
Selamat membaca ...
...****************...
Tak terasa sinar matahari sudah ada di atas ubun-ubun, yang mana hal itu menandakan hari sudah semakin siang, dan waktu untuk makan. Rissa maupun Aidan sudah sampai di sebuah Restoran untuk makan siang bersama. Tentu saja Rissa bersedia karena tingkah Aidan yang begitu memuakkan baginya.
"Apa kita gak makan di apartemen ku saja. Biar aku yang masak," ucap Rissa sambil menatap Aidan dengan menampilkan wajahnya yang memelas, agar pria itu mengizinkannya pulang, karena ia sudah merasa lelah sejak tadi pagi terus berkeliling.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Aidan yang tiba-tiba khawatir sambil memegangi dahi sosok wanita yang ada di hadapannya. Rissa yang mendapatkan perlakuan itu hanya menghela napasnya panjang, sambil memutar bola matanya malas.
"Tidak! Aku tidak sakit. Aku hanya merasa lelah saja," jawab Rissa dengan santai.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang saja dan makan di apartemen bersama," ucap Aidan sambil memegangi tangan Rissa. Rissa yang sudah lelah membiarkan Aidan untuk terus menggandengnya, karena ia sudah merasa sangat lelah jika terus bertengkar.
"Apa kau akan memakan masakan ku yang buruk?" tanya Rissa sambil melirik sekilas ke arah Aidan, dengan kor matanya.
Tiba-tiba saja Aidan menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik arah menatap wanita cantik tersebut dengan tatapan penuh selidik, yang mana hal itu membuat Rissa terkejut sekaligus merasa gugup dengan tatapan Aidan.
"Aku menyukai apapun yang ada pada dirimu. Jadi, kau tidak perlu cemas jika aku tidak menyukai mu lagi," jawab Aidan dengan tegas, sambil menatap wanita itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Hmm, bagus lah," celetuk Rissa sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa kau sedang khawatir jika aku tidak menyukai mu lagi?" tanya Aidan dengan penuh selidik.
Lagi dan lagi, Rissa menghela napasnya kasar, saat mendengar pertanyaan Aidan yang begitu percaya diri. Pria itu sangat narsistik. Ia harus ekstra sabar menghadapi pria gila seperti Aidan. Namun, tiba-tiba saja datang seorang wanita cantik yang menghampiri ke arah mereka.
__ADS_1
'Apa aku mengenal wanita itu,' batin Rissa bertanya-tanya sambil berpikir apakah ia mengenal wanita lain di luar kota, tetap saja ia tidak ingat.
Ternyata ia salah. Wanita itu bukan mengarah ke arah dirinya, melainkan ke arah pria yang ada di sampingnya, Aidan. Rissa melirik sekilas dengan ekor matanya, ke arah pria tersebut.
"Sayang, sedang apa kau di sini, dan siapa wanita ini?" tanya sosok wanita cantik tersebut, sambil menatap Aidan dengan tatapan penuh selidik. Rissa yang ada di sana hanya diam tak bergeming, karena tak mengerti dengan keadaannya sekarang.
"Bukan urusan mu," jawab Aidan dingin sambil menatap wanita itu dengan tajam.
"Sepertinya ini masalah pribadi kalian. Aku pamit dulu," ucap Rissa sambil tersenyum dan menatap Aidan bergantian dengan wanita yang ada di hadapannya. Entah siapa wanita itu, Rissa pun tak tahu, dan ia juga tidak ingin tahu.
"Tidak Riss, ini bukan masalah penting. Jangan pergi!" pinta Aidan dengan tegas dan masih ingin bersama Rissa. Ia tidak akan pernah membiarkan Rissa jauh darinya.
"Apa maksud mu sayang. Jelaskan padaku dia itu siapa?” tanya sosok wanita tersebut dengan penuh selidik. Wanita itu sesekali melirik ke arah Rissa dengan tatapan sinisnya.
"Tidak! Aku tidak ingin pulang sebelum kau mengatakan siapa dia?!" bantah Lily dengan tegas.
"Dia calon istriku. Apa kau sudah puas sekarang? pergilah!" usir Aidan dengan cepat, agar wanita itu tidak membuat ulah di hadapan wanita yang sangat ia cintai.
