
Selamat membaca ...
...****************...
Saat ini, Cheryl tengah menunggu suaminya yang sedang membersihkan diri. Wanita cantik itu pun tak lupa untuk menyiapkan pakaian Vano.
Namun, tiba- tiba saja Cheryl terkejut saat Vano memanggilnya dari arah belakang. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk saja, yang melilit di pinggangnya.
"Sayang, mana pakaianku?" tanya Vano yang sudah menunggu sejak tadi.
Cheryl yang mendengar hal itu langsung segera mengambil pakaian suaminya, dan memberikan pada pria itu.
"Mas, bagaimana menurut mu makan malam hari ini. Aku sangat terkejut saat tuan Aidan ternyata punya kekasih, karena rumor yang beredar dia tidak menyukai lawan jenisnya. Apakan menurut mu mereka benar-benar sepasang kekasih?" tanya Cheryl dengan santai.
Vano hanya diam tak menanggapi pertanyaan istrinya, hingga membuat wanita itu tersenyum kecil saat melihat sikap sang suami. Ia tahu perasaan Vano yang tidak akan menerima kejadian tadi.
"Mas, Apa kau mendengar pertanyaan ku?" tanya Cheryl sekali lagi, karena Vano tak kunjung memberikan jawabannya.
"Makan malamnya sangat baik. Bagus jika kau menyukainya sayang. Ya, benar. Mereka sepasang kekasih. Sebaiknya kita segera tidur. Aku sangat lelah," ucap Vano sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran besar. Pria itu langsung memejamkan matanya dengan posisi memunggungi sang istri.
***
__ADS_1
Tak terasa, indahnya malam pun sudah berubah menjadi pagi. Sinar mentari yang cerah dan kicauan burung yang merdu, hingga mampu mengusik lelapnya tidur seorang wanita yang masih bergelung dalam selimut tebalnya.
Rissa mengerjapkan matanya berulang kali. Mata yang masih sulit untuk terbuka. Bahkan, tubuhnya pun terasa berat untuk bangun. Tubuhnya terasa sangat sakit karena kegiatan tadi malam.
Wanita itu Melenguh sambil meregangkan otot tubuhnya. Rissa masih berharap hari ini tak ada drama sandiwara apapun lagi, agar dia bisa istirahat. Ia terduduk dan melihat pada jam yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ternyata jam sudah pukul 08.00 pagi. Ia bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri menuju kamar mandi.
Tak lupa juga ia memesan sarapan sebelum pergi ke kamar mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit saja, ia membersihkan tubuhnya di dalam sana. Wanita itu sudah keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kimono saja. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Ia pun menoleh ke arah sumber suara.
Rissa mengernyitkan keningnya karena merasa heran, dan ia berpikir 'apakah pesanannya sudah datang, kenapa datang cepat,' begitu pikirnya. Tak ingin membuang banyak waktu, ia segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamar tersebut.
Rissa segera membuka handle pintu hingga terdengar suara knop pintu tersebut. Dengan perlahan ia membuka pintunya dan melihat siapa yang datang ke kamarnya. Lagi dan lagi, ia dibuat terkejut hingga membulatkan matanya dengan sempurna, sambil menganga tak percaya, karena kedatangan seseorang yang sudah ada di depan kamarnya.
"Selamat pagi, sayang," sapa sosok pria yang sudah ada di hadapannya. Yang tak lain adalah Aidan. Rissa yang melihat sosok pria itu, langsung menatap sinis sambil mendengus kesal.
"Kau! Ada apa kau kemari?" tanya Rissa dengan penuh selidik. Rissa tak habis pikir, dengan pria yang sudah ia tolak itu. kini, malah kembali menghampiri kamarnya tanpa rasa malu sedikit pun.
"Aku hanya ingin mengajak kekasih ku sarapan bersama saja. Apakah itu salah, sayang?" tanya Aidan dengan santai, sambil tersenyum tanpa rasa malu sedikit pun.
"Tidak! Aku tidak ingin sarapan bersama mu. Lagi pula aku sudah sarapan," tolak Rissa berkilah. Entah harus bagaiman lagi ia menghadapi sosok Aidan yang tak tahu malu itu.
Aidan yang mendengar penuturan dari Rissa, malah terkekeh. Seolah itu adalah sebuah lelucon baginya. Yang mana hal itu membuat Rissa terlihat kebingungan, dengan sikap yang Aidan tampilkan saat ini.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu di sini!" tanya Rissa penuh selidik, dan dengan perasaan yang kesal.
Namun, Pria itu malah pergi ke dalam, memasuki kamar Rissa tanpa seizin penghuninya. Rissa pun semakin jengah dengan sikap Aidan yang suka berbuat seenak jidat. Wanita itu akhirnya mengikuti Aidan yang masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan? cepat pergi dari kamarku!" usir Rissa dengan tegas sambil menahan tubuh Aidan yang ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Karena kau sudah sarapan dan menolak ajakan ku. Maka, aku yang akan memakan mu," jawab Aidan dengan santai sambil menampilkan senyum smirk nya. Amarah Rissa pun kian membuncah saat mendengar penuturan dari pria yang brengsekk yang ada di hadapannya tersebut.
"Apa kau bilang? Apa kau sudah gila! Cepat keluar dari dalam kamar ku!" bentak Rissa bersungut-sungut sambil memukul lengan kokoh milik Aidan. Pria itu hanya diam tak menanggapi apapun ucapan Rissa.
"Karena kau yang begitu bersemangat untuk mengusirku. Bagaimana jika aku mencicipi dirimu dulu" lagi dan lagi. Aidan mampu membuatnya jengah hingga menganga tak percaya.
"Apa ini yang kau ingin hmm," sambung Aidan dengan santai. Namun, hal itu membuat Rissa semakin tersulut emosi.
"Kau benar-benar brengsekk!" bentak Rissa sambil menatap tajam ke arah sosok pria yang masih santai di atas tempat tidurnya.
Sungguh di pagi hari yang cerah ini, ia harus mengalami kemalangan. Cerahnya mentari, kini berganti dengan gelapnya awan hitam. Di pagi hari ini juga, suasana hatinya tiba-tiba memburuk dalam sekejap mata. Ia menghela napasnya kasar, sambil memejamkan matanya.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1