Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Anu-anu


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Aidan mencengkram kedua pipi Rissa, hingga wanita cantik itu meringis kesakitan.


“Aku tidak akan pernah melepaskan mu,” desis Aidan tepat di hadapan wajah Rissa. Membuat wanita itu memejamkan matanya, saat hembusan kasar napas pria itu menerpa wajahnya.


“Kau egois, kau memang pria yang paling egois. Tolong jangan ganggu aku lagi, aku mohon,” ucap Rissa memohon, tapi hal itu membuat Aidan semakin tersulut emosi.


“Menangis lah sepuas hatimu, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu,” ucap Aidan sambil menampilkan senyum smirk nya.


“Kau gila! Kau adalah pria paling gila yang pernah aku temui, aku sangat me-,” teriak Rissa, tetapi Aidan segera meyambar bibir wanita itu dengan sangat rakus.


Rissa yang merasa Aidan sangat kasar melakukan itu, mulai memberontak dalam jeratan sosok pria gila tersebut. Aidan bahkan mengangkat tubuh Rissa dengan satu tangannya yang lain tanpa melepaskan ciumman panasnya.


Brukk!


Aidan menjatuhkan Rissa ke atas tempat tidur yang ada di kamar tersebut. Melihat gerak-gerik Aidan yang sangat mencurigakan, Rissa pun mencoba untuk kabur dan bersiap untuk bangkit, tapi Aidan dengan secepat kilat segera mengukung wanita itu di bawah sana.


“Mau lari kemana kau, hum?” tanya Aidan dengan tatapan yang tak dapat di artikan, sambil tersenyum devil ke arah wanita yang sudah ketakutan itu. Rissa yang melihat mata Aidan yang sudah memerah karena di penuhi kabut gairrah, semakin takut dibuatnya.


“Aidan, apa yang akan kau lakukan, cepat lepaskan aku!” ucap Rissa bergetar ketakutan.


“Apa ada yang salah dengan ini?” tanya Aidan tanpa melepaskan tatapannya pada Rissa.


“Aidan, ini salah. Cepat turun dari atas tubuhku sekarang juga, aku mohon,” pinta Rissa memohon.


Srekk! Srekk!


Aidan merobek pakaian atas Rissa dengan sangat kuat, hingga terpampang jelas kacamata Rissa di depan matanya, tapi Rissa yang terkejut itu pun mencoba untuk menutupi gunung himalaya itu dengan menyilangkan kedua tangannya.


“Aidan, apa yang kau lakukan, brengsekk!” bentak Rissa sambil menatap tajam ke arah pria yang tengah tersenyum nakal ke arah dirinya.

__ADS_1


“Kau begitu indah sayang. Siapa yang sudah menjamah buah mu yang indah ini,” ucap Aidan sarkas, hingga membuat Rissa semakin sakit hati mendengarnya. Bukan hanya hatinya yang sakit, tapi harga dirinya juga ikut hancur karena pria gila yang ada di hadapannya tersebut.


“Jika kau menganggap diriku sudah hina,tolong lepaskan aku. Cepat turun dari atas tubuhku!” bentak Rissa dengan deraian air matanya yang tak kunjung surut.


“Aku malah ingin membuktikannya sayang,” ucap Aidan yang kini sudah melepaskan semua pakaian wanita tersebut, hingga tanpa sehelai benang pun, membuat Aidan semakin panas saat melihat pemandangan indah di bawah kungkungannya.


Aidan segera melummat habis bibir Rissa dengan sangat rakus. Tangannya yang sudah menjalar, meraba ke setiap inci dari lekuk tubuh Rissa, membuat wanita itu merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini.


“Lep-pas, ahhhss!” dessah Rissa sambil terus berusaha mendorong pria itu, tetapi tenaganya tak cukup untuk menyingkirkan Aidan yang begitu kokoh dan kekar.


Mendengar suara ******* Rissa yang baru saja keluar dari mulutnya, membuat Aidan semakin bergejolak untuk melakukan lebih. Ia tak sungkan untuk menjilati leher jenjang, putih dan mulus milik wanita itu bagaikan es krim.


“Apa kau menyukainya sayang?” bisik Aidan di telinga Rissa dengan nada yang sensual, dan tangannya yang sudah meremmas dan memillin boba yang ada di puncak gunung himalaya tersebut, membuat Rissa semakin tak tahan dengan sentuhan Aidan yang sangat liar.


“Aku mohon jangan lakukan ini,” pinta Rissa agar Aidan melepaskan dirinya.


“Nikmati saja sayang,” ucap Aidan sambil tersenyum devil, membuat Rissa semakin terisak sambil memukuli punggung pria itu.


