Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Hinaan Aidan


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Rissa yang mendengar ucapan Aidan yang begitu sarkas, hingga membuatnya tak tahu harus menjawab apa pada pria arogan tersebut. Wanita itu diam beberapa saat dan melirik sekilas ke arah Vano yang ada di sampingnya. Pria itu tak kalah takutnya seperti yang ia rasakan.


“Vano, sebaiknya kau kembali lebih dulu saja. Sekarang sudah saatnya makan malam. Aku yakin dia sudah bangun dan sedang mencari keberadaan mu. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini,” pinta Rissa dengan nada mengusir, agar Vano mau pergi meninggalkan mereka berdua.


“Sayang, apa yang kau katakan. Sebaiknya kau ikut aku. Kita akan makan malam,” ucap Vano menolak titah Rissa. Vano tidak melihat raut wajah Aidan yang sudah benar-benar berubah menjadi suram, karena mendengar kata SAYANG dari mulut Vano. Sedangkan Rissa, wanita itu sudah semakin takut dibuatnya.


“Apa kau ingin membawa kekasih gelap mu dan mengenalkannya pada istrimu? Kau mau mengenalkan dia sebagai apa?” tanya sosok pria tersebut dengan nada mengejek, hingga membuat Vano geram dan menggertakkan giginya. Rissa yang mendengar ucapan Aidan yang begitu pedas, hanya bisa menghela napasnya panjang.


‘Jika saja kau bukan orang berkuasa di Negara ini. Akan aku pastikan mayat mu tidak akan pernah ditemukan,’ batin Vano geram, karena ia tidak suka jika urusannya dicampuri oleh orang lain. Apalagi Aidan malah mempermasalahkan Rissa, seolah wanita itu adalah istrinya.


“Tuan, jangan mentang-mentang anda adalah orang yang paling berkuasa di Negara ini, jadi anda bisa mencampuri urusan orang lain. Tolong jangan sulitkan Rissa hanya karena masalah sepele seperti ini,” pinta Vano dengan tegas sambil menatap pria tesebut dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


“Aku mengerti. Aku tahu tanpa harus kau ingatkan. Apa kau berpikir, kau adalah orang penting bagiku? Sepertinya kau terlalu menganggap dirimu tinggi. Sebaiknya kau harus segera menyiapkan alasan untuk istrimu itu jika dia tahu, apa yang kau lakukan di belakangnya. Atau kau juga harus segera menentukan pilihan mu seceoat mungkin,” ucap Aidan sambil tersenyum smirk, dan menampilkan raut wajah penuh kemenangan.


Saat ini Vano hanya bisa diam menahan amarahnya di hadapan Aidan, dan juga di hadapan Rissa . Ia tidak ingin membuat masalah besar dengan orang berkuasa. Meskipun tangannya sudah gatal ingin memukul orang yang ada di hadapannya, tapi ia harus bisa menahan hal itu, agar hidupnya tidak hancur.

__ADS_1


“Van, pergilah! Aku akan makan di kamar ku saja. Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Tuan Aidan adalah Bos ku di kantor, jadi dia tidak mungkin menyakiti ku. Pergilah! Aku mohon,” pinta Rissa berusaha mengusir Vano secara halus. Berharap pria itu mau menuruti perintahnya, agar tidak ada masalah yang jauh lebih besar lagi di kemudian hari.


“Tapi kau juga harus segera kembali dan jangan telat untuk makan malam, oke. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar,” ucap Vano mengingatkan Rissa dengan sangat lembut.


“Kau tenang saja, aku pasti akan segera kembali,” tukas Rissa sambil tersenyum untuk meyakinkan kekasihnya.


“Tuan, mohon maaf atas ketidak nyamanan malam hari ini. Saya harap, tuan bisa melupakan kejadian hari ini. Saya pamit undur diri,” ucap Vano dengan tegas, dan segera bergegas pergi dari sana, untuk kembali ke kamar menemui istrinya. Tak lupa juga pria itu harus menyiapkan alasan untuk Cheryl, jika wanita itu sudah terbangun dari tidurnya.


***


Setelah kepergian Vano, akhirnya Rissa hanya berduaan dengan sosok pria arogan tersebut, tanpa satu patah kata pun diantara mereka. Pria tampan dan arogan itu akhirnya duduk di samping Rissa dengan sangat santai, tanpa memperhatikan raut wajah wanita cantik yang sudah ditekuk karena kesal.


“Aku hanya ingin kau menjadi milikku dan bukan milik pria brengsekk itu. Apa kau begitu senang bisa menjadi wanita simpanan,” jawab Aidan sarkas, sambil menyunggingkan seulas senyum yang mengejek.


“Kau jangan terlalu banyak bermimpi, karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau menjadi milik mu. Seberapa kuat pun dirimu berusaha memisahkan aku dengan Vano. Itu hanya akan sia-sia dan membuang banyak waktu mu,” ucap Rissa yang tak kalah tajamnya.


“Kau terlalu meremehkan aku, sayang. Apa kau tidak melihat dia yang sudah ketakutan tadi? Bahkan, aku saja belum melakukan apapun. Sekuat apapun kau menolak, pada akhirnya kau akan tetap menjadi milikku,” ucap Aidan dengan nada arogan.


“Aku tahu jawaban mu akan seperti ini, karena aku tahu kau adalah pria paling gila yang pernah aku kenal. Apa kau keluar hotel hanya ingin mengusikku seperti ini?” tanya Rissa dengan penuh selidik.

__ADS_1


“Tentu saja tidak, tapi tidak ku sangka kau sudah ada di sini bersama pria brengsekk itu. Jika saja aku telat datang, dan membiarkan kalian melakukan hal menjijikkan seperti tadi. Maka, akan aku pastikan kau dan dia akan lebih memilih mati daripada hidup dalam penderitaan,” ucap Aidan dengan nada mengancam, tepat di telinga Rissa. Bahkan, pria itu sudah memeluk Rissa dengan sangat posesif.


‘Aidan, sesakit apapun penderitaan yang akan kau berikan. Itu tidak akan jauh lebih sakit dengan apa yang aku rasakan selama ini. Biarlah aku buruk di matamu, dan juga di mata orang lain. Ini adalah resiko dari jalan yang aku pilih,’ batin Rissa sambil menatap Aidan dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


“Benarkah? Aku rasa itu bukan masalah besar bagiku. Setiap manusia pasti punya rencana dan juga jalan yang mereka pilih. Tentu saja ada resiko yang harus diambil. Bahkan, harga diri pun bisa jadi taruhannya. Lepaskan aku sekarang juga!,” ucap Rissa dengan datar sambil berusaha melepaskan dekapan Aidan yang sangat kuat.


“Berapa harga dirimu?” tanya Aidan tanpa basa- basi, hingga membuat Rissa terdiam kaku dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria tersebut.


“Hah!” Rissa terkejut sambil membulatkan matanya sempurna, ke arah Aidan. Ternyata pria itu memang tidak punya perasaan. Seketika Rissa terdiam lalu kembali menetralkan pikirannya.


“Apa maksud mu?” tanya Rissa kini menatap Aidan dengan serius dan melayangkan tatapan penuh selidik.


“Berapa harga yang kau minta dalam satu malam?” bukannya menjawab. Pria itu malah bertanya balik, dengan sebuah pertanyaan yang melukai harga diri wanita cantik, yang ada di pelukannya.


“Cukup! Jaga ucapan mu! Apa kau benar-benar berpikir jika aku adalah wanita gampang dan murahan?! Kau bahkan jauh lebih buruk dariku! Kau hanya bisa menilai seseorang tanpa tahu keadaan yang sebenarnya! Kau sangat menjijikkan!” bentak Rissa sambil mendesis tak suka. Bahkan, tanpa rasa takut sedikit pun, wanita itu menatap Aidan dengan sangat tajam. Sorot matanya yang tajam, dan sudah dipenuhi oleh kabut amarah, seolah ingin melahap pria yang ada di hadapannya hidup- hidup.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...

__ADS_1


__ADS_2