
Tubuh yang dipenuhi peluh itu masih saja berpacu dalam dinginnya pendingin udara di kamar Bara. Napas yang saling memburu, tatapan mata yang saling memandang menghiasi suasana panas di kamar itu. Bara seperti diterbangkan ribuan balon ke udara. Rasa bahagia memenuhi seluruh ruang hatinya. Sheina benar-benar menjadi miliknya saat ini.
Semua begitu sempurna seiring tembakan torpe.do kapal selam yang meluncurkan banyak benih ke dalam rahim Sheina.
"Ah, gila. Lega banget, Shein." Bara merebahkan wajahnya di samping kepala Sheina.
Sheina diam. Ia sendiri juga lemas setelah melepaskan hormon dalam dirinya. Bahkan napasnya masih tersengal-sengal, dan di mata Bara itu sangatlah sek.si.
"Kamu mau lagi?" tanya Bara yang kini mengangkat wajahnya untuk melihat ke dalam mata Sheina.
"Kamu nggak lihat ini jam berapa?" Sheina menatap sebal pada suaminya. Begitulah hati Sheina yang belum sepenuhnya menerima Bara. Meski ia adalah istri sahnya, hatinya masih belum mencintai Bara sepenuhnya seperti apa yang seharusnya terjadi.
Bara melirik jam kecil di nakas samping lampu tidur. Pukul dua dini hari.
"Sekali lagi deh, tenagaku masih ada kok." Bara mengusap keringat di dahi Sheina.
"Bar, aku yang capek. Masih ada banyak waktu, kita aja baru nikah."
Bara terdiam. Benar yang dikatakan Sheina, mereka saja baru memulai lagi. Masih panjang hari-hari yang akan mereka lewati bersama, tapi bukan Bara namanya kalau tidak bisa menggoda Sheina.
"Cie cie, yang udah ngerencanain besok mau lagi. Iya deh, aku kabulin permintaan kamu, besok lagi." Bara melepaskan tor.pedo miliknya dan mencium kening Sheina.
__ADS_1
"Idih, kenapa kesannya jadi aku yang minta-minta ke kamu," balas Sheina dengan sewot. Ia merasakan cairan yang keluar dari dalam dirinya, bukti penyatuan yang sempurna.
"Iya iya, aku yang minta-minta. Em, Shein. Mau cium dia nggak?" Bara menggenggam senjatanya yang sudah mulai lemas.
"Jorok banget sih, Bar. Udah sana mandi, aku mau ganti sprei."
"Jangan diganti dong, sayang banget barang buktinya hilang," goda Bara yang kini berdiri dengan polosnya tanpa malu di depan Sheina.
"Nggak usah cerewet kayak Gabriel deh, sana mandi. Gantian, aku udah ngantuk!" usir Sheina.
Bara tertawa, lalu berjalan begitu saja ke kamar mandi. Mata Sheina benar-benar ternodai. Suaminya sangat aneh dan tidak punya rasa malu.
*
*
*
Gabriel memanggil ibunya berkali-kali. Mata Sheina yang masih mengantuk dan terasa lengket terpaksa harus bangun karena Gabriel sangat berisik. Wanita itu menyingkirkan lengan Bara yang memeluknya semalaman. Tanpa cuci muka dan hanya mengikat rambut saja, Sheina berjalan menghampiri Gabriel di depan pintu.
"Molning Mommy," sapa bocah itu dengan senyuman termanis yang selalu Sheina sukai.
__ADS_1
"Morning, Sayang. Gabriel udah bangun?" tanya Sheina. Ia menggendong putranya itu dan membawanya masuk ke kamar.
"Udah dong, Biel juga udah mandi sama Opa." Gabriel mengedarkan pandangannya. Dilihatnya sang daddy yang mesih tertidur pulas. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sebelum ia meninggalkannya tadi malam. "Mommy kenapa kasulnya jadi hijau, tadi malem kan walna abu-abu," kata Gabriel yakin.
"Itu bukan hijau, Gab. Itu warna biru," balas Sheina. Wanita itu meletakkan Gabriel di kasur yang memang spreinya telah berganti warna.
"Bilu? Tadi malam nggak bilu walnanya. Apa Mommy ganti bial adiknya Biel cepet dateng?" tanya bocah itu makin penasaran.
"Adiknya belum dateng, makanya mommy ganti warna spreinya. Udah, Gabriel sama Daddy, mommy mau mandi dulu. Nanti kita ke rumah sakit jenguk Opa ya," kata Sheina sembari mencium gemas pipi Gabriel.
Sheina menuju kamar mandi, sedangkan Gabriel sibuk mengganggu ayahnya.
"Daddy bangun, Daddy bangun!" teriak Gabriel di telinga Bara.
Bara mengerjapkan mata, lalu tersenyum dan memeluk Gabriel.
"Anak daddy udah ganteng aja. Sini temenin daddy tidur!"
"Nggak mau. Biel mau pelgi sama Mommy ke lumah sakit, jenguk Opa."
"Biel di rumah aja sama Oma. Biar Daddy yang nemenein Mommy," kata Bara membujuk Gabriel.
__ADS_1
"Nggak mau, nanti Daddy makan Mommy lagi."
☕☕☕