
Selamat membaca ...
...****************...
Tak butuh waktu lama, kini Vano sudah tiba di kantor proyek yang sudah tersedia di sana. Lebih tepatnya, ruangan khusus yang telah disediakan untuk Aidan saat ini. Vano melangkahkan kakinya secara perlahan, dan mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tokk! Tokk! Tokk!
Pria itu mengetuk pintu ruangan dengan perasaan gugup. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalamnya. Vano mengetuk pintu sekali lagi, hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka, tanda seseorang membukakan pintu untuknya.
Terlihat pria berwajah dingin yang muncul dari balik pintu, hingga membuat nyali Vano sedikit menciut. Ia sudah tahu, pria yang membuka kan pintu untuknya adalah sang Sekertaris Tuan Aidan Smith, yaitu Ren.
“Silakan masuk Tuan,” ucap sosok pria dingin itu sambil mempersilakan Vabi untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Vano hanya tersenyum sekilas dan melewati pria itu dengan langkah cepat.
‘Pantas saja Aidan betah dengan sekertaris Ren. Ternyata mereka berdua memiliki sifat yang sama,’ cibir Vano dalam hati, karena hanya melihat wajah dingin dua orang pria yang ada di dalam ruangan sana, dan satu orang wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
“Selamat pagi, Tuan. Maaf, apa tuan sudah lama datang ke sini?” tanya Vano dengan cepat.
“Hmm, apa kau pikir ini proyek mu saja, hingga kau berleha-leha untuk datang di siang hari?” tanya Aidan dingin, sambil menatap Vano dengan tatapan penuh selidik.
Sedangkan sekertaris Ren hanya diam saja, seolah sedang menonton acara talk show. Beda halnya dengan Rissa. Wanita cantik itu hanya menunduk dan tak berani mengeluarkan satu patah kata pun.
“Tidak Tuan, tapi sesuai janji kita akan datang pada pukul delapan pas,” jawab Vano membela dirinya dengan gugup.
“Aku bilang, jam delapan tiga puluh menit, sudah ada di sini dan sudah memberi intruksi pada karyawan lainnya. Apa kau akan bisa tenang jika memberi intruksi dengan terburu-buru dan terengah-engah karena dikejar waktu? Cih! untuk urusan ini saja kau sangat tidak becus dan tidak bisa diandalkan,” cibir Aidan sambil melemparkan beberapa berkas yang ditugaskan untuk Vano, tapi belum diisi sama sekali.
***
Siang hari ...
Di sisi lain. Seorang wanita baru saja sampai di sebuah Restoran xx setelah pulang dari proyek. Sesuai janji dengan istri kekasihnya, Cheryl. Rissa sudah siap untuk menunjukkan aksinya. Bahkan, penampilannya terlihat seperti bintang. Sangat memukau tanpa pakaian berlebihan dan terlihat sangat elegan. Wanita muda itu memang punya selera fashion yang sangat baik.
__ADS_1
Rissa melihat seorang wanita yang tengah duduk di meja nomor tujuh. Wanita cantik dengan penampilan sederhana. Namun, wanita itu terlihat sangat anggun dengan penampilannya saat ini. Ia akui, bahwa istri Vano memang sangat cantik. Mereka berdua memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
“Selamat pagi, Nyonya Xander. Apa anda menunggu kedatangan ku sangat lama?” tanya Rissa sesaat setelah sampai di meja nomor tujuh. Wanita itu langsung duduk tanpa menunggu tawaran Cheryl, karena ia yakin jika wanita itu tidak akan sudi menawarinya sebuah kursi, setelah satu-satunya singgasana yang Cheryl miliki telah diambil oleh Rissa, yaitu Vano.
“Cih! hanya seorang gadis kecil yang masih begitu semangat untuk mengambil suami dari wanita lain,” cibir Cheryl sambil tersenyum sinis dan menatap Rissa dengan tatapan yang meremehkan. Rissa hanya terkekeh saat mendengar decakan istri kekasihnya tersebut.
“Jangan terburu-buru untuk menilai ku seperti itu, calon madu. Aku masih belum memesan kopi bersama mu. Aku lihat kopi mu terlalu manis. Apa itu untuk menetralkan kepahitan dalam rumah tangga mu? Jangan meminum minuman yang terlalu manis, bahaya untuk kesehatan.” Tanpa menghiraukan raut wajah Cheryl yang sudah memerah menahan amarahnya. Sedangkan, Rissa dengan sangat santai memesan kopi kesukaannya.
“Jangan berbasa-basi lagi denganku, dan langsung pada intinya saja, karena aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu. Sebaiknya kau segera pergi dari kehidupan suamiku, atau aku akan melakukan tindakan yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya,” ancam Cheryl dengan tegas. Tatapannya yang tajam seolah ingin melahap mangsa yang ada di hadapannya tersebut.
“Hmm, benarkah? Apa kau semenakutkan itu, aku jadi gemetar karena merasa sangat takut pada Nyonya Xander. Justru aku sangat menyukai sebuah tantangan,” ucap Rissa dengan nada takut, tapi raut wajah wanita itu menunjukkan sebaliknya. Tentu saja hal itu membuat kemarahan Cheryl semakin mencuat dan ingin mendaratkan telapak tangannya pada pipi mulus milik Rissa. Wanita yang sangat tidak tahu malu.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...
__ADS_1