Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Kekhawatiran Vano


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Aidan yang melihat hal itu, entah kenapa merasa kecewa, karena wanita yang ia kenalkan sebagai kekasihnya, kini sedang pergi bersama seorang pria lain, yang tak bukan adalah Vano. Balkon yang terasa sejuk kini berubah menjadi panas, seolah udaranya mulai menipis.


Tidak! ia tidak akan pernah melepaskan Rissa apapun alasannya, karena ia yakin jika dia akan mendapatkan Rissa seutuhnya. Tak peduli pandangan orang lain terhadap wanita itu, ia tetap harus mendapatkan wanita tersebut. Entah itu hanya karena obsesi dirinya, ataupun hanya permainan semata, Aidan akan tetap berjuang demi Rissa di sisinya.


Aidan sadar mengapa Vano bisa bertemu dengan Rissa saat ini, karena Cheryl, istrinya sedang ke kamar mandi untuk membersihkan gaun yang terkena siraman sup. Ingin rasanya Aidan menghampiri dua orang tersebut, tetapi ia ingin melihat sejauh mana dua orang itu berinteraksi.


Pria itu menyimpan ponselnya, lalu mulai menikmati minuman mengandung alkohol yang ada dihadapannya. Namun, sesaat setelah itu, ia melihat Rissa dan Vano pergi ke arah tempat yang lumayan jauh dari jarak meja makan tersebut. Aidan semakin bingung, karena mereka sudah menghilang di balik tembok. Entah apa yang mereka katakan dan lakukan, Aidan cukup penasaran dengan hal itu.


Sebenarnya Aidan ingin menghampiri mereka, tapi ia kembali berpikir, bagaimana jika Rissa marah kalau tahu dirinya sedang menguntit. Pria itu menenangkan pikirannya, dan menghela napasnya panjang. Ia berusaha menahan segala gejolak amarah yang ada pada dalam dirinya sendiri. Aneh memang, jika ia tiba-tiba menjadi posesif pada seorang wanita yang baru saja ia klaim sebagai kekasihnya tersebut.


***


Di sisi lain, Rissa maupun Vano sudah pindah ke tempat yang lebih jauh dari jarak meja makan, ke sebuah penghalang, yaitu tembok yang ada di sekitar sana. Benar adanya, jika Rissa dan Vano pergi bersama sambil saling memeluk satu sama lain.


"Sayang, sekarang Apa yang harus kita lakukan?" tanya Vano dengan gugup, dan merasa sangat khawatir dengan keadaan saat ini. Pria itu tampak panik dengan situasi yang mendesak seperti sekarang.

__ADS_1


"Apa kau merasa takut? Kenapa memangnya jika istrimu tahu?" bukannya menjawab, kini Rissa malah balik bertanya pada pria itu. Vano semakin gelagapan karena gugup saat mendengar pertanyaan dari wanita . Entah apa yang harus ia katakan, sungguh ia tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Aku tidak takut. Aku hanya cemburu melihatmu bersama pria lain tepat di hadapanku. Yang lebih menyakitkan adalah, aku tidak bisa berbuat apapun saat kau bermesraan dengan pria lain itu. Di satu sisi, aku tahu dia pria berkuasa. Sedangkan, di sisi lain, istriku selalu memperhatikan kita. Aku hanya takut Aidan akan merebut mu dengan kekuasaannya saat ini, dan aku juga takut Cheryl akan menyakitimu, jika ia tahu kau adalah kekasih gelap ku. sayang, Aku sangat mencintaimu! sangat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku harus kehilangan kamu," ucap Vano sambil menggenggam tangan Rissa, dan menciuminya beberapa kali.


Rissa menghembuskan napasnya kasar lalu menatap pria yang ada di hadapannya tersebut. Apa pria ini begitu bodoh? Begitu piker Rissa. Sesaat setelah itu, akhirnya Rissa tersenyum sambil menatap Vano dengan tatapan lembutnya. Untuk saat ini, ia harus menenangkan Vano terlebih dahulu, agar tidak mengacaukan segala rencananya. Ia tahu, saat ini istrinya sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar, sehingga tidak membocorkan masalah yang tadi siang kepada suaminya.


"Entahlah, aku pun tidak tahu harus melakukan apa. Apa kau tahu, jika malam ini aku akan bersamanya?" tanya Rissa dengan penuh selidik.


"Van, kau jangan khawatir! Selama kau percaya padaku, aku akan tetap bersama mu. Bahkan, istrimu, tidak akan mampu memisahkan kita! apa kau mengerti. Aku harap kau percaya padaku, karena hanya kamu satu-satunya pria yang sangat aku cintai. Aku melakukan ini karena ada satu alasan yang tidak bisa aku katakan Padamu," sambung Rissa, dengan tatapan yang penuh kelembutan untuk meyakinkan Vano agar tidak curiga terhadap dirinya.


