
"Ngidam itu yang pas pengen banget, kalau disengaja bukan ngidam namanya." Sheina menyahuti omongan Mondy yang menyuruhnya untuk mengidamkan lagi mangga muda, supaya Bara tahu rasanya memanjat seperti yang ia lakukan kemarin.
Bara memanyunkan bibir saat istrinya membela Mondy yang merupakan mantan pacarnya. Seharusnya yang dibela, kan, suaminya. Kenapa Sheina membela Mondy?
"Kok kamu belain dia sih, Sayang?" tanya Bara. Jelas ia tidak rela saat istrinya membela laki-laki lain di depan matanya.
"Nggak belain kok. Kamu aja yang terlalu jahat. Kenyataannya emang Mondy yang bantuin aku buat mewujudkan keinginan aku. Emangnya kamu mau anak kita ileran?" Sheina balik bertanya. Ibu hamil itu mulai kesal karena sikap suaminya.
"Ya, nggak sih." Bara mulai membaca situasi. Ia tahu istrinya akan merajuk kali ini.
"Udahlah, aku mau pulang. Udah sore, waktunya Gabriel mandi." Sheina berdiri dan pulang dengan raut kesal. Perasaan wanita hamil itu memang sangat sensitif, salah sedikit saja bisa runyam urusannya.
"Ah, gara-gara Kukis Lebaran nih!" Bara pun menyusul istrinya. Tidak mau kalau Sheina benar-benar merajuk. Sudah waktunya torpedo beraksi setelah libur seminggu bisa-bisa hari ini libur lagi.
Sheina memasuki rumah, disusul Bara yang mengekor di belakangnya. Gabriel hanya melirik kedua orang tuanya yang seolah sedang balapan sampai ke kamar. Bagi Gabriel, saat ini dia sudah dewasa karena sebentar lagi akan menjadi kakak dari Dedek Bayi yang ada di perut mommynya. Oleh karena itu, Gabriel tetap santai di depan televisi.
Bara hampir dikunci dari luar oleh Sheina, tapi dengan kekuatannya, Bara menahan pintu dan berhasil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Maaf, Sayang." Bara menahan Sheina supaya tidak lagi marah.
"Kamu jahat. Jahat banget sekarang." Sheina enggan membalas pelukan suaminya, tapi aroma tubuh itu membuatnya tidak berniat menjauh. Sheina pun pasrah dalam pelukan Bara sembari mengendus-endus aroma yang dari kemarin ia rindukan.
"Maaf ya, nanti aku ganti rugi ke Mondy." Bara mengusap kepala belakang Sheina. Ia suka Sheina menjadi sangat manja semenjak hamil, tapi ia juga harus ekstra sabar saat Sheina mulai merajuk.
Sheina hanya diam menikmati sentuhan dan aroma tubuh Bara yang kini menjadi sesuatu yang paling ia sukai.
Bara yang juga merindukan istrinya, mulai bergerak liar memberi sentuhan yang menjadi kode saat ia ingin bersatu dengan Sheina. Maklum saja, torpedonya mulai aktif saat merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bagian depan tubuhnya.
"Hem, terserah," jawab Sheina.
Seketika perasaan Bara langsung berbunga-bunga karena kebutuhannya akan terpenuhi. Saat Bara ingin mengunci pintu supaya tidak mendapat gangguan, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Duh, siapa sih ganggu banget." Bara bergumam kesal karena ia sudah dalam mode siap beraksi tapi malah mendapat gangguan.
"Halo, Pa." Bara menjawab ponselnya yang ternyata dari papanya sendiri.
__ADS_1
"Kamu cepetan ke sini, ada yang mau papa sama mama omongin. Ajak istri sama anakmu juga." Papa langsung mematikan teleponnya setelah selesai berbicara.
"Papa kenapa ya?"
🌸🌸🌸
Bara dan Sheina sudah sampai di rumah papa mamanya. Mereka sudah menunggu bersama pengacara keluarga, membuat Bara semakin bingung dengan apa yang terjadi.
Gabriel yang sejak di mobil sjdah meributkan ikan, langsung mengajak mommynya untuk melihat ikan di kolam belakang. Papa langsung cemas saat tahu Gabriel mengajak menantunya yang hamil itu ke kolam belakang.
Papa menyusul Sheina yang mengikuti langkah Gabriel.
"Gab, itu ikan apa?" tanya Sheina pada Gabriel yang memberi makan ikan-ikan koi.
"Jangan! Jangan ikan, ya. Minta yang lain aja, asal jangan goreng ikan kesayangan papa."
☕☕☕ nggak digoreng, Pa. Minyak mahal, gimana kalau kita bikin pepes ikan aja🌹🌹🌹
__ADS_1