
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah sampai, Vano pun melirik ke arah istrinya masih tertidur, hingga pria tampan itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Ternyata istrinya sangat kelelahan hingga tidur begitu nyenyak.
"Sayang! Sayang bangun, kita sudah sampai di rumah," Panggil Vano pada istrinya, sambil menggoyangkan tubuh wanita cantik yang sedang terlelap itu.
Cheryl terusik saat mendengar panggilan sang suami, dan merasakan sentuhan di bahunya hingga wanita cantik itu mengerjapkan matanya berulang kali.
"Mas apa kita sudah sampai?" tanya wanita itu dengan suara serak khas bangun tidur sambil mengucek matanya pelan.
"Sudah, sebaiknya kita segera turun," jawab Vano yang langsung turun mendahului sang istri untuk membukakan pintu istrinya.
Seketika Vano terhenti sambil mengerutkan dahinya tanda tak mengerti, saat netra miliknya melihat ada sebuah mobil sang Ibu yang ada di garasi. Ia merasa heran karena ibunya sama sekali tak pernah menghubunginya selama beberapa hari ini, tapi kenapa tiba-tiba sang ibu datang tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Mas itu sepertinya mobil ibu. Tapi kenapa ibu bilang sama kita. Aku jadi tidak enak sama ibu Mas," ucap Cheryl dengan lirih. Pasalnya ia tidak begitu akur dengan sang ibu mertua.
__ADS_1
"Iya, itu memang mobil ibu. Sepertinya ibu datang ke rumah. Ayo kita masuk, sebelum ibu membuat ulah dan mencari alasan menyalahkan mu lagi," ucap Vano membenarkan ucapan sang istri dan segera menggandeng tangan istrinya memasuki rumah mewah tersebut.
***
"Ibu, kapan ibu datang ke sini?" tanya Vano sesaat setelah memasuki rumahnya. Sedangkan Cheryl hanya diam sambil menunduk tak berani untuk menyapa Ibu mertuanya.
"Apa begitu cara mu saat bertemu dengan ibu?" bukannya menjawab, Bu Elin malah balik bertanya dengan nada yang sinis.
Tak lupa juga wanita paruh baya itu melirik sekilas ke arah sosok wanita yang berdiri di samping putranya, Cheryl. Ia Malah melihat sang menantu dari atas sampai bawah dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Cheryl hanya diam saja tanpa berani mengatakan hal apapun di depan Ibu mertuanya.
"Oh ternyata begitu. Apa istrimu sangat perhitungan atau khawatir, hingga mengikuti mu untuk pergi ke luar kota?" tanya Bu Elin dengan nada meremehkan.
"Maaf Bu, sebelumnya aku sudah meminta izin pada mas Vano untuk ikut dengannya. Aku juga tidak memaksa, tapi Mas Vano juga tidak keberatan kok Bu," ucap Cheryl yang kini sudah membuka suaranya dengan hati-hati terhadap sang Ibu dari suaminya.
"Cih! Kau terlalu banyak alasan. Bilang saja kalau kau tidak mau ditinggal oleh suami mu, kau takut jika suami mu pergi dengan wanita lain. Jika kau sadar diri tidak bisa memberikan keturunan untuk putraku, maka biarkan suami mu dengan wanita lain untuk mendapatkannya. Kenapa putra ku mau menikah dengan wanita manja seperti mu," cibir Bu Elin sambil melayangkan tatapan sinisnya terhadap sosok wanita yang sudah 3 tahun terakhir ini menjadi menantunya.
Hancur! Itulah yang dirasakan Cheryl saat mendengar cibiran dari sang mertua. Ia hanya diam tak berniat untuk membalas ucapan sosok mertuanya yang sangat menyakitkan. Sedangkan, Vano yang melihat dan mendengar perselisihan antara istri dan ibunya sudah merasa pusing tujuh keliling. Entah sampai kapan mereka akan akur, ia pun tak tahu. Pria itu hanya menghela napasnya kasar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa jengah.
__ADS_1
"Sudah Bu. Jangan diperbesar lagi. Ibu tahu sendiri, jika aku sangat mencintai istriku, dan aku tidak mungkin melakukan hal itu. Lagi pula, sekarang kami sudah pulang, tidak ada yang perlu di permasalahkan. Ibu belum menjawab pertanyaan ku, sejak kapan Ibu di sini?" tanya Vano yang mulai kesal.
"Tetap saja istrimu itu tidak tahu aturan dan sangat manja. Suami lagi kerja bukannya didukung saja, malah diikuti ke manapun kamu berada. Apa kamu nggak jengah dengan sikap istri mu yang sangat kekanak-kanakan itu. Kamu harus bisa mendidik istrimu dengan baik, jangan dibiasakan punya kebiasaan buruk ini, lama-lama kamu juga tidak akan betah. Harusnya istrimu menjaga diri dan mengobati tubuhnya yang belum bisa hamil. Ibu juga barusan datang ke sini. Ibu heran kenapa semua orang tidak ada. Ibu sih bisa mengerti jika kamu yang tidak ada di rumah, tapi ibu paling heran, kenapa istrimu juga menghilang dari rumah ini," cibir Bu Elin yang tak henti-hentinya memojokkan sang menantu.
Tangan Cheryl sudah mengepal di bawah sana. Ingin rasanya ia menjambak rambut wanita tua yang ada di hadapannya, tapi ia hanya bisa diam, sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap sang mertua. Tanpa ia sadari matanya sudah mulai memanas, karena lelehan bening sudah menggenang di pelupuk mata.
Tiba-tiba bahunya merasakan tepukan dari sang suami. Pria itu berusaha menenangkan dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Cheryl hanya diam tak mengindahkan semua sikap Vano saat ini, tanpa melakukan apapun, atau membantah ucapan sang mertua.
"Ibu, sudah jangan bahas ini lagi. Lagi pula aku yang mengajak istriku ke sana. Aku melakukan ini agar dia tidak kesepian di rumah. Sebaiknya jangan bahas masalah anak lagi, karena aku akan tetap menunggunya dari rahim istriku seorang," ucap Vano mencegah sang Ibu agar tidak mengatakan hal yang menyakiti hati istrinya lagi, meskipun tanpa ia sadari, ia juga sudah melukai hati Cheryl dengan perselingkuhannya bersama Rissa.
"Ya terus aja begitu, bela saja istrimu itu sampai kau benar-benar muak dengan sikapnya, dan ingat satu hal! Kau sudah tidak muda lagi, dan kau butuh penerus untuk mewarisi perusahaan kita!" bentak bu Elin tak terima jika putranya membela wanita lain dibandingkan dengan dirinya.
"Ibu, kami baru saja pulang dari luar kota. Aku dan istriku masih capek Bu, kami pamit ke kamar dulu. Apa Ibu mau menginap di sini? Jika memang iya, silakan Ibu juga beristirahat," ucap Vano pamit undur diri dengan lembut pada sang Ibu, agar tidak menyinggung perasaan wanita paruh baya tersebut.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1