Setalah puas bermain-main dulu dengan tubuh indah milik sang kekasih. Kini, Aidan pun melepaskan semua pakaiannya hingga tak tersisa, dan menampilkan tongkat pusaka miliknya yang sangat tegak tapi bukan keadilan, besar tapi bukan gedung dan berurat tapi bukan bakso, yang mana hal itu semakin membuat Rissa ketakutan, dan ingin bangkit untuk melarikan diri dari sosok pria yang sedang ada di atas tubuhnya.


“Jangan, aku mohon, aku takut. Akhhhh!” teriak Rissa saat sesuatu yang tumbul di bawah sana sedang menerobos masuk dengan paksa, membuat Rissa semakin terisak menahan perih yang teramat sangat.


Aidan yang merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana sadar, jika Rissa memang masih gadis. Hal ini tentu saja adalah kebahagiaan untuknya, karena ia menjadi yang pertama bagi wanita tersebut.


“Ahss! Kau sangat nikmat,” ucap Aidan sambil mengecupi seluruh wajah Rissa, tapi wanita itu hanya diam sambil meringis, tak berniat untuk menjawab ucapan Aidan.


“Aidan, ini sakit, cepat lepaskan aku,” pinta Rissa memelas.


“Ahss sayang, kau sangat sempit. Sebaiknya kita nikmati saja,” ucap Aidan yang mendiamkan ular cobra miliknya agar bisa beradaptasi di dalam sana.


“Apa masih sakit?” tanya Aidan santai, tapi Rissa hanya diam tak menjawab, dan hal itu membuat Aidan tersenyum penuh kemenangan.


Setelah merasa Rissa relaks, ia mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan, agar wanita itu tidak merasakan sakit sekaligus.

__ADS_1


“Ahhss, sayang, kau sangat nikmat. Keluarkan suara indah mu,” racau Aidan sambil terus memompa tubuh Rissa hingga tak berdaya. Kamar yang sunyi kini telah diisi dengan suara dessahan dan errangan dua insan yang sedang bercintta.


Satu jam kemudian ...


“Lepas, aku sudah tidak kuat!” ucap Rissa dengan sedikit membentak.


“Sebentar lagi sayang, jangan keluarkan dulu, kita sama-sama,” cegah Aidan sambil mempercepat gerakannya.


“Ahhhss!” Aidan langsung ambruk di atas tubuh Rissa karena merasa lemas. Ia menenggelamkan wajahnya tepat di tengah gunung himalaya tersebut. Ia sengaja tak segera mengeluarkan ular cobra miliknya, agar ‘bisa’ ular bermata satu yang ia keluarkan segera menjadi kecebong lucu.


“Cepat lepaskan milik mu!” pinta Rissa yang sudah tak nyaman dengan ular Aidan yang masih menetap di bawah sana. Dengan segera pria itu mencabutnya, tak lupa juga ia mengecup kening Rissa dengan lembut.


“Terima kasih sayang,” ucap Aidan sambil tersenyum, tetapi Rissa malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tubuhnya terasa remuk redam. Ia sudah tak bertenaga lagi, walau pun hanya untuk sekedar berbicara saat ini. Bukan hanya fisiknya yang lelah, namun hatinya ikut hancur hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk Aidan.


Jika sudah begini, siapa yang akan ia salahkan, sekarang ia hanya membenci dirinya sendiri, menyesalpun sudah tidak ada gunanya.


Pada pukul 8 malam, setelah selesai bercintta. Aidan bangkit untuk membersihkan dirinya dan membuat makan malam. Setelah bertengkar tadi sore hingga ia mulai bercinta dengan wanita itu, mereka belum makan sama sekali.


Tak butuh waktu lama, kini Aidan mulai berkutat dengan pisau dapurnya untuk membuat makan malam mereka yang tertunda. Hingga semuanya sudah selesai, dan Aidan langsung membawakannya ke kamar untuk Rissa.


“Sayang, kau belum makan, aku akan menyuapi mu, bangun ya,” ucap Aidan dengan lembut sambil membelai puncak kepala milik Rissa.


“Enghh,” gumam Rissa mulai terusik.


“Makan yuk,” ajak Aidan lagi, namun Rissa tak kunjung membuka matanya.


“Aku tidak lapar,” ucap Rissa dingin, tanpa membuka matanya.


“Hmm, baiklah. Aku akan memanaskannya jika kau ingin makan. Istirahatlah.” Akhirnya Aidan pasrah dan membawa kembali makanan tersebut ke luar kamar.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2