
Pasangan suami istri yang belum memiliki banyak pengalaman itu akhirnya melanjutkan kegiatan mereka di tempat tidur. Meski harus berhati-hati, nyatanya mereka bisa melakukannya tanpa membangunkan Gabriel. Bocah laki-laki itu tetap tidur nyenyak meski terjadi gempa bumi di sampingnya.
Gerakan pinggul yang terakhir, berhasil menembak sasarannya. Bara tersenyum puas setelah pelepasannya. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, ia memandangi wajah cantik istrinya yang juga sedang menatapnya.
"Enak?" tanya Bara sembari mengelap keringat yang membasahi dahi Sheina.
Sheina hanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
"Aku juga, makasih ya, Sayang." Bara mencium kening Sheina, masih terasa keringat yang mengenai bibirnya.
"Capek nggak?" tanya Bara yang kini mencabut torpedonya, membuat Sheina kehilangan sesuatu yang sedari tadi memenuhi goanya. Sesuatu yang berwarna putih mulai keluar seperti lahar gunung merapi.
"Capek bangetlah, Bar." Sheina meraih tisu yang kini selalu tersedia di nakas. Ia membersihkan area itu dengan tisu sebelum mengenai sprei.
"Kamu cuma tiduran doang, capek gimananya, sih?" Bara memeluk Sheina dan menciuminya. "Bersihin sekalian torpedo aku ya," bisiknya dengan mesra.
"Yang barusan emang cuma tiduran, yang tadi-tadi, nggak kamu hitung?" Sheina membersihkan torpedo milik Bara dengan tisu.
Bara cekikan sambil bermanja di pundak Sheina yang belum memakai apa pun sama sepertinya.
__ADS_1
"Lagi ya," pintanya tanpa merasa berdosa, padahal ia sudah dua kali memuntahkan lahar hangatnya di rahim Sheina.
"Mau kucubit nggak?"
"Ampun Nyonya, iya deh, besok lagi ya."
Bara tertawa, Sheina meraih handuk yang tadi dipakainya setelah bercin.ta di kamar mandi. Ia meninggalkan Bara untuk membersihkan diri.
Bara masih cekikan, ia sangat bahagia dan puas malam ini. Tanpa sadar, ada manusia lain yang terganggu dengan suara tawanya.
Bara yang duduk membelakangi Gabriel dan masih tidak memakai apa pun, tidak tahu bahwa putranya terbangun.
"Daddy. Daddy."
"Ya, Sayang," jawab Bara berusaha tenang di depan Gabriel, tangannya meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Daddy nggak pakai baju? Nggak dingin?" tanya Gabriel dengan suara serak.
"Em, itu Daddy gerah tadi, mau mandi tapi gantian sama Mommy," jawab Bara dengan berdebar-debar. Bisa gawat kalau Gabriel tahu daddynya juga tidak memakai celana saat ini.
__ADS_1
"Daddy gelah? Biel malah dingin, selimutnya bawa sini kalau Daddy gelah." Gabriel berusaha merebut selimut dari daddynya.
"Jangan Gab. Daddy juga pengen pakai selimut "
"Katanya Daddy gelah, jangan pakai selimut kalau gitu."
Bara terdiam. Benar yang dikatakan Gabriel, kalau gerah kenapa malah pakai selimut. Akan tetapi, otak cerdas buayanya tidak mau dikalahkan begitu saja. Ia memutar otak untuk memberi alasan pada Gabriel yang cerewet dan cerdas itu.
"Gabriel kenapa bangun sih? Mimpi apa lagi sekarang? Mimpi dikejar monster?" tanya Bara untuk mengalihkan perhatian putranya.
Selalu saja bangun tiap kali mommy sama daddynya enak-enak. Tidur sendiri nggak mau, tapi bangun tengah malam terus. Kapan waktu orang tuanya mesra-mesraan.
"Nggak kok, Biel nggak mimpi apa-apa. Tadi, kan, Daddy ketawa kelas banget, bikin Biel kaget."
Sheina sudah selesai mandi. Tubuhnya terlihat segar dengan rambut yang basah. Ia terkejut saat melihat Gabriel sudah membuka mata di tengah malam begini.
"Gabriel kok udah bangun?" tanya Sheina yang kini mendekati putranya.
Bara mencuri kesempatan untuk turun dari kasur sambil memakai handuknya.
__ADS_1
"Daddy belisik, bikin Biel kaget. Mommy kenapa kok kayak habis mandi? Daddy juga mau mandi, kenapa malam-malam mandi?"
☕☕☕