
Selamat membaca ...
...****************...
Aidan mendengar penuturan dari sang Ayah yang memberinya kesempatan tentu saja sangat senang. Bahkan, wajah tampan itu tak bisa membohongi perasaannya yang kini sudah menampilkan mata berbinar senang.
Berbeda halnya dengan sosok wanita paruh baya yang ada di samping sang ayah. Wanita itu menampilkan raut wajahnya tak suka, hingga mengerutkan dahinya tanda tak mengerti dengan keputusan yang dibuat oleh sang suami dengan tindakan yang sangat ceroboh tersebut.
“Baik Pa, aku janji, aku akan membuktikan kesungguhan ku untuk keluarga besar ini, dan akan memberikan cucu yang lucu untuk kalian sebagai penerus, garis keturunan keluarga kita. Papa dan Mama jangan khawatir, aku pasti akan melakukan ini dengan baik. Percayalah dengan semua keputusan ku, Pa, Ma . Karena, aku tidak mungkin mengambil keputusan tanpa pertimbangan sedikit pun. Jadi, serahkan saja masalah ini padaku, dan kalian cukup mendukung keputusan ku saja,” ucapan Aidan dengan tegas dan penuh percaya diri.
“Aidan, apa yang kau katakan, keputusan apa yang telah kau buat. Kau tahu perjodohan ini sudah di sepakati oleh dua kepala keluarga dan tidak bisa dibatalkan secara sepihak saja. Kau bisa mempermalukan keluarga besar kita yang terpandang dan terhormat ini. Aku tidak setuju dengan keputusan mu, dan aku akan tetap ingin melanjutkan perjodohan ini dengan keluarga Jack. Lily sudah cantik dan berpendidikan tinggi. Lalu, apa lagi yang anak ini mau. Ck! Sangat merepotkan,” decak Dina tak terima dengan keputusan yang sudah Daniel buat tanpa persetujuan darinya.
“Ma, aku tidak menyukai wanita centil itu! Aku tahu wanita macam apa orang seperti dia,” bantah Aidan yang menolak dengan keras perjodohan tersebut.
“Nak, kau istirahatlah dulu, biar Papa yang menjelaskan pada Mama mu. Besok kau akan kerja, dan butuh tenaga ekstra,” ucap Tuan Daniel bernada perintah, agar putranya pergi untuk beristirahat.
“Oke, Pa. Kalau begitu, aku pamit ke kamar lebih dulu. Selamat malam,” ucap Aidan patuh dan segera bangkit dari duduknya. Ia segera bergegas pergi dari sana menuju kamar.
__ADS_1
“Mas, apa maksud mu melakukan ini. Bukankah kau sendiri yang ingin putra kita segera menikah dan segera melahirkan cucu untuk kita, tapi kenapa kau malah membiarkan anak itu membatalkannya. Aku tahu, ini pasti hanya akal-akalan dia saja yang tidak mau menikah,” ucap Dina kesal sambil menatap ke arah sang suami dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
“Aku memang ingin putra kita segera menikah dan segera memberikan kita cucu, tapi bukan berarti kita harus menentukan siapa wanita yang akan menjadi calon istri sekaligus calon ibu untuk putra dan cucu kita kelak. Bagaimana bisa dia menjalani rumah tangga yang baik, jika putra kita saja tidak menginginkan wanita itu, untuk menjadi istrinya,” ucap Tuan Daniel yang berhenti sejenak, dan menghela napasnya panjang, sambil menatap dengan lekat wajah cantik milik sang istri.
“Apa kau tega, membiarkan putra kita mengarungi rumah tangga yang buruk, sedangkan dia adalah pewaris dari perusahaan besar. Selain menjadi seorang suami, dia juga merupakan sosok pengusaha yang paling berpengaruh dan pewaris di keluarga kita. Apa kau pernah membayangkan rasa lelah dan letih nya dia, saat di tengah kekacauan yang mungkin saja terjadi pada keluarga kita di masa yang akan datang, karena kita tidak bisa memprediksinya.” Dina hanya diam saja dan tak bergeming sedikit pun saat mendengar penjelasan dari suaminya.
“Dan, saat dia pulang malah bertemu dengan sosok wanita yang tidak pernah menjadi penyejuk hati dan jiwanya, malah membuatnya murka. Apa yang akan kau pikirkan saat itu. Apa kau juga tidak kasihan pada wanita yang akan menjadi istrinya kelak, jika terus diabaikan oleh putra kita. Jangan kan keturunan, yang ada malah mereka akan menciptakan masalah baru untuk dua keluarga besar. Apa sekarang kau sudah paham?” tanya Tuan Daniel yang berusaha memberi penjelasan pada sang istri, dengan lembut tapi sangat tegas.
