
Bara menggerutu kesal. Mondy sudah mengerjainya kali ini. Ia tahu, laki-laki itu hanya ingin mencuri kesempatan untuk bisa mendekati istrinya. Enak saja! Bara tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Nggak usah dibalikin. Anggap aja itu amal atau bonus buat Pak RT, biar nggak ngejar-ngejar istri orang lagi." Bara menyeringai, seolah mengejek Mondy karena rencananya gagal.
"Uang kas RT sudah banyak Pak Bara yang terhormat. Gajiku sebagai RT pun terlalu banyak untuk menerima amal," balas Mondy yang tetap sombong di depan Bara.
Bara menggertakkan giginya, ingin sekali ia meninju mantan pacar istrinya itu. Akan tetapi, ia tidak mau kalah adu mulut dengan Mondy. Ia pun membalas kata-kata Mondy. "Kalau emang uang kas RT sudah banyak, dan gajimu sebagai RT juga terlalu banyak, kenapa tadi mintanya dua juta, kenapa nggak satu juta? Awas ya, kalau mendekati istriku. Aku lengserkan kamu sebagai RT."
Mondy langsung memutar otak, rencananya untuk mendekati Sheina demi sebuah penjelasan sepertinya harus gagal. Saat Mondy masih berpikir logis, sebuah mobil berhenti di depan rumah Bara.
Bara sangat tahu itu mobil papanya. Tak lama, Papa Bara keluar dari mobilnya bersama Mama Viona.
"Bara, ada tamu kok nggak disuruh masuk?" tanya Mama Viona yang kini menghampiri putranya.
"Dia bukan tamu kok, Ma. Cuma minta iuran dan udah Bara kasih, bentar lagi juga pulang," jawab Bara.
"Oh, ya udah. Gabriel di dalam, 'kan?"
"Iya, Ma. Ada kok, sama Shein."
Mama Viona langsung masuk menemui cucunya. Beberapa hari tidak bertemu, pastinya Mama Viona sangat merindukan Gabriel.
__ADS_1
"Kayak kenal, Bar." Papa tidak jadi mengikuti Mama Viona ke dalam rumah karena merasa kenal saat melihat Mondy.
"Halo, Om. Saya Mondy Wijaya." Mondy memperkenalkan diri pada papa Bara.
"Ketua RT, Pa," sahut Bara.
"Oh, ketua RT. Papa pikir anaknya Mandala yang dulu pernah adu jotos sama kamu," kata papa sebelum menganggukkan kepala.
"Saya memang anaknya Mandala Wijaya Om, temen SMA-nya Bara yang pernah uji kekuatan dulu," sahut Mondy sambil terkekeh.
"Kok bisa?"
"Pa, Papa ke sini mau ketemu Gabriel? Masuk aja yuk, Pa. Urusan Bara sama dia udah kelar kok." Bara menarik tangan papanya, mengajak masuk ke rumah meninggalkan Mondy sendiri. "Nggak usah makasih, aku ikhlas kok," ucap Bara saat ia berbalik badan melihat Mondy yang akan melangkahkan kaki meninggalkan rumah Bara.
Bara dan papanya duduk, bergabung dengan mama dan Sheina juga Gabriel yang sedang pamer pada omanya, bahwa ia sudah bisa berhitung. Mama Viona sangat gemas dengan Gabriel. Mama langsung memangku cucunya.
"Oma, Biel pengen ikan besal kayak punya Opa."
"Ikan yang mana?" tanya papa panik. Jangan sampai ikan koi termahalnya yang diincar cucunya itu.
"Yang Dlagon, itu yang melah hitam, Biel mau itu," jawab Gabriel sambil senyum-senyum.
__ADS_1
Papa langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa, lemas sekali. Ikan kesayangannya yang harganya fantastis ternyata diincar oleh cucunya.
"Ikan apa sih?" tanya Sheina dengan berbisik pada suaminya. Ia penasaran karena mertuanya langsung lemas seketika.
"Ikan koi black dragon kayaknya, itu harganya milyaran," jawab Bara dengan berbisik juga.
"Ya ampun. Bisa gawat kalau nanti dibawa ke sini terus mati."
Benar juga. Bara terpaksa menggunakan otak cerdasnya untuk merayu Gabriel.
"Gab, ikan yang itu gampang mati loh, gimana kalau ikan lain aja. Opa punya ikan koi kupu-kupu, ada sayapnya," kata Bara yang membuat Gabriel tertarik.
"Ikan kupu-kupu, Dad?"
"Iya, bagus banget. Daddy udah lihat."
"Kalau yang itu boleh deh. Gabriel mau?" tanya papa. Ikannya mahalnya berhasil diselamatkan kalau Gabriel memang mau ikan yang dikatakan Bara.
"Mau deh, Biel lihat dulu, Opa."
"Nah, ikut Opa deh ke rumah Opa. Nanti sore Mommy sama daddy jemput," ucap Bara.
__ADS_1
Ayo Gab, mau ya. Biar daddy bisa bebas sepuasnya sama mommy kamu.
☕☕☕