
Selamat membaca ...
...****************...
Pagi hari ini adalah hari keberangkatan sang suami untuk dinas keluar kota selama kurang lebih satu minggu lamanya. Cheryl pun sudah mengizinkan suaminya, saat tahu sang suami berangkat dengan Manajer Nan, karena Sekretaris Dina tidak bisa ikut untuk bepergian jauh. Ya! wanita itu baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Vano tidak mengganti Sekretaris, karena tahu, kemampuan Dina sangat luar biasa.
Vano terlihat sangat sibuk, saat sedang merapikan kemeja berwarna maroon yang sedang ia kenakan saat ini. Pria itu terlihat sangat segar dan ekspresi wajahnya yang cerah. Ia terlihat sangat tampan dan mempesona. Karisma yang ada dalam dirinya, mampu menyihir para wanita hanya dengan satu lirikan matanya.
Sedangkan, Cheryl tengah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan, sekaligus bekal untuk suaminya. Agar pria itu bisa langsung makan saat lapar tiba. Cheryl menyiapkan segalanya dengan sangat lincah. Hingga perlengkapan suaminya sudah ia kemasi dengan baik tanpa kekurangan satu pun.
Wanita itu masih tahu kewajibannya sebagai seorang istri yang berbakti dan patuh pada suaminya. Meskipun rasa sakit dalam hatinya begitu besar, akibat luka menganga begitu dalam yang ditorehkan oleh Vano.
“Mas, apa kau sedang bersiap?” tanya Cheryl saat ia mengecek suaminya ke dalam kamar mereka. Terlihat di depan cermin, seorang pria tampan sedang menyempurnakan penampilannya dengan sehelai dasi di kemeja yang pria itu kenakan.
“Sebentar lagi sayang. Apa kau sudah selesai menyiapkan keperluan ku?” tanya Vano tanpa menoleh ke arah istrinya tersebut. Sakit! Itulah yang dirasakan oleh Cheryl. Wanita itu menghela napasnya panjang, sebelum akhirnya melangkahkan kaki untuk mendekati Vano.
“Mas, sini aku bantu, agar lebih cepat.” Wanita itu mengambil alih dasi yang sedang dipasang Vano, untuk membantu memasangkannya.
Ada rasa sesak yang menyeruak dalam hatinya, saat melihat sikap manis Vano saat ini, dan mengingat kebohongan pria itu pada dirinya. Tetapi, ia tidak ingin terlihat lemah oleh siapa pun, termasuk suaminya, Vano.
“Mas, memangnya proyek mana yang sedang kamu kerjakan, sampai pergi keluar Kota?” tanya Cheryl yang masih penasaran, sambil menatap suaminya dengan penuh selidik.
“Proyek ini sangat penting, sayang. Kita punya banyak proyek yang harus kita selesaikan secepat mungkin, dan ini adalah proyek kerja sama dengan ADS Company. Kau juga tahu, pemimpinnya tidak punya toleran sama sekali. Jika kita bersantai mengerjakannya, maka nasib perusahaan kita yang akan hancur. Kenapa kau masih bertanya hal ini lagi? Apa kau sudah tidak percaya padaku, hemm?” tanya Vano sambil mengangkat dagu milik sang istri, agar wanita itu mendongak dan melihat ke arahnya.
__ADS_1
‘Percaya padamu? Cih! jangan mimpi! Dulu aku sangat percaya pada mu Mas, tapi kenapa kau malah menghancurkan rasa kepercayaan ku dalam sekejap mata. Rasanya akan sulit bagiku untuk memberikan kepercayaan lagi padamu,’ batin Cheryl menggerutu.
“Tidak Mas, bukan itu maksud ku. Aku sangat percaya padamu, sangat. Tetapi, aku takut akan merindukan mu dalam waktu yang lama. Apakah aku boleh ikut bersama mu?” tanya Cheryl dengan penuh harap sambil bergelayut manja di lengan kokoh milik Vano. Tak lupa juga ia mengelus dada suaminya.
“Sayang, kau tidak bisa ikut bersama ku. Lagipula aku ke sana hanya bersama Nan. Apa kau mulai tidak mempercayai aku, hemm?” tolak Vano secara halus dan bertanya balik pada istrinya. Pria itu mencoba agar Cheryl tidak ikut, atau dia akan terkena masalah.
Cheryl menghela napasnya kasar, dan mengerucutkan bibirnya karena kesal. “Justru kau yang aneh tidak mau mengajak ku untuk keluar kota bersama mu, Mas. Aku pikir di sini kamu lah yang sedang menyembunyikan sesuatu dariku,” ucap Cheryl dengan nada menuduh. Wanita itu mengucapkannya dengan tegas dan hendak berbalik arah untuk pergi dari hadapan Vano.
Pria itu langsung mencekal tangan mungil milik Cheryl untuk mencegah wanita itu pergi. Ia juga tidak mau istrinya marah dan akan semakin membuat Cheryl curiga padanya. Vano harus mencari cara agar Cheryl tidak mengabaikan dirinya.
“Sayang, jangan marah. Semalam kau sudah berjanji tidak akan marah jika aku pergi ke luar kota selama satu minggu ini. Kenapa pagi hari ini kau berubah pikiran?” tanya Vano yang berusaha mengalihkan pembicaraan dengan istrinya.
Cheryl semakin kesal karena sang suami ternyata bersikeras untuk tidak mengajaknya sama sekali. Bahkan, pria itu seolah keberatan dengan dirinya. Cheryl tidak akan mau kalah, dan tetap harus bisa ikut dengan suaminya, Vano.
“Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu, sayang. Kau tahu, aku sangat mencintai mu tanpa kurang sedikit pun. Apa kau masih meragukan aku? Jika memang begitu, kau boleh ikut dengan ku pergi keluar kota. Aku akan membuktikan semuanya demi kamu. Kamu jangan marah lagi ya,” bujuk Vano dengan memelas. Ia akan berusaha dengan keras agar istrinya tidak marah. Atau ia akan terkena masalah besar.
Cheryl yang melihat suaminya sudah membujuk sambil memasang wajah melasnya, kini hanya bisa menghela napasnya panjang, sebelum ia menjawab bujukan Vano.
“Baiklah, kali ini aku akan memaafkan mu,” ucap Cheryl dengan ketus.
‘Lah, dari awal dia yang membuat keributan. Kenapa dia yang memaafkan aku. Seolah aku pelaku utamanya,’ batin Vano bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sambil memasang wajahnya heran.
***
__ADS_1
Di sisi lain. Seorang wanita cantik, juga sedang membereskan pakaiannya ke dalam sebuah koper miliknya. Wanita itu terlihat sangat kusut saat membayangkan akan kebersamaan ia dan bosnya yang sangat menyebalkan sejagat ini.
Hari ini Rissa terlihat sangat muram meskipun wajahnya yang cantik tidak pernah berubah sedikit pun. Ya! Rissa sangat kesal saat di ajak ke luar kota bersama sang Bos dan Sekretaris Ren yang sangat menyebalkan baginya.
Rissa tahu, Aidan akan memilih untuk mengajak dirinya, karena pria itu ingin melihat reaksi Vano saat ia bersama Aidan. Namun, bukan hanya itu yang membuat Rissa kesal, tapi karena ia tahu, Aidan pasti sudah menyiapkan suatu rencana untuk dirinya.
“Vano, semoga kau tidak salah paham saat melihatku bersama Aidan,” gumam Rissa sambil menghembuskan napasnya kasar.
Drrt! Drrrt!
Tiba-tiba saja sebuah getaran muncul dari ponsel miliknya yang letaknya tak jauh dari jangkauan. Rissa yang mengetahui hal itu langsung mengambilnya dan melihat nama Aidan terpampang dengan jelas di layar benda pipih tersebut.
Rissa mendengus dengan kesal saat melihat nama pria itu menghubungi dirinya. Apakah pria tidak bisa mengganggunya sebentar saja. Tak ingin membuat pria itu marah, akhirnya Rissa segera menggeser icon warna hijau tanda ia menerima panggilan tersebut.
“Apa kau sudah siap,” tanya sosok pria itu dengan nada dingin. seorang pria yang tak lain adalah Aidan di sebrang sana.
“Sudah tuan. Apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Rissa penasaran.
“Hmm,” jawab Aidan, singkat, padat, dan jelas. Pria itu segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, tanpa sepengetahuan Rissa.
“Halo, Bos? Halo? Bos?” panggil Rissa berulang kali, tapi tak ada jawaban. Ternyata pria itu sudah memutuskan sambungan telepon sejak tadi. Rissa mendengus kesal dan semakin muak dengan pria arogan itu.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...