"Tidak! ini tidak mungkin kan? Baiklah, sekarang aku akan pergi, tapi kau akan tahu akibat dari ulah mu ini," ucap Lily sambil melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Aidan dan juga Rissa.
Setelah kepergian Lily. Tanpa Aidan sadari, Rissa pun mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar Restoran tersebut. Wanita itu seperti lalat yang ada diantara sepasang kekasih tersebut. Jujur, Rissa kecewa terhadap pria yang sudah berkali-kali menyatakan cinta untuknya itu.
'Apa wanita itu kekasihnya, tapi kenapa hatiku merasa tidak nyaman saat melihat situasi saat ini. Aku sudah seperti penonton pertunjukan seorang wanita yang memergoki kekasihnya berselingkuh. Apakah aku tidak pantas bahagia untuk sesaat saja. Ya! Aku ingin seperti wanita pada umumnya, yang memiliki pasangan setia untuk menemani hari-hariku, bukan hanya menjadi seorang wanita simpanan pria beristri, dan juga pria yang sudah mempunyai seorang kekasih. Apakah aku seburuk itu di mata orang lain, dan hanya menjadi benalu dan perebut suami orang,' batin Rissa yang merasa dirinya gagal menjadi seorang wanita. Wanita itu menghela napasnya kasar sambil memejamkan mata agar hilang rasa sesak di hatinya.
Tiba-tiba lamunannya terbuyar saat ada yang menyentuh dirinya. Rissa yang merasakan hal itu, terkejut dan langsung membalikan badannya, untuk melihat ke sumber arah. Wanita itu menghela napasnya lega saat melihat Aidan yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Apa kau masih mau makan bersama ku, setelah dipergoki kekasih mu?" tanya Rissa datar sambil menampilkan wajah tanpa ekspresinya.
"Sudah aku katakan, aku akan makan bersama mu. Apa kau sudah lupa atau kau merasa cemburu sejak tadi. Kau tidak perlu cemas, karena aku hanya mencintai mu," ucap Aidan sarkas, dan menampilkan tatapan yang menggoda ke arah wanita cantik tersebut.
"Aku pikir kau akan takut karena ketahuan. Untuk masalah tadi, semuanya tidak ada sangkut pautnya denganku. Lalu, untuk apa aku merasa cemburu. Terserah kau saja, lagi pula itu bukan hal yang penting untukku," ucap Rissa dengan nada yang sinis, yang mana hal itu membuat Aidan semakin gemas, dan tanpa sadar mengecup singkar bibir ranum milik Rissa. Rissa yang menerima perlakuan yang tiba-tiba itu langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
“Beraninya kau mencium ku di tempat umum!” desis Rissa sambil menatap tajam ke arah Aidan.
"Kau terlalu cantik, hingga aku tidak bisa berpaling darimu, dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri," ucap Aidan sambil menatap Rissa dengan tulus.
***
Dalam perjalanan menuju hotel kembali, tak ada yang mereka bicarakan. Hanya keheningan dan kesunyian di dalam mobil tersebut, hingga suasana pun berubah menjadi dingin dan mencekam. Aidan melihat ke arah samping, di mana Rissa berada. Wanita itu hanya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
"Sayang, apa kau sangat lelah?" tanya Aidan penasaran. Entah mengapa wanita itu hanya diam saja sejak tadi, dan itu membuatnya sedikit khawatir.
"Bagaimana aku tidak lelah, kita membuang waktu hingga beberapa jam dalam perjalanan. Kau mengajakku kembali ke perusahaan dan sekarang kembali ke luar kota. bukankah kau sudah gila," jawab Rissa dengan sarkas, tanpa melirik ke arah Aidan, dan masih tetap melihat ke arah luar jendela.
Aidan yang melihat Rissa begitu kelelahan merasa sangat bersalah. Pria itu langsung menghentikan mobilnya ke pinggir jalan, hingga Rissa terkejut dengan tindakan Aidan saat ini.
"Aidan, apa yang kau lakukan?" tanya Rissa dengan tatapan penuh selidiki.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1