
Bara menemani Sheina untuk memeriksakan kehamilan ke dokter. Mereka sampai di sana saat antrian belum terlalu panjang karena menurut obrolan yang terdengar, biasanya akan lebih ramai dari ini.
Sepasang suami istri itu duduk di ruang tunggu yang nyaman. Beberapa wanita dengan perut buncit juga ditemani suaminya masing-masing. Bara menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyum khasnya yang sangat tampan, saat melihat gadis kecil seumuran Gabriel mencium perut ibunya yang buncit. Bara membayangkan, jika nanti perut Sheina sudah besar, ia dan Gabriel mungkin akan lebih sering menciumi perut buncit mommynya.
Bara mengusap rambut Sheina pelan, membuat wanita itu menoleh pada Bara. Lalu, Bara tersenyum dan berkata, "I love you."
Sheina merona, dan menepuk pipi Bara pelan dengan satu tangannya.
Pandangan mata Bara kembali tertuju pada perempuan lain dengan perut besar yang baru saja sampai di tempat itu. Tidak ada satu pun yang menemaninya, ia sendirian tapi terlihat bahagia dengan sesekali mengelus perut buncitnya. Pikiran Bara tiba-tiba melayang, ia membayangkan jika itu Sheina saat hamil Gabriel. Bagaimana perasaannya saat memeriksakan kehamilan sendiri? Apa ia juga tersenyum seperti wanita itu, atau dia menangis karena sedih?
Bara meraih tangan Sheina, dengan tatapan sedihnya ia menggenggam tangan ibu hamil itu. Sheina yang melihat sikap aneh suaminya, lagi-lagi hanya bisa menoleh dengan ekspresi penuh tanya.
"Pas hamil Gabriel, kamu periksa hamil sendiri?" tanya Bara dengan raut muka yang menyesal. Lagi-lagi ia hanya bisa merasa bersalah karena kebodohonnya itu.
"Aku jarang periksa, cuma dua atau tiga kali aja. Itu pun dipaksa Keyla," jawab Sheina. Ia kembali teringat masa-masa kehamilan Gabriel yang sulit, saat pikirannya yang buruk justru ingin membu.nuh darah dagingnya sendiri. Beruntung ada Keyla yang selalu memberi semangat dan mengingatkannya, bahwa Gabriel tidak pernah melalukan kesalahan apa-apa pada Sheina.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu harus rajin periksa hamil, aku akan temenin kamu tiap ke sini." Bara kini memeluk tubuh istrinya. Rasa bersalah yang menghinggapinya, hanya akan menjadi penyesalan jika ia tidak merubahnya. Semua yang terlewatkan itu akan ia tebus dengan sebaik-baiknya.
*
*
*
Bara memasang raut muka sedih saat keluar dari ruangan dokter. Wajah tampannya ditekuk dengan bibir manyun, persis seperti yang biasa Gabriel lakukan saat sedang ngambek.
"Dokternya jahat banget, kita ganti dokter aja deh," ucap Bara masih menyun. Kini mereka berjalan menuju apotek yang telaknya paling depan samping pintu masuk klinik praktek dokter kandungan.
"Ya ampun, semua dokter sama aja, nggak ada yang jahat kok." Sheina duduk di ruang tunggu obat, menunggu namanya dipanggil untuk mendapatkan obat dan vitaminnya.
"Ya, tapi masa' kita diatur-atur sih sama dia. Mana bisa tahan kalau seminggu cuma sekali," gerutunya yang diiringi helaan napas berat.
__ADS_1
Bara tidak terima dengan anjuran yang diberikan dokter tadi, mengingat kandungan Sheina yang masih terlalu muda itu memang rentan mengalami keguguran.
"Ya, kamu lebih sayang anak kita, apa sayang torpedo kamu?"
Bara menatap istrinya dengan memelas. "Sayang dua-duanya, sayang anak karena ada torpedo, sayang torpedo karena dia yang bisa bikin kamu enak," jawab Bara sambil nyengir.
Sheina merasa malu, lalu ia mencubit pipi Bara dengan gemas.
"Pasti bisa. Nanti kalau udah lahiran malah nggak bisa dipakai empat puluh hari loh," goda Sheina yang membuat Bara melotot.
"Yang bener aja, masa' empat puluh hari. Itu lima minggu lebih loh!"
☕☕☕
Kuat-kuatin Bang. Nikmati aja dulu ngidamnya🤣🤣 Ngidam kembang sama Kopi wkkk
__ADS_1
☕☕☕🌹🌹🌹