
Setelah selesai drama opa dan cucu yang tidak rela ikannya digoreng, Bara dan Sheina berangkat ke kantor. Masih ada perasaan canggung di antara mereka, apalagi saat ini mereka hanya berdua, tanpa Gabriel.
"Nanti aku akan ke rumah orang tua kamu, sebaiknya kamu ikut, Shein." Bara membuka percakapan, karena sedari tadi mereka hanya diam di mobil yang masih berjalan ini.
"Papaku galak banget, Bar. Kamu beneran udah siap mental?" tanya Sheina. Dua mata indah itu menatap Bara dengan tatapan ragu. Bara belum pernah bertemu langsung dengan papa Sheina. Saat mereka bertemu nanti dan papa Sheina tahu bahwa Bara yang menghamilinya, pasti Bara akan dihajar habis oleh papanya.
"Sejak tahu aku punya Gabriel. Aku udah menyiapkan mentalku untuk menyelesaikan masalah ini dan bertanggung jawab, Shein." Bara meyakinkan Sheina bahwa semua akan baik-baik saja.
"Terserah kamu kau gitu. Ngomong-ngomong aku kerja apa nanti? Aku, kan, nggak bikin surat lamaran." Sheina sedikit bingung karena memang Bara hanya mengajaknya ke kantor tanpa persiapan yang matang, wawancara singkat misalnya.
Bara tersenyum gemas. "Kamu nggak perlu bikin lamaran gitu, Shein. Karena aku yang akan ngelamar kamu," jawabnya tidak serius. Sheina menatapnya sebal, sedangkan Bara tertawa karena respon Sheina itu.
Beberapa puluh menit berlalu, mereka akhirnya sampai di perusahaan milik Bara. Dengan gagahnya, Bara melangkahkan kaki memasuki gedung megah itu. Tangannya menggandeng tangan Sheina yang terasa dingin.
Beberapa karyawan memperhatikan mereka, sampai akhirnya Bara dan Sheina menghilang di dalam lift.
__ADS_1
"Aku aneh ya, Bar?" tanya Sheina yang seperti kehilangan rasa percaya dirinya.
"Kamu selalu cantik kok. Aku aja masih deg-degan terus deket-deket kamu," jawab Bara.
Pintu lift terbuka. Sheina memilih untuk mengabaikan Bara yang memang mulai aneh di mata Sheina.
Bara mengajak Sheina ke ruangannya, melewati Karin yang berdiri menyambut mereka. Sheina ternsenyum pada wanita dengan tinggi sempurna yang menata rambutnya dengan sangat rapi.
Tangan Bara masih menggenggam jemari Sheina sat mereka memasuki ruang kerja Bara.
"Aku kerja satu ruangan sama kamu?" tanya Sheina memastikan.
"Iya bener. Kamu tugasnya cuma bikinin aku kopi, siapin aku makan siang, temenin aku lembur. Udah itu aja," jawab Bara yakin.
Sheina melongo menatap meja putih dengan satu kursi yang terlihat masih baru, karena masih ada plastik pembungkus yang melekat.
__ADS_1
"Aku jadi pembantu kamu gitu, Bar?" Sheina meletakkan tasnya di meja. Lalu, ia mengecek isi meja yang kosong. Tidak ada komputer atau pun berkas-berkas yang akan menjadi pekerjaannya.
"Iya, anggap aja ini pelatihan sebelum jadi istriku," jawab Bara.
Sheina semakin yakin bahwa Bara memiliki karkater yang aneh. "Aku kuliah empat tahun, dan punya pengalaman kerja sebagai kepala divisi, terus kerja sama kamu cuma bikinin kopi sama makan siang?" tanyanya dengan mengangkat kedua tangan, memposisikan telapaknya ada di atas.
"Ya, kalau aku suruh kamu di rumah jagain Gabriel juga nggak akan mau, 'kan?" Bara bertanya balik. Ia mendekati Sheina, lalu berdiri tepat di depannya. "Kalau kamu bisa mijit, sekalian deh pijitin. Capek banget aku Shein." Bara memijat pundaknya, seolah meyakinkan Sheina bahwa ia memang kecapean.
Sheina mengambil napas berat. "Aku nggak bisa bayangin hidup aku kalau setiap hari ngadepin orang kayak kamu." Sheina keluar dari ruangan Bara, meninggalkan laki-laki yang kini menatap kepergiannya.
"Aku nggak akan biarin kamu jauh-jauh dari aku, Shein. Dengan cara ini, aku bisa menjerat kamu ke dalam hatiku." Bara tersenyum, membayangkan setiap harinya yang akan menyenangkan karena ada Sheina.
Kuliah mahal Bang, ujung-ujungnya bikinin kopi🥲 Sini deh kopi sama kembangnya buat aku aja 😍
🥀🥀🥀
__ADS_1