
Selamat membaca ...
...****************...
Banyak hal telah terjadi, hingga tak terasa telah tiba hari di mana sebuah ikatan suci akan diikrarkan. Dari hal yang paling buruk hingga hal yang paling baik telah mereka terima sebagai pelajaran hidup agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Sebelum menjelang hari pernikahan, Aidan terus meyakinkan sang ibu agar percaya pada pilihannya dan percaya bahwa Rissa adalah wanita yang baik dan sangat cocok menjadi pendamping hidupnya.
Namun akhirnya, perjuangan Aidan mampu meluluhkan hati sang ibu, dan tentunya dengan beberapa bukti agar ia bisa meyakinkan ibunya tanpa harus dengan cara memaksa.
Seorang wanita berbalut gaun putih, dengan rambut yang disanggul indah sedang menuruni anak tangga secara perlahan. Wanita cantik itu mampu menyihir para tamu undangan yang hadir. Bahkan, Aidan yang sudah ada di bawah sana dengan setelan yang sama seperti calon istrinya, tak mampu mengedipkan matanya sedikit pun.
Aidan terus menatap Risa dengan penuh perasaan. Hatinya mulai menghangat hingga tanpa ia sadari sebuah cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya kini telah terjun bebas.
'Rissa akhirnya kau menjadi milikku. Aku berjanji akan membahagiakanmu hingga nafas terakhirku,' batin Aiden seraya mengusap lelehan bening di pipinya.
***
Waktu sudah berlalu dengan cepat hingga resepsi pernikahan pun semakin ramai oleh tamu undangan yang terus berdatangan. Risa maupun Aidan sudah bersanding dan menyambut beberapa tamu undangan yang naik ke atas pelaminan mereka.
Sesekali Aidan melirik Risa yang terus tersenyum dengan wajah yang berbinar. Aidan ikut tersenyum meskipun ia sendiri menjadi bingung dengan apa yang telah terjadi pada istrinya.
"Sayang kenapa kau dari tadi terus tersenyum seperti itu?" Tanya Aidan Yang penasaran. Pria itu semakin mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri, dan sesekali mengecup telinga Rissa dengan singkat. Wanita itu langsung mendelik kan matanya karena terkejut dengan apa yang telah Aidan lakukan.
__ADS_1
"Aidan Apa yang kamu lakukan, di sini masih banyak orang. Apa kau tidak malu?!" Gerutu Rissa dengan mendesis pelan sambil mengusap telinganya, yang mungkin saja sudah memerah karena menahan malu. Aidan terkekeh saat melihat tingkah Risa yang sangat menggemaskan di matanya.
"Aku hanya penasaran. Kau sangat cantik sayang. Aku sudah tidak sabar ingin melalui malam pengantin kita," bisik Aidan dengan suara yang berat. Lagi dan lagi Rissa mendelik tak suka sambil mencubit lengan Aidan dengan gemas.
Namun suasana mereka tiba-tiba saja berubah, saat seorang wanita muda yang tengah hamil datang bersama wanita paruh baya. Ya, wanita itu adalah Cheryl bersama nyonya Anna.
"Icha selamat sayang, semoga pernikahanmu diberikan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dan untuk Aidan, Ibu harap kau bisa menjaga dengan membahagiakan Rissa. Banyak hal yang telah terjadi tapi Ibu mohon sering-seringlah berkunjung ke rumah ibu bersama suamimu. Ibu juga mengharapkan cucu dari kalian," ucap nyonya Anna pada Rissa dan Aidan. Sedangkan mereka berdua hanya mengangguk seraya tersenyum lembut menanggapi ucapan nyonya Anna.
"Rissa, selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian selalu bahagia." Cheryl mengusap sudut matanya yang basah sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Terima kasih ibu, Cheryl. Akulah yang seharusnya minta maaf pada kalian. Tolong maafkan aku," ungkap Rissa penuh penyesalan.
"Sayang, jika kau sudah lelah kau boleh istirahat dulu. Kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu. Mama tidak ingin cucu mama kenapa-napa." Aidan tersenyum saat melihat sang Ibu sudah berubah menjadi sangat penyayang terhadap istrinya.
"Mama nggak usah khawatir, aku belum capek kok. Cucu Mama sangat sehat dan kuat jadi hal ini bukan apa-apanya bagiku," ucap Rissa meyakinkan sang ibu mertua.
"Tetap saja memang masih khawatir. Duduklah, Mama akan bawakan makanan untuk kalian. Jangan sampai cucu mama kenapa-napa." Akhirnya mama Dina pergi meninggalkan mereka berdua yang tengah menahan senyumnya.
"Apa Mama selalu bersikap seperti itu?" Tanya Rissa penasaran.
"Tidak juga. Mama hanya peduli padamu dan cucunya saja," jawab Aidan sambil terkekeh. Sedangkan Rissa hanya memutar bola matanya jengah saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut sang suami.
__ADS_1
Cinta yang besar akan melahirkan sebuah kebencian yang begitu besar pula. Ada banyak cara untuk menyampaikan cinta di dunia ini, salah satunya dengan cara membenci.
Hargailah orang yang selalu ada di sisimu, sekalipun kau tidak pernah menginginkan kehadirannya. Cinta tak butuh logika, karena cinta adalah sebuah rasa.
Cinta melahirkan pengorbanan, yang akan melahirkan kebencian. Barulah kau akan memahami arti penderitaan.
TAMAT ...
Terima kasih untuk pembaca yang sudah menunggu dan membaca cerita ini. Jangan lupa baca karya Mimin yang lain ya ...
~ My Possessive Husband (tamat)
~ Leave Me Please Hubby (tamat)
~ Jerat Dendam Sang Mafia (tamat)
~ My Fierce Wife (on going)
~ My Obsession Husband (on going)
~ Menikahi Juragan Empang (on going)
__ADS_1