"Benar, dia mengancamku untuk mengatakannya kepada istriku, agar bisa memiliki mu. Entah sejak kapan dia tahu jika kita punya hubungan. Apa dia melakukan hal yang sama padamu?" tanya Vano penuh selidik, dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Wanita itu menghela napasnya kasar, saat mendengar jawaban dari Vano. Ternyata benar, Aidan bukan hanya mengancam dirinya, tetapi juga mengancam Vano, kekasihnya. Wanita itu mengambil kedua tangan Vano, dan menciumnya dengan lembut. Ia harus menenangkan pria itu terlebih dahulu, meskipun ia juga tidak mengerti dengan maksud Aidan yang mengancam dirinya dan juga Vano.


"Benar, Aidan memang mengancam ku seperti itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain mengikuti kemauannya. Apa kau mau bersabar untuk hal ini?" tanya Rissa penuh dengan penuh harap pada Vano.


"Kali ini kita harus bersabar. Kita harus mengikuti arus dari kisah kita Van, agar bisa bersama di kemudian hari. Baiklah, aku berjanji akan selalu bersama mu, karena hanya kamulah satu-satunya pria yang aku cintai. Apa kau tahu, aku juga sangat mencintai mu lebih dari apapun. Tak peduli seberapa buruknya aku di mata orang lain, asalkan aku bisa bersama mu," sambungnya lagi dengan raut wajah yang memelas, hingga membuat Vano tidak tega untuk melakukan sandiwara ini. Ia merasa sangat tidak becus menjadi seorang pria, saat melihat wanita yang ia cintai menderita.


‘Van, aku juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Aku mungkin saja sedikit tahu tentang rencana istrimu. Namun, aku tidak mengerti dengan rencana Aidan yang menjeratku saat ini. Apakah pria itu benar-benar menginginkan ku, ataupun hanya ingin bermain-main saja. Entahlah, aku pun merasa bingung dengan hal ini. Aku hanya takut pria itu benar-benar mencintai ku. Jika itu terjadi, maka dia akan menghancurkan segalanya, termasuk rencana dalam hidupku,' batin Rissa yang terus bertanya-tanya dalam benaknya, atas apa yang terjadi dengan Aidan yang terus menjeratnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku percaya padamu, sayang. Aku sudah sedikit tenang saat mendengar kalimat cinta darimu, karena hal itu adalah salah satu ketakutan ku dalam hidup ini, jika aku kehilangan kamu, orang yang sangat aku cintai. Sebaiknya kita segera kembali sebelum istriku mencari dan menemukan kita di sini," usul Vano pada Rissa, sebelum istrinya tahu keberadaan mereka saat ini.


"Kau benar, kita harus segera kembali sebelum mereka mencari kita," ucap Rissa yang menyetujui ucapan sang kekasih gelapnya.


Setelah itu mereka pun kembali ke tempat meja makan, untuk menutupi kecurigaan orang-orang yang bersama mereka saat ini, yaitu Aidan dan Cheryl. Sekarang, Vano maupun Rissa, sudah ada di meja makan.


"Mas, Kamu dari mana saja? Aku sejak tadi mencari mu," tanya seorang wanita, yang tak lain adalah Cheryl, yang memang sejak tadi sudah ada di meja makan, tapi tidak menemukan keberadaan suaminya. Vano yang mendengar hal itu, langsung gelagapan karena gugup dengan pertanyaan istrinya.


‘Hufft ... hampir saja. Untung aku segera kembali sebelum Cheryl mencari dan menemukan kami,’ batin Vano yang merasa beruntung kali ini.


"Aku baru saja dari toilet tadi. Aku menunggu mu sangat lama, jadi aku juga pergi ke sana, sekalian mau mengecek mu. Ternyata pas aku keluar, kau sudah tidak ada, sayang," jawab Vano dengan sangat percaya diri, sambil tersenyum lembut untuk meyakinkan sang istri.


"Emm ... benarkah, maaf tadi aku sedikit kesulitan membersihkan gaunku," ucap sang istri merasa bersalah kali ini.


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu sayang. Lagi pula, aku juga ingin ke kamar mandi saat itu," ucap Vano dengan lembut, agar sang istri tidak merasa bersalah dan memasang wajah murungnya lagi. Sedangkan Rissa, wanita itu hanya cuek saja saat bertemu dengan kekasih palsunya, karena memang tidak ada yang perlu dijelaskan pada pria kaku tersebut. Hubungan mereka sangatlah tidak mudah. Tidak ada rasa cinta ataupun rasa sayang lainnya, karena memang dari awal ini hanyalah sebuah permainan yang dimainkan oleh Aidan dengan segala rencana busuknya.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2