
Selamat membaca ...
...****************...
Tak butuh waktu yang lama, kini mereka sudah ada dalam perjalanan menuju hotel yang mereka tempati saat ini. Tak ada percakapan di dalam sana. Hanya ada keheningan yang begitu mencekam diantara mereka. Tak ada satu orang pun yang berani membuka topik pembicaraan, dan masih berkelut dengan pikirannya masing-masing.
"Apa kau sudah senang, karena menghancurkan hatiku?" tanya Rissa dengan tiba-tiba, tanpa menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya sedikit pun. Wanita itu hanya menatap ke arah luar jendela, dengan tatapan lurus dan kosongnya. Bahkan, sesekali terdengar suara napas kasar dari wanita itu.
Sosok pria dingin yang mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu langsung terkejut dan menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya. Aidan menyunggingkan sedikit sudut bibirnya, tapi masih bisa terlihat dengan jelas.
"Apa ada yang salah dengan acara makan malam kita. Atau bahkan kau merasa tidak puas, sayang?" bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya dengan santai tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Apa kau sudah gila melakukan hal ini padaku? Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Rissa yang kini sudah menatap Aidan dengan tatapan tajam dan tak habis pikirnya.
"Memangnya Apa yang ku lakukan. Apakah kau tidak senang?" lagi dan Lagi, Aidan hanya bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Mulai besok kau tidak perlu menghubungiku lagi. Kita akhiri saja sandiwara ini, dan pergi menjauh lah dari hidupku! Dan aku, aku akan meminta resign dari kantor mu," ucap Rissa dengan tegas sambil menatap Aidan dengan tatapan tajamnya. Wanita itu sangat kesal saat menerima perlakuan yang semena-mena dari pria tersebut.
Aidan yang mendengar ancaman dari wanita itu langsung menoleh ke arahnya, dan menatap wanita itu dengan tak kalah tajamnya. Ia tidak akan pernah menerima semua keputusan yang Rissa ucapkan. Dan apa tadi?! Rissa ingin berhenti dari kantornya? Cih! itu tidak akan pernah terjadi.
"Jika aku tidak memberi izin, bagaimana?" tanya Aidan dengan nada menantang. Terdengar napas kasar dari sosok wanita yang ada di sampingnya. Wanita itu memejamkan matanya sekilas, lalu kembali menatap Aidan dengan tatapan tajam.
"Tapi aku akan tetap meninggalkan mu," ucap Rissa dengan tegas tanpa bantahan sedikit pun.
__ADS_1
"Lakukan lah semau mu, karena kau pasti akan tetap berada dalam genggaman ku. Kau hanya bisa menjadi milikku," ucap Aidan dengan sangat percaya diri.
"Apa kau sudah tuli! Apa kau buta! Aku tidak ingin bersama mu! Kau adalah pria yang akan menghancurkan segala rencana ku! Aku tidak pernah mencintai mu!" bentak Rissa sambil memukul-mukul dada bidang milik Aidan. Ingin rasanya ia menangis dengan kencang saat itu juga.
"Katakan saja aku seperti itu. Memangnya kau punya rencana apa hingga kau takut aku menggagalkan semua rencana mu? Aku bisa saja membantu rencana mu. Asalkan terus bersama ku," ucap Aidan dengan mantap.
"Kau tidak perlu tahu akan hal itu, karena itu bukan urusan mu. Cukup tinggalkan aku dan jangan pernah kembali ke hadapanku, atau aku akan melaporkan mu, atas kasus pemaksaan," jawab Rissa dengan nada penuh ancaman.
Tiba-tiba terdengar suara kekehan kecil dari mulut Aidan, saat mendengar ancaman dari mulut Rissa. Yang mana ancaman itu terdengar sangat menggelikan bagi sosok pria berkuasa itu. Memangnya siapa yang berani mengancamnya, dan melaporkan tindakannya saat ini. Ia rasa, ia cukup berpengaruh di Negara tersebut, hingga tak perlu takut apapun yang ia lakukan, selama hal itu tidak ada bukti yang nyata. Bahkan, ia bisa saja untuk memutar balikkan fakta yang ada.
