
Bara sangat bahagia saat Sheina bersedia melayaninya. Meski Sheina dengan jujur mengatakan bahwa ia belum mencintai Bara, tapi setidaknya Sheina masih mau melakukan kewajibannya sebagai istri.
Bara mencium gemas istrinya yang sudah pasrah. Mau diapakan saja, Sheina akan menerimanya dengan ikhlas. Tentu saja, Bara semakin gemas dengan istrinya itu.
Bara sudah senyum-senyum kegirangan saat Sheina menerima uluran tangannya. Ia sudah tidak sabar ingin mencoba sensasi bermain di kamar mandi. Setiap kali bersolo karir, Bara memang selalu membayangkan jika ia bermain dengan Sheina di kamar mandi. Kalau biasanya bibit torpedo itu berceceran di kamar mandi, maka setelah menikah hal itu tidak boleh terjadi lagi.
Sangat disayangkan jutaan bibit premiumku berakhir mengenaskan. Gimana ya, rasanya main di kamar mandi?
Bara cekikikan di dalam hatinya. Buaya itu sudah sangat lapar dan ingin menerkam wanita yang masih abu-abu itu. Antara Ibu Kancil, atau Buaya betina, Sheina masih belum terlihat jelas.
Bara mendorong pelan tubuh Sheina yang kini berjalan di depannya. "Aku pengen coba banyak gaya di kamar mandi," bisiknya.
"Kenapa harus kamar mandi sih? Kenapa nggak di kamar Gabriel, atau di kamar bawah aja?" tanya Sheina heran.
"Imajinasiku udah kebayang-bayang kamar mandi, Sayang." Bara mendorong Sheina agar berjalan lebih cepat.
__ADS_1
Sheina membuka pintu kamar mandi, lalu Bara menutup pintu dan menguncinya setelah mereka masuk. Sheina memperhatikan sekeliling kamar mandi. Ruangan itu memang luas dan nyaman, tapi senyaman-nyamannya kamar mandi, pasti lebih nyaman di kamar dengan kasur yang empuk.
Saat Sheina masih memikirkan tempat mana yang pas untuk bercocok tanam, Bara tiba-tiba memeluknya dengan posesif. Laki-laki itu menciumi lehernya dari arah belakang. Tangan besarnya mendaki bukit dan memijatnya lembut.
Napas Bara yang berembus di telinga Sheina, membuat wanita itu terbawa arus gai*rah. Napasnya ikut memburu seiring dengan lincahnya lidah Bara yang bermain di lehernya.
Sheina menahan tubuhnya untuk tetap berdiri. Bara menyerangnya bertubi-tubi, seakan ingin melahapnya hidup-hidup.
Bara membalik posisi mereka, Sheina menghadap Bara dengan posisi bersandar di dinding kamar mandi. Kini, Bara mencium bibir Sheina dan melakukan segala hal yang membangkitkan gelora dalam diri Sheina. Sekian lama melakukan pemanasan, tiba saatnya torpedo Bara beraksi. Bagian tubuh yang dipenuhi otot itu sudah tegak sempurna, dan Bara siap mencoba posisi yang menurut Sheina aneh.
Bayangkan saja, Bara yang lebih tinggi dari Sheina mencoba memasukkan tor.pedonya ke dalam diri Sheina. Memang berhasil masuk sempurna, tapi baru beberapa kali gerakan, Bara sudah merasa pegal.
"Kenapa?" tanya Sheina saat merasa gerakan Bara semakin lambat.
Sekuat tenaga Bara berusaha menahan rasa pegal yang melandanya itu. Sheina yang melihat ekspresi Bara hanya bisa menahan tawanya, sembari menikmati gerakan Bara yang semakin lama semakin lambat.
__ADS_1
"Kalau nggak kuat ya udah sih, jangan maksa," ucap Sheina sambil terus menahan tawa.
"Sial banget, ternyata nggak sesuai ekspektasiku." Bara melepaskan tor.pedonya dari tubuh Sheina.
"Emang kamu bayanginnya gimana?" tanya Sheina yang kini sudah tertawa lepas. Buayanya kalah saat perang belum usai.
"Ya, kayaknya main di kamar mandi romantis gitu, taunya gini." Bara memegang tor.pedonya yang masih belum mengeluarkan isinya.
"Nggak mau nyoba di bathup?" tanya Sheina.
"Nggak deh, nanti nggak sesuai ekspektasi lagi. Mending kita main di kasur aja. Yang penting nggak berisik, Gabriel pasti nggak akan bangun." Bara memainkan alisnya naik turun.
Mau anu anu yang lebih hot, baca karya tamatku ini aja 😜😜
__ADS_1
☕☕☕