Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 47


__ADS_3

Sheina menidurkan Gabriel di samping Bara. Bocah tiga setengah tahun itu terus bercelotrh tentang kegiatannya bersama sang kakek hari ini. Ia sangat antusias karena memiliki kakek yang sama-sama menyukai ikan. Gabriel bercerita sampai ia tertidur dengan sendirinya.


Bara melirik Sheina yang menatap Gabriel penuh cinta. Tatapannya terasa hangat sampai ke hati Bara.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Sheina yang menangkap basah tatapan Bara.


"Eh, nggak apa-apa sih. Kamu dulu nyusu*in Gabriel juga?" tanya Bara tanpa rasa malu.


Sheina melotot karena pertanyaan ajaib yang menurutnya sangat pribadi, apalagi Bara saat ini bukan siapa-siapanya.


"Kenapa emangnya? Kamu pengen lihat aku nyu*suin Gabriel?"


"Eh, nggak gitu, Shein. Aku cuma pengen tau aja kok. Daripada diem aja, 'kan?"


"Sampai dua tahun aja aku nyusu*innya," jawab Sheina.


Bara diam, ia sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa? Jangan bayangin yang aneh-aneh, deh." Sheina bangun dari posisinya, lalu membenarkan posisi tidur Gabriel yang dirasa kurang nyaman.


"Nggak kok, cuma inget-inget aja gimana rasanya dulu." Bara tersenyum membayangkan saat ia mencum*bu Sheina malam itu.


"Dasar omes!" Sheina memukul Bara dengan guling.


"Auw, sakit Shein. Aduh." Bara memegangi lengannya yang dipukul Sheina.


"Syukurin!" Sheina berdiri menyelimuti Gabriel, lalu turun dari kasur.


"Mau ke mana, Shein?"

__ADS_1


"Tidur!" Sheina mengambil bantal, lalu ia merebahkan tubuh di sofa.


"Nggak mau bobok sama aku aja?" tanya Bara.


"Ogah!" Sheina memejamkan mata, malas menanggapi Bara.


Bara memandangi Sheina yang lebih memilih tidur di sofa daripada di kasur bersamanya.


...****************...


Sheina terbangun dari tidurnya yang terasa nyenyak. Ada sesuatu yang aneh saat ia mulai tersadar.


Kamar Bara. Kasur? Semalam aku di sofa kenapa bisa di sini?


Sheina menyingkap selimut tebal yang menutup tubuhnya, takut jika Bara melakukan yang tidak-tidak padanya.


Sheina mengedarkan pandangan. Dilihatnya Gabriel yang masih terlelap di sampingnya. Tidak ada Bara di kasur itu. Lalu, mata Sheina menangka sosok yang tertidur pulas di sofa. Tanpa selimut, hanya memakai hoodie yang menutup kepalanya. Mata Sheina terfokus pada tangan Bara yang menelusup ke dalam celana trainingnya.


"Dasar cowok me*sum!" Sheina bangkit dan berjalan mendekati Bara.


Tidur di sofa pasti menyakitkan, apalagi saat ini Bara sedang sakit karena dipukuli papa Sheina.


"Bar, bangun!" Sheina menyentuh lengan Bara yang berotot.


Bara bergeming. Ia tetap menikmati tidurnya yang pulas. Sheina terus berusaha membangunkan Bara.


"Bara, bangun Bar. Pindah sana!"


Bara akhirnya mengerjap, ia melihat bayangan wajah Sheina yang membangunkan tidurnya.

__ADS_1


"Kamu nggak sakit tidur di sofa?" tanya Sheina saat Bara mulai duduk. Wanita itu ikut duduk di samping Bara.


"Sakit sih, tapi daripada kamu yang sakit mending aku yang sakit," jawabnya sambil memijat punggungnya yang terasa remuk.


Di mata Sheina, Bara yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan itu terlihat sangat sek*si.


"Pindah ke kasur sana!" perintah Sheina yang kini membantu Bara untuk berdiri.


"Kamu nggak nanya siapa yang gendong kamu ke kasur?" tanya Bara penasaran.


"Udah tau, nggak mungkin kalau Gabriel," jawab Sheina.


"Iyalah Shein. Mana bisa Gabriel ngelakuin hal romantis gitu." Bara kini bersandar di ranjang, di samping kanan Gabriel yang masih tertidur pulas.


"Hal bodoh sih. Udah tau sakit malah sok-sok an gendong aku. Tapi kamu nggak nyuri-nyuri kesempatan, kan, pas aku tidur?" Sheina melotot, mencurigai Bara yang mungkin saja melakukan hal buruk.


"Ya ampun nggaklah, Shein. Curigaan mulu."


"Kamu emang mencurigakan, Bar."


Ponsel Sheina berdering. Sebuah panggilan dari Keyla membuatnya menjawab panggilan itu.


"Ya, Key. Kenapa?" tanya Sheina.


"Papa masuk rumah sakit, Shein. Ini masih di UGD, kamu bisa ke sini nggak?"


🥀🥀🥀


__ADS_1


__ADS_2