Terjerat Cinta Sang Pelakor

Terjerat Cinta Sang Pelakor
Merindukan mu


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Tak berselang lama, Aidan mengerenyitkan dahinya saat melihat wajah Vano yang semakin pucat. Pria itu sudah semakin lemah, karena kehilangan banyak darah, hingga akhirnya Vano terkapar tak sadarkan diri.


“Apa dia sudah mati?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Rissa. Wanita itu acuh tak acuh saat melihat pemandangan yang ia lihat saat ini.


Namun, berbeda dengan Aidan, pria itu langsung mengecek kondisi Vano yang sudah pingsan. Masih hidup. Dengan segera, akhirnya Aidan merogoh ponsel yang ada di saku celana, dan langsng menghubungi orang kepercayaannya.


“Rissa! Ada apa dengan dirimu. Kau sudah melakukan tindakan yang sangat ceroboh, dan bisa saja merugikan dirimu sendiri. Apa kau sudah gila!” sentak Aidan seraya menatap wanita yang acuh tak acuh di hadapannya.


“Satu bulan tidak bertemu, kau jadi sangat pemarah, Bos. Oh tidak! kau adalah mantan bos ku,” ucap Rissa dengan sarkas. Aidan mendelik, tak suka dengan apa yang Rissa ucapkan.


Satu bulan bukan waktu yang sedikit bagi Aidan. Berbagai cara ia lakukan untuk menjauh dan memberi ruang pada wanita yang sangat cintai, hingga penantiannya sudah tak dapat ia bendung, dan akhirnya menemui wanita itu, dalam momen yang tidak tepat. Aidan tertegun sekaligus kaget, saat melihat ambisi Rissa yang begitu besar.


Sedalam apakah luka Rissa, sesakit apakah wanita itu, hingga melakukan tindakan diluar kendali. Aidan menghela napasnya dengan kasar, tatkala mengingat kejadian tadi, meskipun pada akhirnya ia tetap melihat kejadian tak terduga itu. Bahkan, Rissa tak segan untuk menembakkan timah panas pada seorang pria yang sedang memohon ampun padanya. Ah! Dia terlalu meremehkan Rissa.

__ADS_1


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok pria yang tidak asing baginya, yaitu Sekretaris Ren.


“Bos, maaf saya telat, tadi ada hal tak terduga,” cap Ren berjalan menghampiri Aidan dengan panik.


“Kau bawa dia ke Rumah Sakit. Aku akan menyusul,” titah Aidan seraya ikut membantu Ren yang sudah tanggap menggendong Vano menuju mobil.


“Kau peduli pada Vano?” tanya Rissa sambil menatap sinis ke arah Aidan. Pria itu mendekatkan dirinya ke arah Rissa, hingga membuat wanita itu memundurkan langkah kakinya.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Rissa yang risih dengan tatapan Aidan saat ini.


Grep!


Aidan sudah menarik lengan wanita itu dan langsung didekapnya dengan sangat erat. Rissa berusaha melepaskan diri dengan memberontak dalam dekapan Aidan.


“Lepaskan! Kau pria brengsekk!” maki Rissa. Ia tidak suka dengan sikap Aidan yang seenak jidat menyentuhnya.

__ADS_1


“Ak merindukanmu, sayang,” bisik Aidan tepat di telinga Rissa. Seketika bulu kuduknya meremang, saat hembusan napas pria itu menerpa leher jenjangnya.


“Kau! Dasar pria messum!” maki Rissa lagi, saat merasakan tangan kekar milik Aidan tengah meremas benda kenyal di balik baju.


“Apa kau tidak merindukan aku, hm?” tanya Aidan tak mempedulikan sikap Rissa.


Rissa merasa siall karena bisa bertemu lagi dengan Aidan, pria yang sudah merenggut kehormatannya. Entah kenapa kepalanya terasa sangat sakit. Ah! Mungkin karena hari ini dia terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting, begitu pikir Rissa.


“Lepaskan Aku! aku mohon ... kepalaku sangat sakit,” pinta Rissa melunakkan suaranya. Ia benar-benar merasa sangat sakit. Entah apa penyebab, ia pun tidak tahu. Sebab, sejak tadi dia baik-baik saja.


Aidan terhenyak dan langsung melonggarkan dekapannya. Ia tidak melakukan apapun saat ini. Hanya memeluk sebentar, tapi kenapa reaksi Rissa bisa sampai seperti itu. Aidan meneliti wajah wanita yang ada dalam dekapannya. Pucat!


Aidan kembali terkejut saat Rissa malah pingsan. Rasa cemas sudah melanda dalam diri Aidan, hingga ia dengan cepat membawa wanita it menuju Rumah Sakit.


***


“Selamat pak, istri anda hamil tiga Minggu.”

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2