
Selamat membaca ...
...****************...
Gelapnya malam, kini sudah berganti dengan hari yang sangat cerah. Sinar rembulan yang kini berganti dengan sinar mentari, membuat sosok wanita cantik yang masih bergelung dalam selimut itu, kini harus terusik oleh terang sinarnya, yang menembus celah-celah jendela.
“Eungh ... apa sekarang sudah pagi,” gumam Rissa dengan mengeluarkan suara serak khas bangun tidurnya. Wanita itu meregangkan otot tubuhnya, dan segera melihat ke arah jam yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Rissa membulatkan matanya sempurna, saat melihat waktu sudah hampir jam 7. Sekarang masih pukul enam lewat tiga puluh menit, dan masih ada sisa waktu tiga puluh menit untuk bersiap dan berangkat ke proyek yang akan mereka tinjau.
“Hais, kenapa aku bisa bangun siang begini. Ini semua karena aku tidur larut malam. Siall!” gerutu Rissa sambil bangkit untuk segera membersihkan diri ke kamar mandi yang sudah tersedia di dalam sana.
***
Di sisi lain, seorang pria tengah bersiap untuk bergegas ke lapangan proyek yang akan ia tinjau bersama seorang pria, yang telah memergoki dirinya bersama Rissa semalam. Vano hanya berharap, pria itu tidak membocorkan masalah ini pada siapa pun, termasuk istrinya, Cheryl.
“Mas, kamu mau berangkat jam berapa?” tanya seorang wanita, yang tak lain adalah istrinya, Cheryl.
__ADS_1
“Jam tujuh tiga puluh menit sayang. Sebaiknya kita pergi sarapan bersama dulu. Apa kau sudah bersiap?” tanya Vano balik, sambil melihat penampilan istrinya.
“Aku sudah siap, ayo kita sarapan,” ajak sang istri , sambil menggandeng tangan suaminya. Vano maupun Cheryl, sengaja memilih sarapan di luar, karena mereka berpikir akan langsung pergi ke tempat tujuan masing- masing, setelah sarapan nanti.
Singkat cerita. Kini mereka sudah selesai menikmati sarapan mereka dengan tenang. Vano pun segera bersiap untuk pergi ke tempat tujuan, sebelum terlambat. Ia tidak ingin membuat masalah lagi dengan pria arogan tersebut.
Seorang pengusaha yang sangat berkuasa, dan lebih prahanya lagi, Aidan adalah sosok pria yang arogan dan dingin terhadap orang lain. Cih! pantas saja pria itu masih bujangan dan pernah beredar gosip tentang kelainan pada pria itu. Begitu pikir Vano yang tiba-tiba meremehkan, karena merasa kesal atas kejadian semalam.
Aidan memang pernah di kabarkan tidak punya ketertarikan terhadap lawan jenisnya, karena pria itu selalu terlihat bersama seorang pria, yang tak lain adalah sang sekertaris yang bernama Ren di hadapan publik. Hingga kedua orang tua Aidan, sudah beberapa kali menjodohkan sang putra dengan beberapa anak teman bisnisnya. Mereka sangat khawatir pada putranya yang sudah dewasa, tapi tak kunjung mau menikah.
Tentu saja hal itu menjadi sebuah kekhawatiran yang sangat besar bagi pengusaha besar dan berpengaruh tersebut, untuk melangsungkan garis keturunan mereka, agar tidak terputus begitu saja.
***
Hanya butuh waktu lima belas menit dari hotel menuju lapangan proyek yang Vano kerjakan bersama dengan Aidan. Kini, pria itu sudah tiba di area lapangan proyek. Sudah ada banyak karyawan yang mulai bekerja.
Bahkan, Lian sang Manajer pun sudah ada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Vano yang melihat keberadaan sang Manajer berada tak jauh dari tempatnya, langsung memanggil sosok pria tersebut. Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tak asing bagi Manajer Lian, akhirnya pria itu segera menghampiri Vano.
__ADS_1
“Selamat pagi, Bos,” sapa Manajer Lian sambil menunduk hormat.
“Selamat, pagi. Lian, apa Tuan Aidan sudah sampai di sini?” tanya Vano takut jika ia terlambat. Ia takut pria itu mendahuluinya datang ke proyek ini. Jika memang begitu, masalah semalam akan semakin besar.
“Sudah Bos. Tuan Aidan dan dua orang sekertarisnya sudah sampai lima belas menit yang lalu,” jawab Lian dengan tegas.
“Apa! Apa kau serius, jam berapa sekarang?” tanya Vano yang panik seketika. Jika melihat jadwal, seharusnya ia tidak terlambat. Namun, kenapa pria itu datang jauh lebih pagi dan membuatnya semakin panik saja. Vano terus menerus berkelut dengan pikirannya.
‘Habislah sudah riwayatku,’ batin Vano dengan perasaan yang sudah tidak enak sejak datang ke proyek tersebut.
“Sekarang pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, Bos. Sepertinya Bos tidak terlambat, tapi Tuan Aidan memang sengaja datang lebih awal,” jawab Manajer Lian dengan santai. Ia tidak tahu, jika jantung Vano berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Lalu, sekarang di mana Tuan Aidan?” tanya Vano penasaran, karena sejak tadi ia tidak melihat keberadaan pria arogan itu.
“Beliau ada di kantor proyek Bos,” jawab Manajer Lian dengan tegas.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Vano pun langsung bergegas menuju tempat yang di maksud oleh Lian, dengan langkah kaki yang sangat besar dan cepat.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...