Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Kecurigaan Cheryl


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Cheryl tersenyum lembut saat mendengar bisikan Vano yang seakan menaburkan bunga di hamparan tanah tandus. Wanita itu pun membalikkan tubuhnya dan menatap sosok pria yang sangat ia cintai itu.


“Aku tahu kau sangat mencintai ku. Sudah sana, ke meja makan. Aku akan membawakan sarapan mu,” ucap Cheryl yang melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Pria itu segera bergegas pergi ke meja makan. Cheryl memang sabar dan baik. Selang beberapa lama. Akhirnya muncul seorang wanita sambil membawa makanan dalam nampan. Wanita itu segera menyiapkan dan mengambilkan satu porsi makanan untuk Vano.


“Mas, ini sarapan mu.” Cheryl menyerahkan piring berisi makanan itu di hadapan suaminya.


“Makasih, sayang. Apa kau tidak sarapan. Kenapa piring untuk mu tidak ada?” tanya Vano dengan penuh selidik.


“Ah, Ya! Aku belum ingin makan. Kau makanlah dulu,” jawab Cheryl sambil tersenyum lembut ke arah suaminya. Ia hanya duduk di sana untuk menemani sosok pria tampan tersebut. Tak butuh waktu lama. Akhirnya pria itu sudah selesai dengan ritual sarapannya.


“Sayang, aku sudah selesai. Aku akan segera berangkat ke kantor. Seperti biasa, aku akan pulang telat. Kau jaga diri baik-baik di rumah. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku atau pak Dodi saja,” ucap Vano dengan panjang lebar sambil mengacak rambut sang istri dengan gemas.


“Mas, aku ingin bertanya sesuatu padamu!” pinta Cheryl sambil mencekal pergelangan tangan suaminya. Pria itu terdiam sambil mengerutkan keningnya, tanda penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya tersebut.


“Apa itu?” tanya Vano penasaran. Wanita itu mendekati suaminya sambil menatap lekat mata Vano. Pria yang sangat ia cintai.


“Kamu semalam ke mana? Kenapa kemeja mu ada noda Lipstik dan bau parfum wanita?” tanya Chery tanpa mengalihkan tatapannya dari Vano.


Degg! Degg! Degg!


Jantung Vano berdegup dengan kencang, saat mendengar pertanyaan yang lolos dari mulut istrinya. Ia tak tahu harus menjawab apa, dan kenapa istrinya bisa begitu teliti tadi malam.

__ADS_1


Wajahnya memucat saat Cheryl menatapnya dengan intens, seolah ingin mencari sebuah kebenaran di dalam mata tersebut. Ia hanya bisa memasang wajah polos tanpa dosa agar Cheryl tidak mencurigainya.


“Kemeja? Bau? Ah ya! semalam aku pergi menemui klien di bar, karena itu keinginannya. Dia membawa sekretaris wanita yang sengaja ingin menggoda ku, demi bisnis ini,” jawab Vano dengan gugup. Pria itu akan tetap menyembunyikan kebenaran yang ada.


“Bukankah semalam kau bilang akan menemui klien di Restoran. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Cheryl yang masih penasaran dengan apa yang ia dengar. Entah kenapa ia merasa ragu dengan jawaban suaminya saat ini.


“Be-benarkah? Aku rasa, aku tidak mengatakan hal yang kau maksud, sayang. Mungkin kau hanya salah dengar. Kau tahu, aku sangat mencintai dirimu. Hanya dirimu seorang. Sudah, kau jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin kau hanya kelelahan saja, karena semalam kau bermain dengan sangat liar. Aku akan berangkat ke kantor.” Vano mengecup singkat kening, kemudian bibir seksi milik istrinya.


Pria itu segera bergegas pergi dari hadapan istrinya untuk menghindari pertanyaan yang bisa menimbulkan pertengkaran. Vano meninggalkan istrinya dengan penuh pertanyaan yang masih ingin diketahui oleh wanita itu.