“Tapi siapa yang akan putra kita nikahi jika bukan Lily, Mas. Aku tidak pernah melihat dia kencan dengan seorang wanita mana pun. Aku sudah cukup malu dengan issue mengenai putra kita yang menyukai sesama jenis, dan sudah beredar di luar sana. Apa lagi jika bukan usianya yang sudah matang tapi belum menikah. Hal ini pun pasti akan berpengaruh terhadap perusahaan kita,” ucap Dina yang merasa sangat cemas.
Tuan Daniel yang mendengar penuturan dari sang istri, hanya bisa menghela napasnya kasar dan merasa jengah dengan alasan yang dilontarkan oleh istrinya tersebut. Pria paruh baya itu pun mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya memberikan penjelasan kembali pada sang istri. Ternyata ucapannya di awal tadi yang panjang kali lebar, kali tinggi tidak berpengaruh apapun.
“Bahkan kau sudah seperti ingin mengorbankan kebahagiaan putra kita demi Perusahaan. Untuk masalah pernikahan, usia matang bukan batasan seseorang agar menikah dan membina rumah tangganya. Mungkin ini memang keputusan yang sulit untuk kita terima, tapi kita juga harus menghormati segala keputusan yang dia buat. Lagipula, selama ini Aidan belum pernah mengecewakan kita, dan dia juga sudah dewasa, aku yakin dia sudah bisa mempertimbangkan segala keputusan yang dia buat,” ucap Tuan Daniel dengan tegas saat memberikan penjelasan pada sang istri.
“Tapi, wanita itu kita belum tahu bagaimana latar belakangnya. Aku tidak ingin putraku menikah dengan sembarang wanita di luar sana,” ucap Dina memberikan pendapatnya, yang mana hal itu membuat Tuan Daniel harus ekstra sabar saat memberikan pengertian pada sang istri.
“Aku tahu itu, dan aku yakin Aidan tidak akan asal memilih pasangan untuk mencari calon istri, sekaligus calon ibu dari anak-anaknya. Sebaiknya sekarang kita segara istirahat dan lanjutkan pembahasan ini nanti saja. Aku sudah lelah,” ucap Tuan Daniel yang sudah lelah saat memberikan penjelasan pada sang istri agar mau mengerti dengan apa yang ia sampaikan sebelumnya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu akhirnya bangkit dari duduknya dan segera melangkahkan kaki menuju arah kamarnya. Dina yang melihat suaminya sudah bangkit dan langsung pergi meninggalkannya seorang diri pun akhirnya ikut, untuk beristirahat.
Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya, ia harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, dan dilanjutkan di waktu lain saja. Lagipula, sekarang malam pun sudah semakin larut, dan mereka butuh istirahat yang cukup untuk menyambut hari esok.
***
“Sudah manja, cengeng, jadi istri gak becus sama sekali, dan tidak bisa memberikan aku cucu, masih saja mau berulah. Kau pikir kau ini siapa, apa kau berpikir bahwa kau adalah ratu di rumah ini, Hah!” bentak B Elin yang amarahnya kian membuncah saat kembali mengingat tentang keinginannya untuk segera menimang cucu.
“Bu, sudah jangan katakan itu lagi pada istriku. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Kami pun ingin segera memiliki anak, tapi kita masih belum diberi kesempatan dan kepercayaan saja. Tolong jangan marahi istriku seperti tadi lagi, Bu,” pinta Vano dengan memohon sambil menampilkan raut wajahnya yang memelas.
“Kau ini selalu saja membela istrimu yang tidak berguna ini. Dia hanya tahu makan, foya-foya dan menikmati harta dari kerja keras mu saja. Apa kau belum sadar juga! Dia bahkan tidak bisa membantu mu dalam urusan pekerjaan, meskipun hanya sekadarnya saja. Ck! Aku benar-benar punya menantu yang tidak berguna,” ucap Bu Elin bersungut-sungut mengeluarkan kekesalan di hatinya.
Cheryl yang mendengar segala hinaan dan cibiran dari sang mertua hanya diam dan menunduk saja, tanpa berniat untuk membalas ucapan sang Mertua yang begitu menyakitkan baginya, karena ia masih ingin menghargai dan dan menghormati wanita paruh baya tersebut sebagai Ibu dari suaminya.
“Sudah bu, kami sangat lelah dan ingin segera istirahat. Hari ini kami baru saja pulang dari luar kota. sebaiknya Ibu juga segera istirahat,” ucap Vano yang sudah lelah jika terus bertengkar dengan ibunya, dan berencana untuk segera bergegas pergi meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian di sana. Namun, lagi dan lagi, langkah kakinya berhenti seketika saat sang ibu menghentikannya.
“Jika istrimu tidak bisa memberikan ibu cucu, maka ibu yang akan mencarikan wanita lain untuk menjadi istri kedua mu dan melahirkan cucu untuk ibu,” ucap Bu Elin dengan tegas sambil menatap sepasang suami istri yang ada di hadapannya, dengan sangat tajam.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya