Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Penolakan Rissa


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Gairah yang semakin tinggi dan semakin memanaskan dua tubuh manusia yang tengah saling melummat, menyesap dan meraba, hingga membuat wanita yang sudah terbuai oleh api gairrah tersebut kini tersadarkan kembali.


Wanita itu melepaskan pangutan bibirnya dan melihat ke arah pria yang masih dipenuhi oleh kabut gairrah. Rissa menatap sosok Aidan dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


"Sebaiknya kau lepaskan tangan mu dari milik ku," ucap Rissa datar pada Aidan dengan nada perintah, sambil mencoba untuk menghentikan tangan Aidan yang terus meremmas bukit himalayanya, dan masih memilin dua coklat yang ada di atas bukit tersebut.


Chococips milik Rissa sudah mengeras dan siap untuk dihisap, tapi ia langsung sadar dan tidak ingin terbuai lebih jauh lagi dalam buaian pria tersebut.


"Aku tidak ingin melepaskan mu," ucap Aidan sedikit manja, sambil menatap wajah Rissa dengan memelas. Berharap wanita itu membiarkan kegiatannya yang sangat nikmat, tanpa ada gangguan sedikit pun.


"Aku sudah mulai lapar lagi. Mungkin tadi sarapan ku belum cukup. Cepat lepaskan tangan mu dari milik ku," pinta Rissa dengan nada perintah, sambil berusaha melepaskan tangan milik Aidan dari bukitnya. Namun, tetap saja pria itu memilin dua buah Chococips milik Rissa, dan tak bergeming sama sekali.


Aidan semakin kuat meremmas dan memilin benda kenyal yang ada di tangannya, yang mana hal itu membuat Rissa semakin mendessah nikmat. Handuk kimono yang ia pakai sudah terbuka setengah badan, hingga menampilkan dua bukit Himalaya yang sangat besar, sintal dan padat.


"Aku ingin lebih," pinta Aidan dengan nada yang sensual, dengan mata yang sudah memerah dipenuhi kabut gairrah.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu," ucap Rissa menolak permintaan dari Aidan. Baginya, hal ini adalah suatu kesalahan dan tidak akan pernah terulang kembali.


"Kenapa, bukankah kau sangat menikmatinya?" tanya Aidan dengan penuh selidik. Ia merasakan sesuatu yang sudah tegang di bawah sana. Sesuatu yang sudah memberontak ingin dikeluarkan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa jika aku menikmatinya. Lagi pula, kita sama-sama sudah dewasa, dan hal ini adalah kebutuhan siapa saja yang menginginkannya. Ini bukan rahasia umum dan kau tahu hal itu," jawab Rissa menjelaskan sambil menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


Aidan membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar penuturan dari Riisa. Ia hanya diam dan mulai melepaskan tangan kekar dan kokohnya dari dua bukit Himalaya milik wanita cantik tersebut.


"Jadi, maksud mu hal ini sudah biasa kau lakukan. Apa kau sedang berusaha untuk membuat ku menyerah padamu, tapi sayangnya aku tidak peduli akan hal itu. Kamu hanya akan menjadi milikku, hanya milikku seorang, dan saat tiba hari di mana aku memiliki mu, maka kau sudah kalah dariku. Pakai lah baju mu," ucap Aidan dingin dan tegas dengan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Rissa.


Pria itu melepaskan tangan miliknya yang dari tadi meremmas benda kenyal milik wanita itu dan membenarkan handuk kimononya. Hatinya begitu memanas saat mendengar jawaban dari Rissa, tapi Aidan berusaha untuk menutupinya.


"Aku tidak mengatakan jika aku ingin membuat mu menyerah, tapi karena itulah kenyataannya. Aku tidak peduli dengan segala ancaman mu. Kau tidak akan pernah bisa memiliki diriku," ucap Rissa dengan tak kalah tegas dari pria yang ada di hadapannya. Ia segera pergi dari sana untuk memakai bajunya di dalam kamar mandi.


Setelah kepergian Rissa, Aidan pun segera melangkahkan kakinya menuju sofa panjang yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Pria itu menghela napasnya panjang sambil menyandarkan kepalanya ke belakang hingga menatap langit-langit kamar tersebut.


"Wanita ini benar-benar sulit aku taklukan. Aku sudah punya segalanya, wajah tampan, gagah perkasa, uang yang tak akan ada habisnya selama beberapa keturunan ku, dan juga kekuasaan. Tapi kenapa kau malah menyukai dan memilih pria bajjingan itu," gumam Aidan sambil memejamkan matanya karena tak habis pikir dengan jalan pikiran Rissa saat ini.


***


"Sayang, apa sekarang sudah pagi?" tanya sosok pria yang tak lain adalah Vano, sambil mengeluarkan suara serak khas bangun tidur.


Cheryl yang terusik karena pertanyaan sang suami, hingga ia terbangun, langsung mengerjapkan matanya berulang kali, agar melihat dengan jelas jam yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dua orang yang masih bergelung dalam selimut itu pun terbangun tapi masih merebahkan tubuh mereka masing-masing dia atas tempat tidur. Rasanya Vano sangat malas untuk keluar dari hotel tersebut, karena tubuhnya sangat lelah. Apalagi hati dan pikirannya sangat lelah menghadapi situasi tadi malam.


Begitu juga dengan Cheryl. Wanita itu malah memejamkan matanya kembali karena tubuhnya terasa remuk redam, padahal ia tidak melakukan banyak pekerjaan apapun tadi malam. Hari ini akan ia gunakan untuk rebahan saja di dalam kamar dan bermalas-malasan.


"Sayang, apa kau tidur lagi?" tanya Vano sambil melihat ke arah wanita cantik yang ada di sampingnya, sambil menyelipkan helaian rambut milik sang istri ke arah belakang.

__ADS_1


"Sayang, bangun lah dan segera bersihkan tubuh mu, kita akan sarapan," tpinta Vano agar istrinya bangun. Wanita itu kembali membuka matanya dan mengerjapkan matanya berulang kali.


"Hari ini aku ingin di kamar saja Mas. Pesan sarapan di hotel ini saja dan bawa ke kamar," ucap Cheryl lirih dengan suara seraknya.


'Sayang, maafkan aku,' batin Vano sambil menghela napasnya panjang dan segera bangkit dari tempat tidur, dan segera bergegas pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah kepergian sang suami dari tempat tidurnya, kini Cheryl bangun dan terduduk sambil bersandar di ujung tempat tidurnya.


"Mas, sifat mu bahkan sama manisnya seperti sebelum kau bermain api di belakang ku. Lalu kenapa kau tega menduakan aku Mas. Apa kau masih mencintai ku," gumam Cheryl sambil bertanya-tanya dalam benaknya, atas apa yang terjadi dalam rumah tangga yang ia jalani.


***


Tak butuh waktu lama, akhirnya sosok pria tampan muncul dari balik pintu hanya dengan menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Pria itu tersenyum saat melihat istrinya sudah bangun dan duduk di bibir tempat tidurnya.


"Sayang, cepat bersihkan tubuh mu, kita akan segera sarapan," ucap Vano dengan nada perintah.


"Apa kau sudah memesan sarapan kita?" tanya Vano lagi sambil memakai pakaian santai.


"Belum mas, kau pesan saja, aku akan membersihkan diri," ucap Cheryl sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Haiss, kenapa aku merasa istriku sedikit berbeda. Entahlah, aku hanya berharap dia tidak tahu mengenai hubungan ku dengan Rissa saja, itu sudah lebih dari cukup bagiku," gumam Vano sambil berjalan ke arah telepon yang tersedia di dalam kamar hotel tersebut untuk memesan sarapan mereka setelah selesai memakai pakaiannya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2