Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Bercumbu


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Di sebuah Apartement. Seorang pria tengah bermanja dengan wanita yang sudah satu tahun terakhir ini menjadi kekasihnya. Ya! kini Vano benar-benar telah mengkhianati istrinya, Cheryl. Dan, pria tampan itu tengah meluapkan rasa cintanya untuk wanita yang baru saja ia temui satu tahun lalu.


“Sayang, apa besok kau tidak akan ke apartemen ku lagi?” tanya sosok wanita cantik dengan nada yang sangat manja, sambil mengelus dada bidang milik pria tersebut.


“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu seorang diri di Apartement ini. Lagipula, aku sudah bilang pada istriku, jika ada rapat penting dengan Klien. Jadi, kau tidak perlu khawatir jika aku tidak akan datang,” jawab sosok pria tampan itu sambil mengelus puncak kepala milik Rissa.


“Apa istri mu tidak curiga pada hubungan kita?” tanya Rissa sambil menampilkan raut wajah penuh kecemasan. Wanita itu terlihat sangat lugu tapi tegas di mata Vano.


“Untuk sejauh ini dia tidak curiga sama sekali. Kau tidak perlu merasa cemas. Untuk masalah Cheryl, biar aku yang menanganinya,” jawab Vano dengan sangat yakin.


“Baiklah, aku percaya padamu, tapi kenapa kau masih betah bersama ku. Sedangkan, aku tidak dapat melayani mu?” tanya Rissa karena sangat penasaran.


“Tak peduli kau melayani aku atau tidak, asalkan aku bisa bersama mu. Aku sangat mencintai mu. Apa aku boleh bercummbu dengan mu?” tanya Vano penuh harap, dengan bibir yang sudah menelusuri leher jenjang dan mulus milik wanita cantik itu. Hingga membuat bulu kuduk Rissa mulai meremang.


“Ahhh ... hentikan,” dessah Rissa yang tak dapat menahan sesuatu yang tak dapat ia artikan.


“Apa kau tidak ingin memadu kasih dengan ku malam ini?” tanya Vano sambil mengerutkan keningnya. Pria itu masih berharap jika Rissa mau menerima ajakannya, meskipun ia sangat yakin jika akan dapat penolakan lagi.


“Apa kau tahu? Aku sangat ingin melalui malam indah bersama mu, tapi itu akan terjadi saat kau sudah menjadi milikku seutuhnya. Kau juga tahu, sekarang aku sudah mencintai mu. Mana mungkin aku tidak menginginkan hal itu,” ungkap Rissa dengan lirih, sambil menampilkan raut wajah memelas.


Ia tahu, Vano tidak akan memaksa atau pun menolak setiap keinginannya. Ia tahu, jika pria itu sangat mencintai dirinya, dan akan ia buat semakin tergila-gila padanya. Rissa mulai menggelayut manja di leher Vano.

__ADS_1


Secara tiba-tiba wanita itu langsung menyambar dan melummat habis bibir dari sosok pria yang ada di pelukannya dengan sangat rakus dan penuh gairrah. Vano yang mendapat ciuman panas dari Rissa, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, karena ia tahu, jika Rissa jarang melakukan hal itu.


Kecapan demi kecapan dari kedua bibir yang saling mengecap dan menyesap satu sama lain itu hingga mengeluarkan suara indah di kamar tersebut. Rissa semakin mengeratkan pelukannya hingga dua bukit himalayanya menyatu dengan tebing kokoh milik Vano.


Vano yang merasa dua bukit himalaya milik Rissa menempel di dada bidangnya langsung melancarkan aksinya untuk menjelajah di bukit tersebut. Vano begitu senang, karena ia sudah bisa menjelajah di bukit milik Rissa tanpa ada gangguan. Biasanya, wanita itu tidak ingin di sentuh apapun saat bersamanya.


“Do you want more, babbe?” tanya Vano berbisik dengan nada sensual dan tatapan yang sudah di penuhi kabut gairrah.


“No! Tidak untuk sekarang. Maaf, aku belum bisa melayani kamu,” ucap Rissa dengan raut wajah tak enak hati. Vano mengerti dengan hal itu, dan ia tidak mempermasalahkannya.