"Aku sudah mengatakannya berulang kali. Lakukan semau mu, dan aku akan tetap melakukan apa yang ingin aku lakukan. Justru aku sangat menantikan aksimu, sayang," ucap pria itu yang masih menjawab sama seperti sebelumnya, dan masih bisa bersikap santai seolah tak terjadi apapun.
"Kau memang sudah gila!" cibir Rissa, sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Pria itu malah sangat menyukai wajah Rissa yang tampak kesal, karena terlihat menggemaskan di matanya. Hingga tanpa disadari, Aidan memeluk Rissa dengan erat dan mengecup puncak kepala milik wanita cantik itu.
"Kau akan menyesal jika meninggalkan ku, karena hanya aku yang akan melakukan apapun yang kau inginkan. Pikirkan lah dengan baik. Tapi sebaiknya kau tetap ada di sisiku," ucap pria itu mengancam dengan mendesis tepat di telinga Rissa. Aidan sangat tidak suka, jika permintaannya ditolak begitu saja.
Rissa sungguh tak habis pikir saat mendengar ancaman dari Aidan. Ia lupa jika pria itu adalah pengusaha paling kaya di Negaranya, dan juga sangat berpengaruh. Mana mungkin pria itu takut dengan ancaman kecilnya. Yang ada, malah ia yang akan menderita. Rissa hanya diam, dan tak mampu menjawab apapun lagi.
'Pria ini benar-benar jadi batu penghalang bagiku, untuk mendekati Vano. Tapi aku aku harus tetap santai, selama Vano belum tahu jika istrinya sudah membongkar kebusukan yang dia lakukan di belakang layar. Maka, aku pun akan melakukan permainan ku sesuai dengan rencana sebelumnya,' batin Rissa yang sangat geram pada sosok pria yang ada di sampingnya.
"Selain gila, kau juga pria yang tak tahu malu. Aku rasa kau sangat suka mengancam seorang wanita yang tak pernah mencintai mu," cibir Rissa dengan nada datar, tanpa menoleh ke arah Aidan sedikit pun.
"Sayangnya aku tidak peduli dengan pandangan mu padaku," ucap Aidan dengan santai. Seolah dirinya tak bergeming sedikit pun dengan apa yang Rissa ucapkan.
__ADS_1
"Sudah sampai bos," ucap sosok pria yang sedang mengemudi di depan sana, yang tak lain adalah Ren, yang sejak tadi hanya diam saja.
"Sayang, sekarang sudah sampai. Kau harus segera istirahat, agar tubuh mu lebih segar besok pagi," ucap Aidan sangat lembut, seolah tak terjadi apapun sebelumnya.
Wanita itu hanya diam dan segera keluar dari mobil mewah milik Aidan. Rissa tampak kesal dengan perlakuan Aidan yang sangat semena-mena terhadap dirinya. Sedangkan, pria itu malah merasa dirinya diabaikan, dan hanya menyunggingkan senyum smirk yang terbentuk di garis bibirnya. Aidan semakin bertekad untuk mendapatkan hati Rissa. Wanita misterius yang hadir dalam kehidupannya.
***
Sekarang Rissa sudah ada di dalam kamar hotelnya. Wanita itu langsung membersihkan diri untuk segera beristirahat. Hanya butuh beberapa menit saja untuk membersihkan diri, dan kini ia sudah siap dengan piyama tidurnya.
"Brengsekk!" maki Rissa saat mengingat kejadian di restoran tadi. Wanita itu berbaring telentang sambil menatap atap kamar hotel.
"Kenapa aku harus terlibat dengan pria itu! Dia sungguh sangat tidak tahu malu, dan bisa saja menjadi ancaman bagiku. Tidak! Aku tidak boleh lengah darinya. Aku harus segera pergi meninggalkan dia. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria seperti itu. Ini sangat berbahaya untuk rencana ku ke depannya," sambungnya lagi sambil memikirkan cara agar bisa terlepas dari Aidan.
Merasa lelah dengan sandiwara hari ini. Tak terasa mata Rissa pun mulai terpejam, dan menyelami alam mimpinya. Berharap akan ada kebaikan yang menghampirinya di hari yang akan datang.
***
"Rissa, akan aku tunjukkan di mana tempat mu yang sebenarnya. Tidak akan aku berikan kamu peluang sedikit pun untuk mendekati suamiku. Bahkan, untuk Aidan sekali pun," gumam Cheryl sambil tersenyum devil.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1