
Selamat membaca ...
...****************...
Di sisi lain, Rissa yang baru saja sampai ke apartemen miliknya, langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya wanita sudah keluar dari balik pintu kamar mandi, dengan menggunakan sehelai handuk yang melilit di tubuhnya. Rissa berjalan dengan santai sambil mengelap rambutnya yang basah setelah keramas.
“Malam ini kau sangat cantik, sayang,” ucap seseorang dengan suara yang lumayan familiar di indera pendengarannya. Rissa yang mendengar hal itu langsung terkejut dan mencari sumber arah suara itu.
“Kau!” matanya membulat dengan sempurna dan mulut yang menganga tak percaya, tatkala melihat sosok pria gila yang kini tengah ada di dalam kamarnya. Apalagi pria itu sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Apa kau sangat senang dengan kehadiran ku ini, sayang? Atau kau juga terkejut, kenapa aku bisa ada di sini,” tanya sosok pria yang sudah membuat Rissa jengah hingga tak bisa berkata apapun lagi.
“Sejak kapan kau ada di kamar ku?!” tanya Rissa membentak sosok pria yang ada di hadapannya. Ia sungguh tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam apartemennya.
“Sayang, kau tidak perlu terkejut seperti itu. Apa kau lupa, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan,” ucap Aidan mulai bangkit dari tempat tidur, dan beranjak dari sana untuk mendekati wanita yang sudah ketakutan itu.
__ADS_1
“Kenapa kau bisa ada di kamarku? Cepat katakan padaku!!” bentak Rissa sambil melangkahkan kakinya ke arah belakang, dan semakin mengeratkan handuk yang masih melilit di tubuh indahnya.
“Kenapa aku bisa ada di sini, itu tidaklah penting sayang. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana aku bisa mengobati rasa rinduku pada mu,” ucap Aidan yang jaraknya kini sudah mulai dekat dengan Rissa.
Grepp!
Pria itu menangkap Rissa dan memeluknya begitu erat, agar wanita itu tidak memberontak dan berusaha melepaskan diri darinya.
“Dasar pria brengsekk! Cepat lepaskan aku!” bentak Rissa sambil terus memberontak dalam dekapan sosok pria gila, yang ia hindari beberapa hari ini. Namun, sepertinya usaha ia kali ini hanya sia-sia saja, karena Aidan si pria gila itu selalu menemukannya, bahkan di dalam kamarnya sekali pun.
Setelah sekretaris Reb melaporkan informasi kejadian beberapa waktu yang lalu, mengenai sang kekasih saat tengah di kantor milik Vano. Aidan langsung bergegas meninggalkan kantor perusahaannya, dan langsung menancapkan pedal gas mobilnya menuju apartemen sang kekasih. Kali ini ia tidak akan melepaskan Rissa bagaimana pun caranya. Bahkan ia akan menjerat wanita itu dengan cara yang paling kotor sekali pun. Sudah cukup ia bersabar dan kali ini ia tidak akan membiarkan Rissa lari.
“Tenanglah sayang, aku hanya merindukan mu saja,” bisik Aidan dengan nada sensual tepat di telinga Rissa, hingga membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika.
“Cepat lepaskan aku, dan biarkan aku memakai pakaian ku dulu,” pinta Rissa dengan lirih karena sudah tidak berdaya dalam pelukan pria gila seperti serigala yang sedang kelaparan.
Namun, bukannya melepaskan, pria itu justru mulai menundukkan kepalanya dan menyusuri pundak Rissa menggunakan bibirnya.
__ADS_1
Jantungnya berpacu dengan sangat cepat, dan seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya. Apa yang sebenarnya Rissa pikirkan. Wanita itu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mungkin saja pikirannya kotor, dan harus di basmi dengan rinso anti noda, agar hilang dalam sekali bilas.
“Kenapa kau menggelengkan kepala mu, hmm? Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?” tanya sosok pria dengan santai.
“Sekarang cepat lepskan aku,” pinta Rissa dengan memohon, dan berusaha tenang. Sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin menyemburkan amarah yang membuncah dalam dirinya. Bagai gunung merapi yang siap meletus mengeluarkan lahar panas berwarna merah.
“Kenapa kau sangat tidak tahu malu seperti ini?” tanya Rissa dengan sarkas.
“Kau yang memulainya lebih dulu. Kau yang membuat ku terpaksa melakukan tindakan ku sekarang. Apa yang aku lakukan, adalah tergantung dari sikap mu sendiri,” jawab Aidan dengan tatapan dinginnya.
“Apa maksud mu, bahwa aku yang memulainya lebih dulu?” tanya Rissa sambil menatap Aidan dengan tatapan penuh selidik.
“Kenapa kau begitu ingin menikah dengan pria beristri itu?” tanya Aidan tanpa basa basi lagi.
“Memang apa urusannya dengan dirimu?” tanya Rissa dengan santai, sambil menatap Aidan dengan tatapan menantang.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya