
Selamat membaca ...
...****************...
Sudah satu Minggu yang lalu Rissa pulang dari rumah sakit, dan ia sudah mengalami beberapa hal dalam waktu singkat itu. Bahkan selama wakt itu pula Aidan terus berusaha melunakkan hatinya. Kini, Rissa tidak bisa menolak pernikahan yang Aidan inginkan, karena ia juga tidak ingin egois terhadap bayi yang ada dalam kandungannya tersebut.
Tiga hari yang lalu ia sudah bertemu dengan wanita yang telah jadi mantan istri dari Vano, Cheryl. Wanita cantik itu tampak pucat setelah hampir dua bulan lamanya tidak bertemu. Wanita itu sama dengan dirinya yang tengah hamil, tentu saja anak yang Cheryl kandung adalah anak Vano. Rissa sangat terkejut dengan kabar tersebut, karena sudah beberapa tahun ini Cheryl baru mendapatkan apa yang telah mereka nantikan. Meskipun anak itu hadir setelah adanya perceraian.
Rissa ingat ketika wanita itu meminta maaf atas masa lalunya bersama Vano yang telah bersekongkol untuk merebut segalanya dari Rissa. Keluarga, cinta dan harta, sudah habis bersama kepergian Vano beberapa tahun yang lalu, tapi ia sudah cukup puas setelah pembalasan yang ia lakukan pada pria brengsekk itu.
“Aku sudah menemui Vano di kantor polisi, dan memberitahukan kabar kehamilan ku padanya. Kami memutuskan untuk kembali bersama setelah dia keluar dari penjara.” ucapan Cheryl masih Rissa ingat dengan jelas hingga saat ini. Sama halnya dengan keputusan yang ia ambil, Cheryl pun memilih kembali demi anak mereka.
Hari ini ia akan bertemu dengan keluarga Aidan untuk pertama kalinya. Sebenarnya ia merasa gugup karena takut jika orang tua pria tampan nan gila itu tidak merestui hubungan mereka. Sekarang ia tengah menunggu Aidan yang sedang menjemputnya, hingga tak terasa jantungnya berdebar tak karuan.
Ting!
Suara bell berbunyi, hingga membuyarkan lamunannya dalam sekejap mata. Dengan langkah cepat ia segera membukakan pintunya.
“Morning Babbe,” sapa Aidan dengan sebah senyuman yang merekah dari bibirnya.
__ADS_1
“Hm, morning,” balas Rissa seraya membalas senyuman malu-malu yang membuat Aidan tidak tahan ingin menyentuhnya saat ini juga, tapi ia tahan karena akan mengunjungi orang tuanya.
“Apa kau menunggu terlalu lama? Maaf tadi ada sedikit kendala,” ucap Aidan merasa tak enak karena ia sedikit terlambat.
“Tidak masalah. Ayo, sebaiknya kita segera berangkat, takut orang tuamu menunggu lama,” ajak Rissa seraya menggandeng lengan kokoh milik calon suaminya tersebut.
***
Aidan menggandeng tangan Rissa setelah mereka sampai di halaman rumah mewah dan megah tersebut. Entah kenapa Rissa merasa ada sesuatu hal yang sangat buruk akan terjadi. Hatinya ragu untuk ikut masuk ke dalam rumah besar itu.
“Apa kau merasa gugup?” tanya Aidan saat merasakan tubuh Rissa sedikit bergetar dan langkahnya mulai melambat.
“Kau jangan khawatir, aku ada di sini. Tidak akan ada yang berani menyakitimu,” ucap Aidan berusaha menenangkan wanita yang ada di sampingnya.
Rissa mengangguk pelan tanda sebuah jawaban, meskipun hatinya masih ragu, tapi ia tetap berusaha untuk tenang. Mungkin ini hanya bawaan dari bayi yang ada dalam kandungannya. Tak ingin menunda waktu lebih lama lagi, akhirnya mereka berdua segera memasuki rumah mewah tersebut.
“Selamat datang Son,” sapa Tuan Daniel saat melihat sang putra sudah datang dengan membawa calon istrinya.
“Selamat pagi Om, Tante,” sapa Rissa dengan lembut.
__ADS_1
“Selamat pagi, nak. Ayo kita sarapan bersama, kami sudah menyiapkannya,” ucap Dina tersenyum lembut tatkala melihat wanita yang ada di hadapannya. Sekarang ia sudah percaya pada sang putra, yang tak akan berbohong unt6k menikah.
Aidan tersenyum senang saat melihat kedua orang tuanya yang menerima Rissa dengan ramah, saat mereka datang. Aidan segera menggandeng tangan Rissa menuju meja makan. Sedangkan Rissa, wanita itu hanya diam tak berkutik karena harus menjaga image nya sebagai calon menantu.
Meja makan begitu hening, dan hanya terdengar suara sendok yang berdenting merdu dengan piring masing-masing, hingga tak terasa sarapan mereka telah dilalui begitu cepat.
“Son, ayo ikut papa ke ruang kerja sebentar,” kata tyan Daniel dengan nada perintah. Aidan menoleh lalu menganggukkan kepalnya pelan.
“Sayang, aku tinggal sebentar. Ma, jagakan istriku,” ucap Aidan tanpa rasa malu sedikit pun, hingga membuat Rissa membulatkan matanya jengah. Dina hanya mengangguk sebagai tanda sebuah jawaban.
Dina menarik napasnya panjang sebelum akhirnya menatap Rissa dengan tatapan yang tak dapat diartikan. “Anak siapa yang kau kandung?” tanya Dina dengan tiba-tiba, karena ia sudah mengetahui tentang kehamilan wanita yang akan dinikahi oleh putranya. Ya! Aidan menggunakan kehamilan Rissa agar mama Dina merestui hubungan mereka.
Deg!
Jantung Rissa seolah berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan yang keluar dari sosok wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Rissa terdiam sesaat karena berusaha mengontrol emosinya, sebelum akhirnya ia tersenyum smirk.
‘Cih! ternyata ini sifat asli ibumu Aidan. Aku tidak menyangka ada seorang ibu yang meragukan putranya sendiri. Bahkan meragukan cucunya juga,’ gerutu Rissa tak terima jika anaknya diragukan oleh nenek dari anak yang ada dalam kandungannya.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya