
Selamat membaca ...
...****************...
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan waktu pukul tujuh malam. Di mana waktu sesuai dengan agenda yang telah Aidan tetapkan, yaitu acara makan malam. Entah apa yang ingin pria itu lakukan, dan apa yang pria itu rencanakan. Sungguh! Rissa tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Baru satu tahun kenal dengan seorang pria gila dan arogan, sudah mampu merubah segala rencana yang sudah ia rangkai sedemikian rupa. Kini, Rissa hanya perlu mempertahankan apa yang sudah ia rencanakan untuk masa yang akan datang. Ia tahu, jika saat ini kehidupannya akan sedikit lebih sulit setelah kedatangan sosok Aidan dalam hidupnya.
Kini, Rissa pun sudah siap untuk berangkat ke acara makan malam yang sudah Aidan siapkan. Bukan hanya Aidan yang bersiap untuk acara malam ini. Namun, Rissa pun sedang menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Vano dan Cheryl di acara tersebut.
Rissa harus menyiapkan segara jawaban untuk pertanyaan yang kemungkinan besar dilontarkan oleh Vano pada dirinya. Wanita itu merasa gugup, karena malam ini ia akan berangkat bersama pria gila, yang sudah menjebaknya dalam permainan konyol. Bukan hanya itu, kini Rissa sudah memakai gaun dengan warna hitam yang senada dengan setelan jas milik Aidan.
Ia tidak takut jika hanya terlihat bersama pria lain di hadapan Vano, tapi ia hanya takut jika rencananya akan hancur karena hal ini. Ia tidak bisa melepaskan Vano begitu saja. Tidak! Vano memang sudah harus menjadi miliknya.
Ia sangat yakin, jika Vano sangat mencintai dirinya, dan tidak akan pernah meninggalkannya hanya karena hal ini. Rissa terus berkelut dalam pikirannya sendiri, hingga tanpa ia sadari, ada seorang pria yang sudah datang menghampirinya.
“Apa kau akan terus melamun seperti itu? kekasih ku tidak boleh memikirkan pria lain selain aku!” terdengar suara bariton yang sedang bertanya tak jauh di hadapan wanita itu. Rissa tersentak kaget hingga membuyarkan lamunannya, saat mendengar pertanyaan tersebut.
“Kau! Sejak kapan kau ada di sini?!” bukannya menjawab, Rissa malah balik bertanya dengan raut wajah kesal, sambil melayangkan tatapan penuh selidik ke arah pria tersebut.
“Sejak kau mulai melamun tidak jelas. Memang apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Aidan yang mash penasaran dengan apa yang Rissa pikirkan sejak tadi.
“Ini bukan urusan mu. Sebaiknya kita segera berangkat sebelum terlambat,” jawab Rissa dengan kesal dan berjalan melewati Aidan yang masih berdiam diri di tempatnya.
__ADS_1
Pria itu pun mengikuti langkah kaki Rissa yang sudah pergi mendahuluinya. Aidan memang memesan tempat yang lumayan jauh dari hotel tersebut. Meskipun hotel yang mereka tempati juga bisa digunakan untuk acara makan malam ini, tapi Aidan sengaja memesan Restoran lain untuk acaranya, agar bisa berduaan lebih lama bersama Rissa.
***
Kini, Rissa maupun Aidan sudah masuk ke dalam mobil mewah milik pria tersebut. Hanya ada keheningan yang ada di dalam sana. Rissa yang sudah gugup pun semakin tidak ingin membuka suaranya.
“Kenapa kau merasa gugup? apa karena mau bertemu dengan Vano, atau karena takut pada Cheryl?” tanya Aidan dengan sarkas, sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
“Apa kau begitu ingin tahu terhadap hidup dan hubungan ku?” tanya Rissa datar sambil memutar bola matanya malas.
“Sekarang kau adalah menjadi milikku, pantas saja jika aku tahu sedikit tentang hubungan mu dengan orang lain,” jawab Aidan tak kalah datar, dan menutup percakapan di antara mereka hingga kembali hening.
Sekertaris Ren, yang sedang menyetir pun tak kunjung membuka suaranya. Pria itu tak kalah kaku dan datar. Tak heran jika Aidan bisa sedingin kutub, karena pria itu juga bergaul dengan orang yang tidak suka membuka mulutnya.
Rissa membulatkan matanya sempurna, saat tahu pesan itu dari kekasihnya, Vano. Wanita itu pun segera membuka pesan tersebut.
[Sayang, malam ini aku ada acara makan malam bersama tuan Aidan. Jadi, aku tidak bisa menemani mu]. Vano.
Ingin rasanya Rissa membalas pesan dari Vano, kekasihnya. Namun, ia tidak bisa, karena mata Aidan terus meneliti ke arah ponsel yang ada di dalam genggamannya.
Rissa hanya membaca pesan terakhir dari Vano pun tidak membalas pesan tersebut. Ternyata Cheryl tidak memberitahu tentang kejadian siang tadi saat bersamanya. Apa maksud dari wanita itu. Kenapa dia malah merahasiakan semuanya dari Vano. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan juga. Rissa sangat yakin, jika Cheryl ingin mempermainkan dirinya juga.
‘Siall!’ Gerutu Rissa dalam hati.
__ADS_1
“Apa ada masalah?” tanya Aidan yang merasa sangat heran saat melihat raut wajah cantik Rissa yang tiba-tiba berubah menjadi lebih masam.
“Tidak ada,” jawab Rissa dengan singkat dan datar. Wanita itu segera menetralkan kembali raut wajahnya.
“Aku sudah bilang, jangan begitu tegang menghadapi acara makan malam kita. Cukup nikmati saja,” ucap Aidan dengan santai dan menampilkan wajah tanpa dosa.
“Apa kau sengaja menyusun rencana ini untuk menggagalkan rencana ku?” tanya Rissa dengan nada yang dingin, tanpa menoleh ke arah sumber suara tersebut. Kemudian Rissa memasang wajah murung sambil memalingkannya ke arah luar jendela.
“Aku hanya tidak ingin kau menjadi wanita yang di cap rendahan, karena status mu menjadi sorang simpanan pria lain,” jawab Aidan dengan mode serius.
“Apa kita sudah akrab, hingga kau bersusah payah untuk mengurus ku?” tanya Rissa yang sudah muak dengan pria yang ada di sampingnya tersebut.
“Belum, tapi sebentar lagi kita akan lebih akrab,” jawab Aidan dengan santai.
“Aku rasa, kau adalah pria gila dan juga sangat bodoh. Aku tahu kau adalah pengusaha sukses, tapi kenapa kau malah mengurusi wanita seperti ku. Apa ini adalah pekerjaan kedua mu setelah bisnis di perusahaan. Aku cukup tertarik atas belas kasihan mu. Sayangnya, aku sama sekali tidak butuh rasa kasihan dari orang lain,” ucap Rissa sarkas tanpa menoleh ke arah Aidan.
Namun, pria yang ada di samping langsung menoleh ke arah sumber suara, karena pria itu merasa jika Rissa sudah sangat keterlaluan.
“Bos, kita sudah sampai!” seru sekertaris Ren yang sudah menghentikan laju mobilnya tepat di depan Restoran yang dituju. Lagi dan lagi, pria yang tak kalah datar dan kaku itu selalu menyela pembahasan saat moment tertentu saja.
“Hmm, Ren. Bergabunglah setelah kau selesai memarkirkan mobil,” ucap Aidan yang berupa ajakan tersebut, dan langsung di patuhi oleh sang sekertaris.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya