Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Makan malam bersama


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Sosok pria yang ada di sebuah kamar, yang tak lain adalah Aidan. Pria itu langsung mengusap wajahnya dengan gusar, saat mengingat perjodohan yang dilakukan oleh sang ibu. Ia tidak menyukai wanita yang dipilih oleh ibunya, yang terlihat sangat tidak menarik itu.


Sebenarnya Lily adalah wanita cantik yang tak kalah dari Rissa, dan Lily juga keturunan pengusaha sukses. Lily cantik dan baik, tidak seperti Rissa yang keras kepala dan pemberontak. Namun, entah kenapa ia jauh lebih menyukai sikap Rissa yang apa adanya terhadap dirinya.


Aidan tahu sikap orang-orang yang terlihat baik di hadapannya hanya untuk menjilat harta dan kekuasaannya saja, termasuk wajah tampan dan tubuh tegapnya juga. Maka dari itu, ia sangat tidak menyukai sikap Lily yang cenderung menjijikan.


Berbeda halnya dengan Rissa, meskipun wanita itu tahu, jika dirinya seorang pengusaha besar dan berpengaruh di Negaranya, tapi tetap saja wanita itu selalu menolak dirinya dengan berbagai alasan. Tentu saja hal itu membuat Aidan semakin penasaran dengan sosok wanita seperti Rissa.


Bagaimana pun caranya, ia harus bisa menaklukan hati wanita itu, agar ia bisa lepas dari perjodohan yang telah ditentukan oleh sang ibu untuk dirinya. Ia pun tak mengerti dengan dirinya sendiri, entah ini hanya obsesi semata, atau memang cinta yang sesungguhnya kepada Rissa, yang jelas ia hanya ingin memiliki wanita itu seutuhnya.


Namun, yang menjadi kendala bagi dirinya adalah, hubungan Rissa dengan pria lain yang sudah memiliki istri, yaitu Vano. Ia sangat heran pada Rissa saat memilih untuk berhubungan dengan pria brengsekk itu. Rasanya ia ingin segera mencekik Vano agar pria itu tidak memikat wanitanya lagi.


***


Malam ini, di malam setelah pulang dari luar kota untuk meninjau proyek bersama Vano. Ia pun diminta untuk langsung pulang ke rumah utama, untuk memenuhi ajakan makan malam bersama keluarganya. Sebenarnya, ia sangat malas jika harus keluar dari Apartemen miliknya, hanya untuk makan malam ini saja, tapi sang Ibu memaksanya dengan segala cara, hingga ia pun luluh dan menuruti keinginan sang ibu.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar miliknya di rumah utama, hingga membuyarkan seluruh lamunannya. Aidan pun mendessah berat saat menyadari hal tersebut. Pria itu pun segera berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.


Ceklek!


Suara pintu terbuka, hingga menampilkan sosok wanita paruh baya yang masih cantik di usianya kini. Mama Dina.


“Mama, ada apa?” tanya Aidan saat mengetahui jika sosok wanita cantik itu adalah ibunya.


“Cepat bersiap, kita akan segera memulai makan malam,” jawab Mama Dina, dengan menampilkan wajahnya yang sangat berbinar senang, dan sangat antusias untuk acara makan malam tersebut.


“Ma, sebenarnya ini makan malam apa, sampai Mama begitu antusias?” tanya Aidan memastikan, dan kini tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya lagi.


“Makan malam bersama calon menantu Mama dong sayang. Apa kau sudah lupa? Mama pernah bilang ingin mengundang Lily makan malam bersama keluarga kita. Itung-itung sebagai tanda pengenalan di rumah ini. Supaya Lily tidak canggung lagi saat bertemu dengan mu nanti,” jawab Mama Dina panjang kali lebar, kali tinggi, kali sisi, dengan semangat tinggi.


‘Haiss! Tenyata makan malam dengan wanita itu,’ gerutu Aidan dalam hati dengan sangat malas.


“Ma, aku sudah bertemu dengannya waktu bersama Mama tempo lalu. Lalu, untuk apa lagi aku bertemu dengannya lagi. Mana pake acara makan malam,” ucap Aidan kesal karena merasa sangat malas jika harus bertemu dengan wanita itu.

__ADS_1


“Sayang, jangan membantah. Mama melakukan ini karena Mama tahu, jika dia wanita yang baik dan juga sangat cocok bersama dengan mu. Jangan pernah kecewakan Mama lagi, jika kau masih ingin menyandang status sebagai pewaris Keluarga besar Smith,” ucap Mama Dina, yang tiba-tiba saja melontarkan sebuah ancaman. Wanita paruh baya itu mengancam dan sangat tegas pada sang putra.


“Baiklah, Mama pergi saja dulu, nanti aku akan menyusul. Aku mau bersiap ganti pakaian,” ucap Aidan dengan nada mengusir.


Rasanya ia sangat malas jika harus membahas tentang ancaman pewaris. Sebenarnya ia juga tidak gila harta, tapi bagaimana jika Rissa semakin menjauh karena ia miskin. Tidak! setidaknya ia butuh uang untuk memenuhi kehidupan calon istrinya, Rissa. Padahal Rissa belum tentu mengakui dirinya sebagai calon suami.


“Hmm, cepatlah dan jangan buat kami menunggu lama,” ucap Mama Dina dengan merubah raut wajahnya dengan cepat, yang kini tersenyum lembut ke arah sang putra, hingga membuat Aidan melongo dibuatnya. Setelah mengatakan hal itu, Mama Dina pun langsung bergegas turun ke lantai bawah untuk menemani sosok wanita yang akan menjadi menantunya kelak.


‘Cih! Dasar wanita. Perubahan Mama cepat sekali. Sudah seperti membalikan halaman buku saja,’ gerutu Aidan dalam hati, sambil menatap punggung sang ibu yang pergi meninggalkannya seorang diri di ambang pintu.


Kini, Aidan pun sudah bersiap dengan memakai kemeja berwarna Hitam dan menggulung kan lengan kemejanya hingga batas siku. Pria tampan itu pun semakin mempesona dengan penampilannya saat ini. Mata yang tajam dan rahang yang kokoh itu menjadi daya tarik utamanya, apalagi hidungnya mancung dan dagu yang dipenuhi bulu-bulu halus, membuatnya semakin terlihat menggoda.


Pria itu segera keluar dari dalam kamarnya, karena tidak ingin membuat sang ibu mengamuk dan mengguncangkan negara Api. Jika bukan karena sang ibu, ia sangat malas untuk makan malam saat ini, apalagi jika harus bertemu dengan Lily, calon istri yang sudah disiapkan oleh ibunya.


Aidan melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga, sambil melihat ke arah bawah sana. Matanya mulai menyapu mengelilingi meja makan tersebut, hingga netranya mulai memicing saat melihat wanita cantik yang sedang asik berbincang dengan keluarganya.


“Ck! kali ini kau menang rubah kecil, karena sudah berhasil menarik perhatian Mama ku, tapi saat ini, aku lah pemeran utama dalam ceritanya. Aku tidak akan pernah menerima wanita manapun, kecuali wanita yang sangat aku sukai,” gumam Aidan sambil menampilkan seringainya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2