Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 49


__ADS_3

Setelah kepergian Gery, Sheina menyuruh Bara mandi karena mereka akan bekerja meski Bara sakit. Tentu saja, di otak Bara yang sedikit aneh itu ingin memanfaatkan situasi dengan alasan sakitnya.


"Shein, tanganku masih sakit banget, bisa minta tolong nggak?" tanya Bara yang sudah mengalungkan handuk di lehernya, bersiap untuk mandi.


"Minta tolong apa nih? Jangan bilang minta tolong mandiin, ogah banget!" Sheina menyalakan laptop, mengabaikan Bara yang masih mengharap bantuannya.


Tebakan Sheina memang benar, yang akhirnya membuat Bara membuat alasan lain yang lebih masuk akal. "Aku tuh nggak minta kamu mandiin Shein, minta tolong buat ngelepasin baju aku aja, kok. Cuma ada kamu, masa buka baju aja manggil Mama, malu-maluin, Shein."


Sheina mendengus kesal. Bara sangat menyebalkan di matanya. Kalau saja dia tidak bekerja menjadi asisten pribadinya, kalau saja Bara tidak babak belur karena papanya, Sheina akan memilih pulang meninggalkan laki-laki itu. Sayangnya, Sheina hanya bisa menurut, apalagi ini sudah jam kerjanya.


Ibu satu anak itu berjalan mendekat pada Bara yang tersenyum penuh kemenangan.


"Pelan-pelan ya, sakit banget soalnya." Bara merenggangkan tangannya supaya Sheina bisa membantunya melepaskan baju.


"Bawel banget kayak Gabriel."


"Kan daddynya."


Sheina mulai mengangkat hoodie yang dipakai Bara. Perjuangan yang cukup sulit, karena Bara terus mengeluh sakit. Sampai akhirnya, *ho*odie itu terlepas dan Sheina kembali mendengus kesal. Ia pikir hanya hoodie saja, ternyata masih ada kaus hitam yang cukup ketat yang melekat di tubuh kekar Bara.

__ADS_1


"Nyusahin banget sih pakai kaos gini."


"Ya udah sih, bantuin aja. Cuma tinggal kaos aja kok, nanti celananya aku lepas sendiri," ucap Bara yang membuat Sheina melotot.


"Kamu bayar seratus juta pun aku nggak mau bukain celana kamu," balas Sheina kesal.


"Nanti aku bayar tunai seratus juta di depan dua saksi, malamnya kamu pasti mau ngelepasin celanaku."


"Dasar gila!"


Bara tertawa melihat ekspresi kesal Sheina. Ia semakin tidak sabar menjadikan Sheina istrinya. Ia mulai memikirkan rencana supaya pernikahannya dan Sheina bisa segera dilaksanakan.


Gila, ABSnya. Apa dari dulu udah gini ya? Astaga Shein, mikirin apa sih!


Sheina menarik kasar kaus itu saat sadar ia telah terbuai dengan keindahan tubuh Bara.


"Aduh, sakit banget Shein. Kenapa nggak pelan-pelan sih?" tanya Bara yang kini hanya bertelan*jang dada.


"Cerewet deh. Udah sana mandi! Buruan!" perintah Sheina yang mendorong tubuh Bara agar cepat masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Aku yang jadi atasan kamu, kenapa kamu yang nyuruh-nyuruh aku?" tanya Bara.


Sheina enggan menjawab. Ia menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan kerjanya.


*


*


*


Bara meminta Sheina untuk menemaninya ke rumah sakit dengan alasan untuk memeriksakan lukanya. Sheina menurut dan menemani Bara ke rumah sakit tanpa curiga. Setelah pemeriksaannya, Bara mengajak Sheina untuk mengunjungi koleganya.


Saat pintu dibuka, Sheina sangat terkejut mendapati mama tirinya yang sedang menjaga papanya.


"Kenapa kamu ajak aku ke sini?" tanya Sheina yang merasa kesal karena dibohongi Bara.


"Kita mampir bentar aja, Shein. Biar gimana pun itu papa kamu. Jenguklah sebentar, biar kamu nggak nyesel kalau terjadi apa-apa."


Sheina mengatur napasnya yang tersengal seiring debaran amarah di dadanya. Selama empat tahun ini ayahnya mengabaikannya. Tiba-tiba marah dan menghakimi Bara yang ingin bertanggung jawab. Sheina benci papanya karena bersikap seolah peduli padahal kenyataannya tidak.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2