dari ruang ganti sambil membawa kekecewaan dalam hatinya.
***
Di sisi lain, Cheryl merasa lelah saat sudah sampai hotel pun langsung mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu merebahkan dirinya setelah membersihkan diri. Ia merasa sangat jijik dengan wanita yang sudah berani terang-terangan ingin merebut suaminya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas. Aku sangat mencintai mu, tapi aku tidak bisa memaafkan mu atas perselingkuhan yang lakukan,” gumam Cheryl sambil menatap kosong ke arah langit-langit di kamarnya.
“Aku berjanji pada diriku sendiri, Mas. Aku akan menyingkirkan wanita itu dari hidup mu untuk selamanya, tanpa kau ketahui sedikit pun,” lanjutnya, sampai tak terasa, lelehan bening yang menggenang di pelupuk mata, kini luruh seketika.
Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka dari arah luar, hingga membuat Cheryl segera menghapus lelehan bening yang membanjiri pipi indahnya karena merasa sangat terkejut.
“Mas, apa kau baru saja pulang?” tanya Cheryl yang bangkit dari tempat tidur untuk mengahmpiri suaminya. Wanita itu segera membantu sang suami meletakan sebuah tas di tempatnya, dan membantu Vano membukakan jas kerja milik pria tersebut.
“Hmm, aku baru pulang. Malam ini kita diundang ke acara makan malam. Kau bersiap-siaplah,” ucap Vano dengan lembut. Cheryl yang mendengar ajakan dari suaminya itu langsung mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
“Apa maksud mu. Makan malam apa. Apa ada acara khusus malam ini?” tanya Cheryl dengan segala macam pertanyaannya, karena merasa bingung dengan acara dadakan ini. Atau bahkan, hanya ia saja yang belum tahu.
“Acara ini dadakan, sayang. Tapi kau tidak perlu cemas, aku sudah menyiapkan gaun mu untuk nanti malam,” jawab Vano dengan lembut. Namun, raut wajahnya tidak bisa membohongi sang istri.
Ada sesuatu yang tidak dapat Vano ucapkan. Pria itu tidak bisa menyembunyikan kegelisahan di raut wajah tampannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hanya pria itulah yang tahu.
‘Mas, apa lagi yang mau kau sembunyikan dariku. Saat aku sudah mengetahui kebenarannya pun, aku masih sabar dan berbesar hati untuk tidak meluapkan emosi dan rasa sakit hatiku. Aku hanya ingin tahu alasan mu menduakan aku mas,’ batin Cheryl yang seketika merubah raut wajahnya menjadi murung.
“Hmm, baiklah. Kau cepat bersihkan dirimu, aku akan menyiapkan pakaian mu,” ucap Cheryl yang kini sedikit bersikap dingin, dan hal itu membuat Vano menyadari sikap istrinya yang tiba-tiba berubah.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...