
Sheina dilarikan ke rumah sakit karena mengalami tanda-tanda akan melahirkan. Bara dan Mama Viona menemaninya melewati setiap proses yang ia lewati untuk mengeluarkan buah cinta keduanya bersama Bara.
Sementara itu, Bara yang baru pertama kali menemani wanita melahirkan, terlihat mondar-mandir sambil mengatur debaran jantungnya yang mulai berdetak tak karuan. Pikirannya mendadak kacau melihat istrinya meringis kesakitan.
“Dad kamu mondar-mandir terus bikin aku pusing tahu nggak,” kata Sheina yang baru saja merasakan sakit kontraksinya hilang.
Bara mendekat, mengelap keringat yang membasahi kening Sheina. “Aku nggak tega lihat kamu kayak gini, Sayang.” Bara mengecup kening Sheina sebagai wujud rasa cintanya pada sang istri.
“Kalau kamu nggak tega, ya jangan dibikin hamil lagi. Lihat itu mantu mama lagi berjuang buat menyelamatkan cucu mama,” sahut Mama Viona sembari memijat kaki Sheina.
Dalam situasi seperti ini, Sheina merasa sangat bersyukur karena memiliki suami dan mertua yang sangat peduli dan menyayanginya.
***
Bara membantu Sheina yang mendapat instruksi untuk mengejan. Rasanya Bara seperti akan melahirkan juga karena mengikuti Sheina yang mengatur napasnya. Hingga perjuangan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir bahagia dengan kehadiran seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
Bara sangat bahagia karena memiliki bidadari kecil yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya. Begitu pun dengan Sheina yang memang sangat mengharapkan anak perempuan. Setelah bayinya dibersihkan, Sheina diizinkan untuk menyu.sui bayinya.
“Aduh, princessnya oma cantik banget, nanti saingan sama Kakak Biel ya ngerecokin ikannya opa.” Mama Viona menyentuh pipi cucunya yang kulitnya masih sangat merah.
__ADS_1
“Nanti mau goreng ikan opa yang mahal ya, Sayang,” sahut Bara.
“Hem, pasti nanti Kakak Biel marah kalau digoreng ya, kan, cantik?” Mama Viona mengambil alih bayi Sheina setelah selesai belajar menyu.sui. Mama membawa cucunya untuk duduk di sofa dan memperhatikan lekat-lekat wajah si cantik yang juga mirip Bara.
Bara duduk di samping ranjang Sheina dan mencium tangan Sheina. “Makasih ya Sayang, sudah kasih kebahagiaan yang lengkap buat aku. Aku nggak tahu, apa aku tetap bisa menikah kalau nggak ketemu kamu,” kata Bara.
“Aku juga sangat bahagia sudah menjadi istrimu.” Sheina meraih tangan Bara dan meletakkannya di pipinya.
“Kalau nggak inget kamu habis lahiran, mungkin aku akan mencium bibirmu sekarang juga,” ucap Bara dengan raut wajahnya yang malu-malu.
“Please deh jangan aneh-aneh. Inget lagi puasa!”
“Hem, tergantung anak-anak.”
“Mommy.”
Suara dari bocah empat setengah tahun itu mengejutkan Bara dan Sheina. Siapa lagi kalau bukan Gabriel yang baru datang bersama opanya. Gabriel memang sengaja tidak diajak ke rumah sakit karena memang lebih baik dia menunggu di rumah bersama kakeknya.
“Adiknya Biel sudah lahil ya?” tanya Gabriel dengan mata berbinar. Ia menghampiri omanya yang sedang menggendong adik bayinya. “Halo Dedek Bayi, ini Kakak Biel. Oma dedeknya cewek apa cowok?” tanya Gabriel.
__ADS_1
“Cewek ini Kakak Biel, cantik kayak oma, ‘kan?”
Gabriel menatap adik bayinya yang baru lahir, lalu ia memandang Sheina yang berbaring tak jauh dari posisinya. “Cantik kayak Mommy.”
Sheina yang mendengarnya pun tersenyum malu, tapi tidak dengan Mama Viona.
“Oma juga cantik loh Biel. Dedek Bayi kayak oma cantiknya.”
“Tapi, Biel lihat dedek bayinya kayak Mommy.”
“Sini biar opa yang lihat.” Papa Bara ikut nimbrung obrolan istri dan cucu lelakinya. Papa mengamati wajah cucu perempuannya yang baru lahir. “Ini sih mukanya kayak daddy kamu Biel, sama kayak muka kamu.”
“Jadi, dedek bayinya ganteng apa cantik?”
☕☕☕Bagi votenya dong yang masih punya vote. Insya Allah besok aku infokan lapaknya Mondy Keyla Gery, yang jelas Bara Sheina juga ikut ke sana kok.🌹🌹🌹
Sambil tunggu info lagi, boleh dong mampir ke novel temenku. Ada di gambar ya.
__ADS_1