Penolakan dari Rissa bukan masalah besar baginya, karena ia masih bisa melampiaskan gairah terpendam itu pada istrinya, Cheryl. Sedikit demi sedikit, Vano mulai melonggarkan pelukannya pada Rissa. Ia harus segera pulang dan menuntaskan segala hasratnya yang dipicu oleh Rissa.


Vano berhubungan dengan Rissa bukan karena kekurangan masalah biologisnya, tapi karena Rissa adalah sosok wanita yang sangat menarik di matanya. Vano semakin penasaran dengan wanita cantik itu. Bahkan, sudah satu tahun lamanya, Rissa tak kunjung luluh dengan rayuannya.


“Sayang, aku harus pulang sekarang.” Vano bangkit dari duduknya sambil merapikan kemeja dan mengambil jas kerjanya.


“Kenapa terburu-buru. Apa kau sedang kesal padaku? Aku sudah mengatakannya. Aku tidak ingin naik ke atas ranjang panas mu, sebelum kau menikahi aku dan menceraikan Cheryl,” ucap Rissa dengan tegas.


“Aku sudah bilang, jika aku tidak mempermasalahkan hal itu, tapi kamu yang nakal dan memancing ku. Aku mencintai mu,” ucap Vano yang terlihat sangat buru-buru.


“Apa kau mau menuntaskannya bersama istrimu? Apa kau sangat mencintai wanita itu?” tanya Rissa secara bertubi-tubi dengan segala pertanyaannya. Vano hanya bisa menghela napasnya kasar saat mendapatkan banyak pertanyaan dari wanita cantik itu.


“Lalu aku harus bagaimana. Kau jangan khawatir, aku hanya mencintai mu,” ucap Vano yang terus berusaha meyakinkan Rissa agar tetap tenang.


“Baiklah, aku akan percaya. Berhati-hatilah!” Rissa tersenyum dingin saat menghadapi situasi saat ini.

__ADS_1


Vano segera melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk keluar dari Apartemen milik Rissa. Sedangkan, wanita itu hanya diam tak acuh kemudian menarik selimutnya dengan membawa rasa kesal di hatinya untuk pria yang baru saja pergi dari apartemennya.


***


Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Vano sudah sampai di rumahnya. Tak ingin membuang banyak waktu, akhrinya pria itu melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut. Keadaan rumah sudah sepi, karena malam sudah semakin larut.


Netranya melihat segala penjuru rumah yang sudah gelap. Ia yakin jika istrinya sudah tidur di kamar mereka. Dengan langkah kaki yang cepat, Vano menaiki satu persatu anak tangga untuk naik ke kamarnya bersama Cheryl yang ada di lantai atas.


Vano membuka pintu kamarnya dengan perlahan, agar tidak mengganggu sang istri. Terlihat seorang wanita cantik yang sudah meringkuk di atas ranjang berukuran besar miliknya. Vano melangkahkan kakinya menuju sang istri berada.


“Emm ... sayang. Kau sudah pulang?” tanya seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya, karena sedikit terusik dengan suara serak khas bangun tidur.


“Em, iya sayang. Maaf aku mengganggu waktu tidur mu,” jawab Vano tak enak hati. Pria itu kemudian mengelus puncak kepala sang istri dengan sangat lembut, sebelum ia berbisik pada wanita itu.


“Aku sangat merindukan mu,” bisik Vano tepat di telinga sang istri, dengan nada yang sensual. Yang mana hal itu membuat Rissa tersenyum lembut ke arahnya.


“Apa kau tidak lelah?” tanya Cheryl sambil mengelus pipi suaminya. Vano pun tersenyum dan mengecup kening Cheryl dengan lembut.


“Aku belum lelah,” jawab Vano dengan yakin.


“Apa klien mu puas dengan kerja sama yang perusahaan kita?” tanya Cheryl lagi, membuat Vano merasa napasnya mulai tercekat dengan segala pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya.


“Kau terlalu banyak bertanya, sayang. Malam ini aku akan melahap mu hingga kau tidak bisa berjalan besok pagi,” ucap Vano yang segera melummat habis bibir seksi milik istrinya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...


__ADS_2