Cheryl hanya diam tak bergeming sesaat setelah kepergian Vano. Mungkin, yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Ia hanya salah dengar, lalu salah paham pada pria itu. Namun, sekeras apapun ia meyakini ucapan sang suami. Tetap saja hati dan pikirannya jadi tidak karuan. Ia masih marasa takut dengan segala keresahan dan kegundahan di hatinya.


Vano segera melajukan mobilnya menuju kantor perusahaan. Pria itu akhirnya bisa bernapas lega, karena bisa keluar dari situasi panas pagi ini. Ia hanya berharap, jika Cheryl percaya pada ucapannya.


***


“Aku harus mencari cara, agar Cheryl tidak mencurigai ku. Atau kalau tidak, dia akan mencari tahu sampai kebenarannya akan terungkap,” gumam Vano dengan rasa khawatir.


Rasanya, ia tidak akan bisa fokus pada pekerjaannya, jika Cheryl dan Rissa selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Dua wanita yang ia sebut sebagai sumber kebahagiannya, dan juga sumber masalah baginya.


Pria tampan itu menghela napasnya panjang, dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia juga harus memikirkan cara, agar istrinya tidak mengetahui kebenaran tentang kekasihnya, Rissa.


Namun, tak berselang lama. Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Vano yang mendengar hal itu, langsung mengizinkan masuk orang yang ada di luar tersebut.


“Selamat pagi, Pak. Ini ada berkas penting yang harus segera ditanda tangani,” ucap seorang wanita yang merupakan Sekretaris Vano, Dina.


“Din, apa kau sudah menyiapkan berkas yang sudah aku berikan padamu?” tanya Vano yang hanya ingin memastikan persiapan dokumen untuk bekerja dengan ADS Company.

__ADS_1


“Sudah pak. Kalau begitu saya pamit undur diri.” Setelah menyampaikan hal itu, Dina segera bergegas pergi dari ruangan sang bos. Vano pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


***


Di sisi lain ...


Setelah beberapa saat melalui jalanan ibu kota yang ramai, termasuk menikmati kekesalan sang Bos di pagi hari, membuat sekertaris Ren harus terkena imbasnya. Kini, Aidan dan sekertaris Ren sudah berada di kantor, tak lupa juga ia harus mencari sosok wanita yang telah membuat ia kesal sepanjang jalan ini.


“Selamat pagi tuan, selamat pagi Sekertaris Ren,” sapa seorang wanita yang dari tadi di cari oleh dua orang itu. Tanpa perlu mencari jauh, mangsa telah datang dengan sendirinya.


“Selamat pagi nona,” sapa sekertaris Ren membalas sapaan sosok wanita cantik itu. Sedangkan, Aidan hanya melirik dengan ekor matanya sambil mendengus kesal.


“Ren, bawa wanita itu ke ruangan ku sekarang juga!” ucap Aidan dengan nada perintah yang langsung pergi meninggalkan dua orang yang sudah membuatnya kesal di pagi hari.


“Nona, sebaiknya ikut saya ke ruangan Bos,” pintanya pada sosok wanita cantik itu. Sedangkan, Rissa hanya memutar matanya malas. Ia tahu pasti pria itu akan memarahinya kembali.


‘Huh, dasar pria arogan. Untuk apalagi dia memanggilku jika bukan untuk memarahiku. Aku harus sabar, ini hanya berlangsung beberapa saat saja. Aku harus kuat,’ batin Rissa sambil menghela napas panjang.


“Baiklah, ayo,” ucap Rissa yang langsung mengikuti langkah kaki sekertaris Ren menuju ruangan sang Bos.


Tokk! Tokk! Tokk!


“Masuk!” ucap seseorang dari dalam, yang tak lain adalah Aidan.


“Bos, saya sudah membawa nona Rissa,” ucap Sekertaris Ren saat sudah ada di hadapan Aidan.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...


__ADS_2